Langsung ke konten utama

#10 Psikologi Sosial

Semester 2

 SOCIAL PSYCHOLOGY


Psikologi sosial adalah ilmu tentang proses perkembangan intelektual atau mental manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, psikologi sosial mempelajari topik yang mencakup perilaku manusia dalam konteks sosial. Kemudian kondisi interaksi sosial tidak hanya dipengaruhi oleh proses psikologis tetapi juga oleh kondisi lingkungan. 

SOCIAL INFLUENCE


Conformity (Konformitas)
        Konformitas adalah perubahan pilihan, perilaku, ataupun tindakan karena mengikuti pilihan atau perilaku orang lain ataupun standar yang berlaku. Menurut David O'sear dan Peplau (1985), konformitas adalah sikap dari suatu individu yang dipengaruhi oleh individu yang lainnya. Penelitian tentang konformitas dilakukan oleh Solomon Asch pada tahun 1951. Ia melakukan penelitian dengan meminta peserta berkumpul dalam satu ruangan dan mereka diberitahu bahwa penelitian dilakukan dengan visual. Disediakan sebuah garis standar dan tiga garis pembanding, mereka diminta untuk melihat dan menentukan salah satu garis pembanding yang sama persis dengan garis  standar. Diam-diam Solomon menjadikan beberapa asistennya sebagai peserta penelitian tersebut untuk menjawab jawaban yang salah. Hasil dari penelitian tersebut adalah peserta lainnya juga memberikan jawaban yang sama dengan asisten Solomon yang menjadi peserta juga. Kondisi seperti itulah yang disebut sebagai konformitas. 

Group Behavior (Perilaku Kelompok)
        Perilaku kelompok menunjukkan adanya pengaruh sosial antara konformitas dan saling pengaruh pemikiran anggota kelompok. Penilaian klasik Asch menunjukkan bahwa dalam kencan berkelompok terdapat banyak peluang individu untuk memengaruhi perilaku atau tindakannya sendiri. Pengaruh sosial dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan tugas tunggal dalam kelompok. Jika tugas dinilai sulit, kehadiran orang lain akan berdampak negatif terhadap kinerja. Pengaruh positif orang lain terhadap kinerja disebut sebagai fasilitasi sosial, sedangkan pengaruh negatif terkadang disebut sebagai gangguan sosial. 

Compliance (Kepatuhan)
        Kesepakatan terjadi ketika seseorang melakukan suatu hal yang diperintahkan oleh orang lain dimana orang yang memberi perintah tersebut tidak memiliki hak atau wewenang dalam memberikan perintah. Ada beberapa teknik yang digunakan seseorang untuk mendapatkan kepatuhan orang lain, yaitu sebagai berikut:
1. Teknik Foot-in-the-Door
            Teknik Foot-in-the-Door adalah teknik yang dilakukan ketika pemenuhan permintaan yang lebih kecil diikuti oleh permintaan yang lebih besar, seseorang cenderung menurut karena mereka telah menerima permintaan yang lebih kecil. Sebagai contoh, ketika tetangga kamu mau bepergian jauh mereka meminta kamu untuk mengawasi rumahnya, hal tersebut hanya permintaan kecil jadi kamu setuju. Tetapi ketika ditanya lagi maukah kamu menyirami tanamannya saat dia bepergian, kamu mungkin akan memenuhi permintaan kedua yang lebih besar ini. 

2. Teknik Door-in-the-Face
                Teknik Door-in-the-Face adalah kebalikan dari teknik foot-in-the-door, dimana teknik door-in-the-face ini dilakukan ketika permintaan lebih besar didahulukan yang biasanya akan ditolak, lalu diberikan permintaan kedua yang lebih kecil dan lebih masuk akal yang seringkali mendapat kepatuhan. Sebagai contoh, tetangga kamu meminta kamu untuk merawat peliharaannya seperti anjing dan kucingnya, dan kamu menolaknya, lalau tetangga kamu memberi permintaan untuk kamu merawat tanamannya, dan kemungkinan besar kamu menerimanya.

3. Teknik Lowball
                Teknik Lowball adalah teknik yang dilakukan dengan meningkatkan biaya komitmen setelah komitmen dibuat, maksud lainnya adalah dengan memberikan informasi tidak lengkap yang diikuti informasi lengkap setelahnya. Sebagai contoh, ketika mahasiswa disuruh berkumpul di aula tanpa memberi maksud da tujuannya, setelah mahasiswa terkumpul di aula baru setelah itu diberitahukan bahwa mereka dikumpulkan untuk imbauan pembayaran iuran.


Obedience (Ketaatan)
        Obedience atau ketaatan merupakan keadaan ketika seseorang melakukan suatu tindakan berdasarkan perintah dari orang lain yang memiliki wewenang untuk memberikan perintah tersebut.


SOCIAL COGNITION

    Social cognition atau kognisi sosial merupakan upaya individu untuk menganalisa, mengingat dan menggunakan informasi mengenai kejadian atau peristiwa-peristiwa sosial, dan bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku individu tersebut. Social cognition atau kognisi sosial dibagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:

Sikap (Attitudes)
        Sikap dapat berpengaruh terhadap tingkah laku dan persepsi orang lain. Sikap seseorang tidak di dapat dari ia dilahirkan melainkan dipelajari dari pengamalan dan interaksi dengan lingkungan sekitar. 

Komponen Sikap
  • Affective Component (Komponen Afektif)
                Komponen afektif disebut juga dengan komponen emosional. Komponen afektif adalah suatu komponen perasaan seseorang terhadap ide, objek, dan keadaan tertentu. Misalnya seseorang yang menyukai olahraga badminton karena dia merasa mudah  untuk melakukannya dan memiliki manfaat bagi tubuhnya.
  • Behavior Component (Komponen Perilaku)
                Komponen perilaku adalah tindakan seseorang terhadap ide, orang, objek atau kondisi tertentu. Misalnya seseorang menyukai olahraga badminton ia cenderung mempunyai raket sendiri, mengumpulkan informasi seputar badminton ataupun pergi untuk menonton pertandingan badminton.
  • Cognitive Component (komponen Kognitif)
                Komponen kognitif adalah bagaimana cara seseorang berpikir terhadap dirinya sendiri, ide objek atau suatu keadaan tertentu. Misalnya seseorang yang menyukai olahraga badminton karena ia menganggap badminton itu merupakan olahraga yang mempunyai keunggulan lebih banyak dibanding olahraga lain.


Pembentukan Sikap (Attitude Formation)
            Pembentukan sikap adalah suatu proses penggabungan dari beberapa hal atau aspek pengaruh yang berbeda yang memiliki satu kesamaan sebagai hasil dalam membentuk pembelajaran. Pembentukan sikap dibagi dalam beberapa cara, yaitu:
  • Direct Contact
                Pembentukan sikap dapat melalui kontak langsung dengan orang, objek, ide, atau situasi tertentu. Sebagai contoh, ketika anak mencoba sayuran wortel dan menurut dia tidak enak, anak tersebut akan menyamaratakan semua sayuran yang mirip dengan wortel itu tidak enak.
  • Direct Instruction
                Pembentukan sikap dapat melalui instruksi baik dari orang tua maupun orang lain. Sebagai contoh, orang tua mengatakan pada anak nya bahwa keluar malam itu bahaya bisa diculik, hal itu akan membentuk sikap anaknya dengan cara menghindari untuk keluar malam.
  • Interaction with Others
                Pembentukan sikap melalui interaksi dengan orang lain. Lingkungan sekitar dapat mempengaruhi pembentukan sikap seseorang. Sebagai contoh, jika lingkungan sekitar kita baik, maka kita akan mewarisi perilaku baik tersebut. Seperti ketika kita berteman denga orang yang suka berkata kotor, kita akan ikut suka berkata kotor.
  • Vicarious Conditioning
                Pembentukan sikap seseorang dapat dipelajari melalui pengamatan dari tindakan orang lain terhadap objek, orang, atau situasi tertentu. Sebagai contoh, ketika seorang ibu takut pada anjing, ketakutan tersebut juga terjadi pada anaknya karena anak tersebut mempelajari bahwa anjing itu harus ditakuti dengan sikap ibu nya.


Perubahan Sikap (Attitude Change)
            Karena sikap itu muncul akibat dipelajari, maka sikap dapat berubah dengan adanya pembelajaran baru. Ada beberapa faktor penting dalam upaya persuasif pada perubahan sikap, yaitu:
  • Sumber
                Komunikator adalah orang yang menyampaikan pesan. Ada kecenderungan yang kuat untuk memberikan bobot lebih kepada orang yang dianggap ahli, dapat dipercaya dan mirip dengan penerima pesan.
  • Pesan
                Pesan yang disampaikan harus jelas dan sistematis, dan akan lebih baik jika menyertakan kedua sisi argumen untuk audiensi yang belum memiliki posisi yang kuat.
  • Target Audiens
                Karakteristik orang yang menjadi sasaran pesan persuasif penting untuk efektivitas pesan yang biasanya terjadi pada masa remaja akhir atau dewasa awal.
  • Media
                Penting juga untuk mempertimbangkan media apa yang akan digunakan untuk menerima pesan. Misalnya, mendengarkan pidato di televisi dan membaca koran memiliki efek yang berbeda.


Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance)
            Disonansi kognitif adalah ketidaknyamanan emosional seseorang akibat terlibat dalam perilaku yang tidak konsisten dengan keyakinannya. Sebagai contoh, orang yang merokok tau jika merokok itu tidak baik dan merusak kesehatan, teteapi dia tetap merokok.


Pembentukan Kesan (Impression Formation)
        Pembentukan kesan atau impression formation terjadi apabila seseorang bertemu dengan orang lain untuk pertama kalinya, melalui itu seseorang akan membuat evaluasi dan penilaian terhadap orang yang pertama kali dijumpainya tersebut. Orang-orang biasanya mengumpulkan apa saja informasi yang diperoleh dengan memprediksi apa yang tampak, sering kali pada aspek fisiknya saja.

Social Categorization
Kategori sosial ini merupakan salah satu proses yang terjadi pada saat seseorang bertemu dengan orang baru, yaitu menempatkan orang tersebut ke dalam beberapa kategori atau kelompok. Biasanya kategori sosial ini terbentuk dengan sendirinya atau secara alami, namun terkadang dapat menimbulkan masalah. 

Implicit Personality Theories
Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang mengklasifikasikan orang lain berdasarkan sesuatu. Teori ini adalah seperangkat asumsi yang dimiliki orang tentang bagaimana orang yang berbeda, sifat kepribadian, dan tindakan terkait dan dibentuk selama masa kanak-kanak. 

Atribusi (Attribution)
        Atribusi adalah kesadaran sosial di mana seseorang merasa perlu untuk menjelaskan perilaku orang lain serta perilaku mereka sendiri. Atribusi adalah bagaimana kita membuat keputusan tentang seseorang. Misalnya, ketika seseorang baik atau buruk, kita membuat kesan (penilaian) ketika kita merasakan dan menggambarkan perilaku seseorang dan mencoba mencari tahu mengapa mereka berperilaku seperti itu. 

SOCIAL INTERACTION

Prasangka dan Diskriminasi (Prejudice and Discrimination)
        Prasangka adalah pandangan negatif terhadap kelompok sosial lain yang didasarkan atas alasan yang didasarkan atas alasan yang tidak relevan. Sedangkan diskriminasi adalah ketika prasangka mengakibatkan anggota kelompok sosial tertentu diperlakukan berbeda dari anggota kelompok lain dalam situasi yang menuntut perlakuan yang sama. Sebagai contoh, menganggap wanita sebagai kaum yang lemah merupakan prasangka, melainkan menghalangi wanita menjadi pemimpin hanya karena menganggap mereka lemah merupakan diskriminasi.
        Terdapat beberapa macam atau jenis dari prasangka dan diskriminasi, yaitu:
1. Ageisme (Ageism), merupakan bentuk prasangka dan diskriminasi berdasarkan umur atau usia.
2. Seksisme (Sexism), merupakan bentuk prasangka dan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin.
3. Rasisme (Racism), merupakan bentuk prasangka dan diskriminasi terhadap etnik, suku, dan ras berbeda. 

Cara Mengatasi Prasangka
        Ada satu cara untuk mengatasi prasangka dan itu adalah dengan memeriksa orang yang berbeda dari dirinya dalam banyak hal. Untuk belajar dari orang lain, seseorang harus kontak langsung dengan orang tersebut dan tidak memandangnya sebagai orang asing. Melalui pendidikan, seperti mempelajari orang lain mempunyai banyak perbedaan dengan diri kita dapat menerima dan menghargai perbedaan yang ada. Kontak antar kelompok dapat mengatasi prasangka dan diskriminasi apabila antar kelompok memiliki status dan kedudukan yang setara. Cara lainnya untuk mengatasi prasangka yaitu melalui "the jigsaw classroom", yaitu menciptakan situasi dimana individu diharuskan untuk bekerja sama secara kooperatif maka mereka akan bergantung satu sama lain hingga membentuk hubungan yang bersahabat.


Liking and Loving
        Menurut Cicarelli et al. (2007) ada beberapa faktor yang mempengaruhi apakah seseorang menyukai atau menginginkan suatu hubungan dengan orang lain.
lainnya termasuk:
a. Daya tarik fisik
Salah satu faktor yang membuat seseorang disukai orang lain adalah daya tarik fisik (kecantikan atau penampilan).
b. Kedekatan
Ketika seseorang secara fisik lebih dekat dengan orang lain, seperti belajar di sekolah yang sama atau tinggal di asrama yang sama, mereka lebih cenderung tertarik satu sama lain dan menjalin hubungan.
c. Kesamaan
Orang cenderung tertarik pada orang yang memiliki banyak kesamaan dengan mereka dalam sikap, kepercayaan, atau minat mereka.
d. Kualitas yang saling melengkapi
Ada pepatah lama, "berlawanan menarik". Beberapa orang memilih untuk mengembangkan hubungan dengan seseorang yang berbeda dari mereka sehingga mereka dapat saling melengkapi dan saling menguntungkan.
e. Saling menyukai
Seseorang memiliki kecenderungan yang lebih kuat untuk menyukai orang yang juga menyukainya. Ini disebut konsep preferensi bersama. 

Namun satu-satunya alasan seseorang tidak menyukai orang yang menyukainya adalah perasaan rendah diri yang membuat seseorang bergantung pada orang lain. Jika dia tidak menyukai dirinya sendiri, bagaimana orang lain bisa menyukainya? Ini membuat mereka tidak ramah dan menarik diri terhadap orang lain 


Robert Sternberg's Triangular Theory of Love
        Definisi cinta mengacu pada cinta keterikatan yang kuat dengan orang lain melalui kekerabatan, ketertarikan seksual, kekaguman atau minat dan ketertarikan bersama. Teori Robert Sternberg menjelaskan tiga komponen utama cinta dan perbedaan jenis cinta yang berasal dari ketiga komponen tersebut.  Menurut Sternberg, cinta terdiri dari tiga komponen dasar: kedekatan, gairah dan komitmen. Ini tentang kedekatan, tentang kebersamaan dengan orang lain, kedekatan tidak bersifat mental maupun fisik. Gairah mengacu pada kegembiraan emosional dan seksual yang dirasakan seseorang dengan orang lain. Pada saat yang sama, komitmen adalah keputusan yang dibuat seseorang tentang suatu hubungan. 




Aggression and Prosocial Behavior
        Agresi adalah tindakan menyakiti atau melukai orang lain, baik berupa kata-kata ataupun tindakan. Frustasi karena dicegah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan menjadi salah satu penyebab munculnya tindakan agresi. 

a. Pengaruh Biologi dan Pembelajaran terhadap Agresi
Ada banyak bukti pengaruh biologi terhadap tindakan agresi, contohnya kaitan antara testosteron dengan tingkat agresi pada pria. Ini dapat menjelaskan mengapa penjahat biasanya muda, laki-laki, dan berotot. Begitu juga dengan alkohol, secara biologis alkohol juga mempengaruhi neurotransmitter dan juga penurunan serotonin sehingga orang yang mengonsumsi cenderung tidak mengontrol perilaku mereka.

b. Kekuatan Peran Sosial
Selain frustasi, biologi, dan juga bahan kimia teryata ada faktor lain yang mempengaruhi agresi. Agresi juga dipengaruhi oleh peran sosial yang di emban oleh masing-masing individu. Contohnya pejabat yang tentunya akan menekan perilaku agresinya dan menampakan tingkah-tingkah yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Tingkat agresi juga bisa dipengaruhi oleh dimana dia berada, apabila berada di tempat umum maka orang cenderung untuk bertingkah sesuai norma masyarakat, namun ketika berada di tempat sepi bisa saja perilaku agresinya meningkat. 

c. Perilaku Proposial 
Salah satu perilaku proposial yang disukai orang-orang adalah altruism, yaitu tindakan membantu seseorang tanpa mengharapkan imbalan dan terkadang tanpa rasa takut akan keselamatan diri sendiri. Sebelum membantu orang lain tentunya orang tersebut perlu mengamati terlebih dahulu. Ada sebuah teori yang dinamakan efek pengamat yaitu kemungkinan pengamat untuk membantu orang lain semakin kecil ketika jumlah pengamat semaki banyak. Ketika terjadi sebuah peristiwa dan hanya ada satu pengamat di sana, tentunya sang pengamat tersebut akan langsung menolong. 




















Komentar

Postingan populer dari blog ini

#4 Learning

Semester 2  LEARNING A. Definisi Learning               Belajar adalah ketika kita mempelajari sesuatu, ketika belajar bagaimana melakukan sesuatu. Belajar adalah setiap perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya membaca, menulis dan sebagainya serta belajar itu akan lebih baik jika subjek mengalami dan melakukannya (Sardiman, 2008). Belajar sebenarnya adalah proses mengingat, karena tanpa kemampuan mengingat, orang tidak dapat mempelajari apa pun.               Tidak semua perubahan di raih dengan pembelajaran. Perubahan seperti bertambahnya tinggi badan atau ukuran otak adalah jenis perubahan lainnya yang dikendalikan oleh cetak biru genetik. Perubahan ini disebut pematangan yang disebabkan oleh biologi, bukan pengalaman. Misalnya, seorang anak yang belajar berjalan tidak h...