Langsung ke konten utama

Review Materi Pertemuan Ke-5

Review Materi Psikologi Umum 1
Pertemuan Ke-5

 Emprisme, Sensasionalisme, dan Positivisme


A. EMPIRISME

Istilah empirisme diambil dari bahasa Yunani, yakni empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Empiris juga berarti dapat dibuktikan atau diverifikasi berdasarkan pengalaman, pengamatan, percobaan atau data yang sesuai kenyataan atau sesuai fakta yang ada.

Jadi, sebuah data yang empiris memiliki arti bahwa data tersebut didasarkan pada penelitian, observasi ataupun eksperimen yang telah dilakukan, sehingga kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. 


1. Thomas Hobbes

Empirisme Menurut Hobbes adalah ide yang muncul dari pengalaman semata-mata atau lebih khusus dari pengalaman indrawi.


2. John Locke

Empirisme menurut Locke adalah suatu situasi yang diibaratkan seperti sebuah kertas putih yang selanjutnya memperoleh isinya dari pengalaman yang dijalani oleh manusia itu.

Pendapat John Locke adalah bahwa rasio manusia hanya berfungsi untuk mengolah pengalaman-pengalaman manusia menjadi pengetahuan sehingga sumber utama pengetahuan menurut Locke adalah pengalaman.


3. George Berkeley

Menurut Berley Empirisme adalah substansi yang bersifat materiil itu tidak ada sama sekali, yang ada hanyalah ciri-ciri yang dapat diamati. Untuk Berkeley apapun yang dapat dirasakan melalui indra (warna,kekerasan dan bau dll) adalah ide-ide atau sensasi yang tidak dapat eksis tanpa dirasakan.


4. David Hume

David Hume lahir pada tanggal 26 April di Edinburgh. Pada masa ini, aliran empirisme mencapai puncaknya. Hume dijuluki sebagai skeptis sejati. Hume memiliki tujuan mengombinasikan filosofi empiris pendahulunya dengan prinsip ilmu pengetahuan Newton untuk menciptakan ilmu pengetahuan mengenai sifat manusia. 

Menurutnya, metafisika bersifat sangat tidak pasti dan melebih-lebihkan akal budi manusia. Hume membedakan ide atas ide sederhana dan ide kompleks. Saat ide muncul dalam pikiran, maka dapat disusun ulang ke dalam berbagai bentuk secara tak terbatas oleh imajinasi.

3 Hukum Asosiasi Ide :

  • Law of Resemblance
  • Law of Contiguity
  • Law of Cause and Effect

2 Jenis Pengetahuan :

  • Demonstratif
  • Empiris


5. James Mill

James Mill lahir pada tanggal 6 April, di Skotlandia. Mill berusaha untuk menunjukkan bahwa pikiran hanya terdiri dari sensasi dan akal yang saling berkaitan satu sama lain secara berdampingan.

Mill berpendapat bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi asosiasi :

a. Kejelasan, semakin jelas hubungan antara sensasi dan pikiran, maka bentuk asosiasi tersebut akan lebih kuat daripada kejelasan sensasi dan pikiran lainnya yang lebih kabur.

b. Frekuensi, semakin banyak frekuensi antara pasangan sensasi dan pikiran, maka bentuknya akan lebih kuat dibandingkan dengan pasangan yang lebih sedikit frekuensinya.


6. John Stuart Mill

J.S. Mill beranggapan bahwa setiap ide baru yang sederhana dan sensasi sama sekali tidak dapat diturunkan, karena setiap ide baru akan muncul seiring terjadinya pengalaman, beremansipasi dari mekanika batas-batas kaku associationistic psikologi.

J.S. Mill melihat ilmu alamiah manusia sama dengan tidologi atau astronomi. Pemikiran, perasaan, dan aksi individu tak dapat diprediksi dengan akurasi tinggi karena kita tak dapat meramalkan keadaan pada masing-masing individu.


7. Alexander Brain

Alexander Bain lahir pada Oktober 1811 di Skotlandia. Bain adalah seorang kontemporer dari psikolog besar pertama di Jerman dan mendikiran link ke teori mereka tentang hubungan erat antara proses fisiologis dan psikologis dalam kerangka kemudian lazim paralelisme psiko-disik dan emipirisme.


B. SENSASIONALISME

Berasal dari kata latin Sensatio yang berarti Merasa atau Mencerap. Aliran Sensasionalisme merupakan salah satu bentuk dari empirisme yang menegaskan bahwa semua pengetahuan pada akhirnya diperoleh dengan cara sensasi-sensasi.


1. Pierre Gassendi

Pierre Gassendi adalah seorang filsuf Perancis, penulis sejarah ilmiah, pengamat, dan pencoba, sarjana teks-teks kuno dan perdebatan, serta peserta aktif dalam pembahasan kontemporer paruh pertama abad ketujuh belas. Gassendi mendiskusikan mengenai insting binatang serta intelegensi. Gassendi menentang teori perilaku binatang oleh aristoteles serta kartesi. Dimana pada pandangannya, ia berpedapat bahwa tiap jiwa hewani diberkati Tuhan dengan perilaku untuk melestarikan individu dan keturunannya. Gassendi menyimpulkan bahwa manusia bukanlah apa-apa melainkan sebuah zat atau hal dan dapat dipelajari dan dipahami layaknya seperti hal lain dialam ini. 


2. Julien de La Mettrie

Julien de La Mettrie merupakan seorang dokter dari Prancis, dan sekaligus menjadi seorang filusuf. Ia lahir pada tanggal 25 Desember 1709.Julien de La Mettrie merupakan orang pertama yang menyatakan bahwa “Anda adalah apa yang Anda makan”

Adapun faktor-faktor yang memengaruhi kecerdasan menurut pernyataan La Mettrie :

a. Ukuran otak

b. Kerumitan otak

c. Pendidikan

La Mettrie merupakan tokoh yang memandang manusia dan segala yang ada di alam semesta sebagai mesin.

Human and Non-human Animal Differ Only in Degree : La Mettrie berpendapat bahwa hewwan dapat diajarkan bahasa dan bisa menyamai manusia dalam berbagai aspek. 


3. Etienne Bonnot de Condillac

Etienne Bonnot de Condillac adalah salah satu filsuf Prancis, yang dikenal terutama karena pengembangan doktrin “sensasionisme”.

Condillac juga menyebutkan bahwa kekuatan batin seseorang merupakan sensasi saja. Condillac berpendapat bahwa binatang merupakan suatu mesin. Ia juga mengungkapkan bahwa suatu sensasi dapat dirasakan melalui pengalaman seseorang yang muncul akibat rangsangan aksi suatu objek. Condillac mengatakan bahwa keseragaman kebutuhan naluriah didasari pada anatomi serta kebutuhan yang sama untuk bertahan hidup. Ia juga berpendapat bahwa motif perilaku pada hewan lebih dapat terbukti daripada manusia karena manusia memiliki lebih banyak variasi. 


4. Calude Adrien Helvetius

Calude Adrien Helvetius lahir pada 25 Januari 1715, di Paris dalam sebuah keluarga dokter. Menurut Helvetius, segala macam keterampilan sosial, kejeniusan, dan juga perilaku moral dapat diajarkan kepada manusia melalui sebuah kendali dari pengalaman. 

Untuk Helvetius orang yang benar-benar saleh adalah mereka yang menemukan kesenangan – bukan hanya kewajibannya – dalam bekerja untuk kebaikan bersama. Sebagian besar agama, ia memegang, yang efektif dan menawarkan dasar munafik moralitas. Dalam ilmu ekonomi ia menelusuri ketidakbahagiaan manusia dan bangsa untuk distribusi kekayaan.


C. POSITIVISME

Positivisme merupakan filsafat awal dan dasar munculnya ilmu pengetahuan yang hadir sebagai kritik atas pemahaman yang populer pada abad pertengahan yaitu sebuah pemahaman metafisika. Comte menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa melampaui fakta sehingga positivisme benarbenar menolak metafisika.


1. August Comte

Comte menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa melampaui fakta sehingga positivisme benarbenar menolak metafisika.August Comte lahir di kota Montpellier, Prancis, tumbuh pada periode kekacauan politik besar setelah Revolusi Prancis 1789–1799.

Pada tahun 1817, Comte bertemu dengan filsuf sosial Henri de Saint-Simon (1760–1825). Filsuf tersebut adalah sosok yang mengubah Comte dari seorang pendukung setia kebebasan dan kesetaraan menjadi pendukung pandangan masyarakat yang lebih elitis.Tahun 1826, Comte mulai memberikan kuliah di rumahnya tentang filsafat positivis yaitu, upaya untuk menggunakan metode ilmu fisika untuk menciptakan ilmu sejarah dan perilaku sosial manusia. Antara 1830 dan 1842, beliau menghabiskan waktunya terutama untuk menulis enam volume karyanya. 

Salah satu karyanya yaitu Cours de Philosophe Positive (The Course of Positive Philosophy, 1830–1842), berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh filsuf-feminis Harriet Martineau (1802–1876) pada tahun 1853.Tidak lama setelah tahun 1844, ia mulai menulis Système de Politique Positive (Sistem Politik Positif), di mana Comte memperkenalkan agama kemanusiaan yang dianutnya. Menurut Comte, satu-satunya hal yang dapat kita yakini adalah hal yang dapat diamati secara public, yaitu pengalaman indra yang dapat dibagikan dengan individu lain.


Hukum Tiga Tahap

Menurut Comte, masyarakat melewati tahap-tahap yang ditentukan dalam hal cara anggotanya menjelaskan peristiwa alam.

a. Teologis, Berdasarkan pada Takhayul dan mistisisme

b. Metafisik, Berdasar pada esensi, prinsip, penyebab, atau hukum yang tidak terlihat.

c. Ilmiah, Aliran Positivisme mulai diterima


KESIMPULAN

  • Empiris memiliki arti dapat dibuktikan atau diverifikasi berdasarkan pengalaman, pengamatan, percobaan atau data yang sesuai kenyataan atau sesuai fakta yang ada.
  • Sensasionalisme adalah salah satu bentuk dari empirisme yang menegaskan bahwa semua pengetahuan pada akhirnya diperoleh dengan cara sensasi-sensasi. 
  • Postivisme adalah Sebuah doktrin yang menyatakan bahwa hanya fenomena natural atau fakta yang dapat di observasi secara objektif


Komentar

Postingan populer dari blog ini

#10 Psikologi Sosial

Semester 2   SOCIAL PSYCHOLOGY Psikologi sosial adalah ilmu tentang proses perkembangan intelektual atau mental manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, psikologi sosial mempelajari topik yang mencakup perilaku manusia dalam konteks sosial. Kemudian kondisi interaksi sosial tidak hanya dipengaruhi oleh proses psikologis tetapi juga oleh kondisi lingkungan.  SOCIAL INFLUENCE Conformity (Konformitas)           Konformitas adalah perubahan pilihan, perilaku, ataupun tindakan karena mengikuti pilihan atau perilaku orang lain ataupun standar yang berlaku. Menurut David O'sear dan Peplau (1985), konformitas adalah sikap dari suatu individu yang dipengaruhi oleh individu yang lainnya. Penelitian tentang konformitas dilakukan oleh Solomon Asch pada tahun 1951. Ia melakukan penelitian dengan meminta peserta berkumpul dalam satu ruangan dan mereka diberitahu bahwa penelitian dilakukan dengan visual. Disediakan sebuah garis standar dan tig...

#4 Learning

Semester 2  LEARNING A. Definisi Learning               Belajar adalah ketika kita mempelajari sesuatu, ketika belajar bagaimana melakukan sesuatu. Belajar adalah setiap perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya membaca, menulis dan sebagainya serta belajar itu akan lebih baik jika subjek mengalami dan melakukannya (Sardiman, 2008). Belajar sebenarnya adalah proses mengingat, karena tanpa kemampuan mengingat, orang tidak dapat mempelajari apa pun.               Tidak semua perubahan di raih dengan pembelajaran. Perubahan seperti bertambahnya tinggi badan atau ukuran otak adalah jenis perubahan lainnya yang dikendalikan oleh cetak biru genetik. Perubahan ini disebut pematangan yang disebabkan oleh biologi, bukan pengalaman. Misalnya, seorang anak yang belajar berjalan tidak h...