PERKEMBANGAN AWAL PSIKOLOGI MODERN
A. Pengertian Psikologi
Psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu, psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi dapat dikatakan bahwa Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
Pengertian Psikologi Menurut Para Ahli
- Singgih Dirgagunarsa, Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.
- Plato dan Aristoteles, Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.
- Wilhelm Wundt, Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti perasaan panca indera, pikiran, merasa (feeling) dan kehendak
Dapat disimpulkan bahwa Pengertian psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari semua tingkah laku individu yang tidak dapat dilepaskan dari proses lingkungan dan yang terjadi dalam diri individu tersebut. Apa yang terjadi dalam diri pribadi tersebut disebut sebagai proses mental.
B. Perkembangan Psikologi Modern
Perkembangan psikologi dapat dibagi dalam dua tahap, yaitu masa sebelum dan masa sesudah menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Pada tahun 1879 adalah tahun yang sangat penting dalam sejarah psikologi. Pada tahun inilah Wundt mendirikan laboratorium psikologi yang pertama kali di Leipzig, Jerman yang dianggap sebagai pertanda berdiri sendirinya psikologi.
C. Tokoh-tokoh Psikologi Modern
1. Wilhelm Maximilian Wundt ( 1832–1920)
Seorang ahli fisiologi Jerman yaitu Wilhelm Maximiliam Wundt, beliau dilahirkan pada 16 Agustus 1832 di Neckarau, Baden, Jerman dan wafat pada 31 Agusutus 1920 pada usia 88 tahun.Wundt juga merupakan seseorang yang mendirikan laboratorium psikologi pertama. menyunting jurnal pertama, dan yang pertama kali memulai sebuah eksperimen psikologi sains.
Menurut Wundt, ada dua tipe dasar pengalaman mental yaitu sensasi dan perasaan. Sensasi dapat dijelaskan dalam istilah modalitas ( visual, auditori, rasa) dan intensitas ( seperti seberapa keras stimulus pendengaran). Dalam suatu modalitas, suatu sensasi dapat dianalisis lebih lamjut kedalam kualitas. Misalnya: Sensasi visual dapat dijelaskan dalam istilah hue (warna) dan saturasi (kekayaan warna). Sensasi pendengaran dapat dijelaskan dalam istilah nada dan tumbre (kepenuhan nada). Sensasi rasa dapat dijelaskan dalam istilah tingkat rasa asin, asam pahit dan manis.
Menurut Wundt, persepsi adalah proses pasif yang diatur oleh rangsangan fisik saat ini, susunan anatomi individu, dan pengalaman masa lalu individu. Ketiga pengaruh ini berinteraksi dan menentukan bidang persepsi individu pada waktu tertentu.
Wundt merupakan salah satu penganut strukturalisme dalam psikologi. Menurut Mandler (2018) beliau dikenal sebagai penganut strukturalisme karena beliau mengemukakan suatu teori yang menguraikan struktur dan jiwa.
Metode yang digunakan adalah instrospeksi/elemen mawas diri. Beliau mempelajari elemen-elemen dasar dari kehidupan mental seseorang. Melaui metode instropeksi dimana metode ini ditujukkan pada satu individu yang diminta untuk melakukan suatu kegiatan.
Wundt merupakan Voluntier (sukarela), maksudnya semua manusia ini mempunyai tujuan masing masing, mempunyai arah dan pilihan. Contohnya saat kita sedang belajar Psium, jika tujuan kita ingin mengerti, maka pilihan kita yaitu fokus dan memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan. Semuanya bergantung pada diri kita sendiri.
Tujuan Psikologi
Wundt percaya bahwa psikologi sebenarnya telah menjadi ilmu eksperimental.
Proses mental dasar dapat diungkapkan melalui eksperimen. Tetapi proses mental kompleks tidak dapat dilakukan dengan eksperimen, melainkan dengan cara instropeksi dan pengalaman langsung.
Eksperimen Wundt : dilakukan pada pendulum, saat fokus pada suara pendulum, bisa tidaknya kita juga dapat fokus ke yang lain. Yang didapatkan adalah kita tidak bisa memfokuskan diri ke kedua sensasi.
Tridimensial (teori perasaan 3 dimensi)
Dari introspeksinya sendiri, menurut Wundt setiap perasaan dapat dijelaskan dalam istilah:
- kesenangan-tidak menyenangkan
- kegembiraan-ketenangan
- relaksasi-ketegangan
2. Edward Bradford Titchener (1867-1927)
Edward Bradford Titchener lahir pada tanggal 11 Januari di Chichester, Inggris. Titchener adalah anggota piagam American Psychological Association (APA) pada tahun 1904 ia mendirikan organisasinya Experimentalists," Baginya, Psikologi adalah psikologi eksperimental "dan segala sesuatu yang mendahului versinya tentang psikologi bukanlah psikologi sama sekali" Titchener menentang mencari informasi psikologis untuk nilai terapannya.
Tujuan Psikologi
Titchener setuju dengan Wundt bahwa psikologi harus mempelajari pengalaman langsung yaitu, kesadaran. Kesadaran sebagai jumlah total pengalaman mental pada saat tertentu dan pikiran sebagai akumulasi pengalaman seumur hidup. membuat katalog elemen mental dasar yang menjelaskan semua pengalaman sadar. Titchener hanya mencari menggambarkan pengalaman mental.
Menerima positivisme Ernst Mach, percaya bahwa spekulasi tentang peristiwa yang tidak dapat diamati tidak memiliki tempat dalam sains Titchener berfokus pada peristiwa sadar yang dapat diamati (melalui introspeksi). Pada tahun 1899 Titchener mendefinisikan tujuannya strukturalisme sebagai menggambarkan kehidupan mental.
Titchener’s Use Of Introspection
Subjek Titchener harus mencari unsur unsur pengalaman mereka Titchener ingin subjeknya untuk melaporkan sensasi, bukan persepsi Ia menemukan bahwa membiarkan introspeksionis yang tidak terlatih untuk menggambarkan fenomenologis mereka secara sederhana pengalaman bisa menjadi sumber informasi yang penting.
3. Franz Clemens Brentano (1838-1917)
Brentano lahir pada 16 Januari 1838 dan wafat pada 17 Maret 1917 di Marienberg am Rhein, Jerman, beliau merupakan keturunan dari keluarga intelektual Jerman Italia yang sangat religius (pamannya Clemens Brentano dan bibinya Bettina von Arnim adalah salah satu penulis romantisme Jerman yang paling penting dan saudaranya Lujo Brentano menjadi ahli terkemuka dalam ekonomi sosial). Brentano adalah seorang filsuf jerman , psikolog dan pastor katolik yang sangat berpengaruh di Jerman. Prinsip utama filsafat Brentano, yang harus diterima secara luas di kalangan siswa Brentano, adalah bahwa filsafat harus dilakukan dengan cara yang ketat dan ilmiah. Menurutnya, filsafat harus dilakukan dengan metode yang tepat seperti metode yang digunakan dalam ilmu pengetahuan.
Brentano memuat 2 cara dalam mempelajari Tindakan mental, yaitu:
1. Melalui memori/ingatan, dimana mengingat proses mental yang terlibat dalam kondisi keadaan tertentu.
2. Melalui imajinasi, Mengimajinasikan suatu kondisi mental yang terjadi kemudian bisa melakukan observasikan proses mental yang menyertainya.
4. Carl Stumpf (1848-1936)
Carl stumpf belajar bersama Brentano. Ketertarikan utama stumpf adalah musik dan penelitiannya akhirnya membuatnya mendapatkan reputasi dalam audisi yang menyaingi Helmholtz. Karyanya yang paling berpengaruh adalah volume kedua Psychology of Tone (1883 and 1890). Stumpf mendirikan laboratorium psikologi di Universitas Berlin yang merupakan pesaing serius Wundt di Leipzig. Di laboratorium Stumpf, bekerja terkonsentrasi pada persepsi ruang dan audisi.
Seperti Brentano, Stumpf berpendapat bahwa peristiwa mental harus dipelajari sebagai unit yang bermakna, sama seperti yang terjadi pada individu, dan tidak boleh dipecah untuk analisis lebih lanjut. Dengan kata lain, untuk Stumpf, objek studi yang tepat untuk psikologi adalah fenomena mental, bukan elemen sadar. Ini sikap mengarah pada fenomenologi yang menjadi landasan sekolah psikologi Gestalt kemudian.
5. Oswald Kulpe (1862-1915)
Kulpe dilahirkan pada 3 Agustus 1862 dan wafat pada 30 Desember 1915. Kulpe merupakan seorang Psikolog dan filsuf Jerman yang mendirikan Sekolah Psikologi Würzburg.
Kulpe menulis sebuah buku pengantar berjudul “ Outline of Psychology” tahun 1893 dan mendedikasikannya untuk Wundt. Dalam buku tersebut, Kulpe mendefinisikan psikologi sebagai sesuatu pengalaman fakta terhadap orang yang mendapatkan kejadian tersebut.
Kulpe tidak setuju dengan pendapat Wundt bahwa semua pemikiran harus memiliki bentuk yang spesifik, seperti sensasi, bentuk, atau perasaan. Kulpe percaya bahwa beberapa pemikiran tidak memiliki bentuk. Dalam buku tersebut, Kulpe juga menjelaskan psikologi sebagai sesuatu pegalaman fakta terhadap orang yang mendapatkan kejadian tersebut.
6. Edmund Gustav Husserl (1859-1938)
Husserl dilahrikan pada 8 April 1859 dan wafat pada 27 April 1938. Beliau merupakan seorang filsuf Jerman dan dikenal sebagai Bapak Fenomenologi.
Beliau menerima konsep intensionalitas Brentano, menurutnya Tindakan mental berfungsi sebagaimana dampak dari suatu impuls yang ada di luar diri individu. Husserl berpikir bahwa eksperimen psikologi yang menjadikan ilmu alam sebagai patokan adalah hal yang salah. Beliau memilki tujuan menciptakan taksonomi pikiran.
Menurut Husserl, tidak masuk akal apabila melakukan suatu eksperimen yang melibatkan proses seperti memori, perspesi atau penilaian tanpa terlebih dahulu mengetahui apa esesnsi dari proses tersebut.
Menurutnya, pikiran harus dipahami terlebih dahulu sebelum kita mempelajari bagaimana pikiran merespon objek eksternal.
Tujuan Husserl
Tujuan Husserl adalah menciptakan taksonomi pikiran. Dia ingin menggambarkan esensi mental yang dengannya manusia mengalami dirinya sendiri, manusia lain, dan dunia. Husserl percaya dengan kuat bahwa deskripsi esensi semacam itu harus mendahului setiap upaya untuk memahami interaksi antara manusia dan lingkungannya dan setiap ilmu psikologi.
7. Hans Vaihinger (1852)
Vaihinger berpendapat bahwa karena sensasi adalah satu-satunya yang dapat kita yakini, semua referensi ke realitas fisik yang disebut harus bersifat fisik. Semua kehidupan bermasyarakat didasarkan pada fungsi-fungsi yang hanya dapat dievaluasi dari segi kegunaannya. Fisik Vaihinger dibedakan dari pragmatisme karena, bagi para pragmatis, sejauh mana suatu gagasan berguna juga dianggap benar. Akan tetapi, bagi Vaihinger, gagasan sering kali terbukti salah tetapi masih berguna.
8. Hermann Ebinghaus (1850-1909)
Ebbinghaus, seperti anggota sekolah Würzburg, menunjukkan bahwa Wundt salah dalam mengatakan bahwa proses mental yang lebih tinggi tidak dapat dipelajari secara eksperimental. Menggunakan materi yang “tidak masuk akal” , Ebbinghaus secara sistematis mempelajari pembelajaran dan memori dengan sangat teliti sehingga kesimpulannya masih dikutip dalam teks psikologi. Diantara penemuan beliau yang paling terkenal adalah kurva lupa, kurva belajar dan efek jarak. Ebbinghaus mempublikasikan hasil ciptaannya ke dalam sebuah monografi berjudul "Uber and Gedachtnis" tahun 1855 yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa inggris sehingga menjadi " Memory: An Investigation in Experimental Psychology".
Komentar
Posting Komentar