Langsung ke konten utama

#4 Learning

Semester 2 

LEARNING


A. Definisi Learning

            Belajar adalah ketika kita mempelajari sesuatu, ketika belajar bagaimana melakukan sesuatu. Belajar adalah setiap perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya membaca, menulis dan sebagainya serta belajar itu akan lebih baik jika subjek mengalami dan melakukannya (Sardiman, 2008). Belajar sebenarnya adalah proses mengingat, karena tanpa kemampuan mengingat, orang tidak dapat mempelajari apa pun.
            Tidak semua perubahan di raih dengan pembelajaran. Perubahan seperti bertambahnya tinggi badan atau ukuran otak adalah jenis perubahan lainnya yang dikendalikan oleh cetak biru genetik. Perubahan ini disebut pematangan yang disebabkan oleh biologi, bukan pengalaman. Misalnya, seorang anak yang belajar berjalan tidak hanya dilatih saja, melainkan anak-anak belajar karena sistem saraf, kekuatan otot, dan rasa keseimbangan telah mencapai titik di mana mereka dapat berjalan secara fisik.

B. Classical Conditioning

    1. Pavlov and the Salivating Dogs
            Pavlov meneliti anjingnya. Saat dibunyikan lonceng, anjing tidak merespons apa pun, lalu di lakukan percobaan setelah dibunyikan lonceng anjing diberi makan lalu anjing itu mengeluarkan air liur atau salivanya karena tergiur makanan, hal itu dilakukan berulang-ulang, sehingga ketika hanya dibunyikan lonceng saja tanpa diberi makan, anjing tersebut tetap mengeluarkan salivanya atau air liurnya. Jadi si anjing belajar, bahwa setiap lonceng dibunyikan maka dia akan diberi makan. Pavlov menemukan bahwa anjingnya mengeluarkan air liur ketika seharusnya tidak mengeluarkan air liur.  



    2. Elemen Classical Conditioning
Pavlov mengidentifikasi beberapa elemen classical conditioning, yaitu:
- Unconditioned Stimulus (UCS)
        Stimulus tak terkondisi atau unconditional stimulus (UCS) adalah rangsangan yang terjadi agar menghasilkan respons tak terkondisi atau unconditional response (UR). Pada penelitian Pavlov, makanan anjing merupakan stimulus tak terkondisi atau UCS.
- Unconditioned Response (UCR)
        Respons tak terkondisi atau unconditional response (UR) ini terjadi secara alami dan tidak dibuat-buat. Pada penelitian Pavlov, air liur anjing merupakan respons tak terkondisi atau UR.
- Conditioned Stimulus (CS)
        Stimulus terkondisi atau conditioned stimulus (CS) adalah rangsangan yang diberikan agar menghasilkan respons terkondisi atau conditioned respons (CR) setelah dikombinasikan/digabung dengan unconditioned stimulus (UCS). Pada penelitian Pavlov, makanan diberikan agar anjing mengeluarkan air liur. 
- Conditioned Response (CR)
        Respons terkondisi atau conditioned respons (CR) ini adalah tanggapan yang dipelajari saat conditioned stimulus (CS) terjadi.
- Neutral Stimulus (NS)
        Stimulus netral atau neutral stimulus (NS) merupakan suatu rangsangan yang tidak berpengaruh pada respons yang diinginkan sebelum pengkondisian. Metronom yang merupakan neutral stimulus (NS) didetakkan berkali-kali sebelum makanan diberikan. Setelah metronom dikombinasikan dengan makanan, maka anjing mengeluarkan air liur dan stimulus netral (NS) berubah menjadi stimulus terkondisi (CS).

    3. Prinsip-Prinsip Dasar Classical Conditioning
             Dalam Ciccarelli & White (2017), prinsip-prinsip dasar dari pengkondisian klasik ini kemudian dirumuskan oleh Pavlov dan peneliti yang lain, yaitu:
  • Stimulus generalization 
        Adalah kecenderungan untuk merespons rangsangan yang mirip dengan rangsangan awal saat conditioning. Misalnya, seorang anak pernah digigit oleh lebah sehingga di kemudian hari lebah akan menjadi conditioned stimulus bagi anak tersebut dikarenakan adanya stimulus generalization anak tersebut menjadi takut juga dengan serangga lainnya.
  • Stimulus discrimination 
        Ialah kecenderungan untuk merespons rangsangan yang berbeda dengan cara yang berbeda pula. Contohnya, anak yang takut dengan lebah tadi dihadapkan dengan capung. Awalnya ia merasa takut (karena dipengaruhi stimulus generalization) tetapi lama kelamaan ia tidak takut lagi dan memutuskan untuk memegangnya.
  • Extinction 
        Yaitu ketika adanya penghilangan salah satu unsur dalam proses pembelajaran (US) sehingga CR melemah. Pavlov menemukan bahwa anjing tidak akan mengeluarkan air liur ketika ia tidak memberikan makanan setelah membunyikan bel.
  • Spontaneous recovery 
        Yaitu ketika conditioned respons muncul kembali setelah menghilang. Hal ini dapat dilihat ketika seseorang yang takut mengendarai mobil harus berlatih sesering mungkin dengan tenang hingga rasa takutnya menghilang sedikit demi sedikit. 
  • Higher-order conditioning 
        Ialah classical conditioning yang muncul ketika neutral stimulus diasosiasikan dengan conditioned stimulus sehingga neutral stimulus berubah menjadi conditioned stimulus yang kedua. Contohnya, ketika classical conditioning telah tercapai, Pavlov mencoba untuk menambah rangsangan baru yaitu jentikan tangan. Setelah diulang berkali-kali, ditemukan bahwa anjing mengeluarkan air liur sebagaimana pada kondisi sebelumnya.

C. Operant Conditioning

1. Definisi Operant Conditioning
            Operant Conditioning atau pengondisian operan adalah proses pembelajaran yang melibatkan kesadaran (bukan refleks) subjek, respons yang diberikan dapat dikuatkan atau dilemahkan bergantung dengan konsekuensi yang didapatkan menguntungkan atau tidak menguntungkan. Operant conditioning adalah suatu proses yang mengaitkan antara respon atau tingkah laku dengan konsekuensi yang dihasilkan. Pada dasarnya operant conditioning memiliki prinsip yaitu, ketika suatu respon atau tingkah laku yang ditanggapi dengan keadaan dan konsekuensi yang memuaskan akan cenderung untuk dilakukan kembali. Hal ini disebut sebagai operant behavior.

2. Konsep Utama Operant Conditioning        
            Pada teori ini, terdapat empat macam konsekuensi yang dapat mempengaruhi tingkah laku, yaitu :
Positive reinforcement
        Positive reinforcement adalah konsekuensi menyenangkan yang diterima oleh seorang individu atas respon atau tingkah laku sesuai dengan harapan dan bertujuan untuk ditingkatkan. Contohnya, seorang anak melakukan kebaikan akan merasakan hati yang senang. Maka anak tersebut akan terdorong untuk melakukannya kembali untuk merasakan. 
Negative reinforcement
        Negative reinforcement adalah konsekuensi tidak menyenangkan yang diterima oleh seorang individu berdasarkan respon atau tingkah laku sesuai dengan harapan dan bertujuan untuk ditingkatkan. Contohnya, seorang anak sedang sakit akan minum obat secara teratur agar sakit tersebut hilang. Hal ini akan dilakukan kembali ketika anak tersebut kembali sakit. 
Positive punishment
        Positive punishment adalah konsekuensi tidak menyenangkan yang diterima oleh seorang individu atas respon atau tingkah laku yang tidak diharapkan dan bertujuan untuk dikurangi ataupun dihilangkan. Contohnya, seorang anak membuang sampah sembarangan, lalu gurunya. Teguran merupakan suatu hal yang dianggap tidak menyenangkan. Oleh karena itu, anak tersebut akan berhenti membuang sampah sembarangan. 
Negative punishment
        Negative punishment adalah konsekuensi menyenangkan yang diterima oleh seorang individu atas respon atau tingkah laku yang tidak diharapkan dan bertujuan untuk dikurangi ataupun dihilangkan. Contohnya, seorang anak yang dihukum karena tidak memakai atribut lengkap saat upacara, sehingga ia tidak dapat mengikuti kelas olahraga. Sementara itu, olahraga merupakan suatu hal yang menyenangkan baginya. Maka ia akan terdorong untuk memperbaiki kesalahan agar mendapatkan yang ia anggap menyenangkan tersebut.

            Ketika respon yang dihasilkan sesuai dengan target, anak tersebut dapat memberikan sebuah reward untuknya. Hal ini disebut sebagai reinforcement of successive approximation. Sebaliknya, jika respon tidak sesuai dengan target, maka dapat memberikan sebuah punishment agar lebih termotivasi. Hal ini disebut sebagai nonreinforcement of earlier response form.
            Punishment yang diberikan harus efektif. Terdapat beberapa cara yang dapat membuat punishment lebih efektif, yaitu :
1. Hukuman diberikan sesegera mungkin, 
2. Hukuman harus konsisten, 
3. Hukuman atas respon atau tingkah laku yang salah harus disertai dengan contoh respon yang benar.

D. Cognitive Learning Theory

    Tingkah laku seseorang tidak dapat dijelaskan hanya dengan melihat secara eksternal. Perilaku manusia dipengaruhi oleh keadaan internal yang tidak dapat terlihat. Teori belajar kognitif berarti manusia dalam bertindak dipengaruhi oleh motivasi, ekspetasi, persepsi, dan lainnya. Teori ini juga memaparkan bahwa saat belajar terjadi aktivitas internal seperti pemahaman, mengingat, memprediksi, dan menggali informasi. Proses berpikir tersebut merupakan proses berpikir tingkat tinggi seperti pemahaman, pengetahuan, pengantisipasian, ataupun pemanfaatan proses mental yang tinggi dalam mengelola informasi. 

1. Latent Learning
        Pembelajaran yang terpendam, hal ini dibuktikan oleh Edward Chace Tolman melalui penelitiannya kepada tiga kelompok tikus. Pada kelompok pertama setiap hari saat berhasil menemukan jalan keluar akan diberi reward berupa makanan, pada kelompok kedua tidak di beri makan sampai pada hari ke-10, dan kelompok terakhir tidak diberi reward sama sekali. Pada hari-hari awal sebelum kelompok kedua diberi reward hasil penelitian menunjukkan bahwasanya kelompok pertama selalu berhasil lebih awal dalam menyelesaikan maze-nya. 
        Perubahan signifikan terjadi setelah kelompok kedua diberi reward yang sama seperti kelompok pertama, kecepatan kelompok kedua seketika meningkat signifikan. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa tikus yang tadinya tidak diberi hadiah tetap melakuakan pembelajaran. Namun yang dipelajarinya belum ditunjukkannya sebelumnya karena ia merasa taka da alasan bagi saya untuk memperlihatkan pengetahuan saya. 

2. Cognitive maps
        Dari penelitian yang dilakukan oleh Tolman tadi dapat lagi kita simpulkan bahwa tikus yang tidak diberi reward sudah membentuk peta kognitif dikepalanya. Begitu juga dengan orang-orang yang berjalan menyusuri mall setelah berkali-kali mengelilinginya. Tanpa perlu diberi reward orang tersebut dapat mengetahui posisi took coklat meski ia belum pernah memasuki tokonya. 

3. Discovery learning
Pada discovery learning, terdapat suatu hal yang cukup memiliki peran besar “aha” moment momen di mana insight tiba-tiba muncul dikepala. Proses mental dalam memikirkan suatu cara yang berbeda untuk mencapai suatu hasil yang sama. Seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Kohler, di mana seekor simpanse yang berada di dalam kandang melakukan berbagai cara untuk dapat meraih pisang kesukaannya.


E. Observational Learning

    Pembelajaran observasional adalah pembelajaran perilaku baru dengan cara mengamati model yang diberikan, walaupun perilaku yang dicontohkan bisa diinginkan dan tidak diinginkan oleh si pengamat. Menurut Bandura, pembelajaran observasional adalah pembelajaran perilaku dengan mengamati orang lain (model), karena ketergantungan dengan mengamati orang lain maka ini termasuk fenomena sosial sehingga menurut cara pandangnya ini disebut pendekatan kognitif sosial dalam belajar

Eksperimen Bandura    
        Dalam penelitiannya, Bandura melibatkan boneka “Bobo” yang diletakkan di sebuah ruangan bersama beberapa anak dan seorang peraga. Peraga tersebut melakukan sejumlah aksi agresif, seperti menendang dan memukul boneka. Dia mengumpulkan beberapa orang anak. Setiap anak dimasukkan ke ruangan secara bergantian agar tidak terpengaruh oleh temannya. Dalam ruangan hanya ada satu anak dan satu model orang dewasa. Anak pertama dihadapkan dengan model yang agresif terhadap sebuah boneka, seperti memukul dengan palu, melempar, meninju, dan juga meneriaki boneka. Anak kedua dihadapkan dengan model yang tidak agresif terhadap boneka. Si model hanya bermain seperti biasa dengan boneka tersebut. Kemudian masing-masing anak ditinggalkan sendirian dalam ruangan tersebut bersama boneka. Anak pertama cenderung juga agresif terhadap boneka, sementara anak kedua bermain seperti biasa saja dan bahkan mengabaikan boneka tadi.
        Pada penelitian selanjutnya, setiap anak disuruh menonton tayangan orang yang memukuli boneka bobo. Di satu sisi si model dipuji atas perbuatannya, namun disisi lain model justru dihukum atas perbuatannya. Kemudian, Bandura melihat anak pertama tetap melakukan tindakan agresif terhadap boneka, sementara anak kedua tidak. Bandura mengatakan pada anak kedua bahwa ia akan diberi hadiah bila melakukan seperti yang dilakukan model pada boneka, barulah anak kedua mau memukul boneka. Kedua anak sama-sama menonton tayangan tetapi hanya anak pertama yang melihat model secara langsung yang mau melakukan tindakan agresif tanpa disuruh atau diminta. Bandura juga menemukan bahwa adanya hadiah dan hukuman juga mempengaruhi anak-anak untuk meniru tindakan model atau tidak.

Unsur-Unsur Pembelajaran Observasional
1. Attention. Untuk dapat mengamati aksi tertentu, subjek harus memperhatikan tindakan yang dilakukan peraga dengan fokus.
2. Memory. Subjek mengingat apa yang telah diamati dengan sebaik-baiknya. Saat hendak menirukan perilaku tersebut maka memori tersebut akan dipanggil kembali menjadi sebuah ingatan. Barulah kemudian individu dapat menirukan perilaku yang baru saja dipelajarinya.
3. Reproduce atau Imitation. Pengulangan aksi dapat menguji tingkat kemampuan subjek dalam mengingat aksi yang ditampilkan.
4. Desire. Tujuan atau motivasi berperan penting dalam mempengaruhi aksi yang dilakukan oleh subjek, sebagaimana terbukti pada penelitian Bandura. Misalnya, jika terdapat hukuman subjek cenderung enggan untuk melakukan aksi yang ditampilkan. Selain itu, subjek akan lebih termotivasi apabila peraga memiliki reputasi yang baik, menarik, dan dapat dipercaya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

#10 Psikologi Sosial

Semester 2   SOCIAL PSYCHOLOGY Psikologi sosial adalah ilmu tentang proses perkembangan intelektual atau mental manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, psikologi sosial mempelajari topik yang mencakup perilaku manusia dalam konteks sosial. Kemudian kondisi interaksi sosial tidak hanya dipengaruhi oleh proses psikologis tetapi juga oleh kondisi lingkungan.  SOCIAL INFLUENCE Conformity (Konformitas)           Konformitas adalah perubahan pilihan, perilaku, ataupun tindakan karena mengikuti pilihan atau perilaku orang lain ataupun standar yang berlaku. Menurut David O'sear dan Peplau (1985), konformitas adalah sikap dari suatu individu yang dipengaruhi oleh individu yang lainnya. Penelitian tentang konformitas dilakukan oleh Solomon Asch pada tahun 1951. Ia melakukan penelitian dengan meminta peserta berkumpul dalam satu ruangan dan mereka diberitahu bahwa penelitian dilakukan dengan visual. Disediakan sebuah garis standar dan tig...