Langsung ke konten utama

#3 Sensasi dan Persepsi

 Semesters 2

SENSASI DAN PERSEPSI


A. Sensation

  • Tranduksi adalah suatu proses mengubah rangsangan dari luar seperti cahaya menjadi aktivitas saraf. 
  • Sensasi adalah suatu proses yang terjadi ketika reseptor khusus seperti indra (mata, telinga, hidung, kulit, dan pengecap) dalam menangkap stimulus dalam penerimaan informasi dan menerjemahkan dalam sinyal sinyal yang memiliki makna.
  • Reseptor sensorik adalah suatu organ yang dapat menerima stimulus dan menyampaikan informasi ke otak. Contoh dari reseptor sensorik adalah panca indra (mata, telinga, hidung, kulit, dan penegcap).

Ambang batas mutlak (JnD) adalah batas minimum agar kita dapat merasakan perbedaan dari dua stimulus yang dirasakan.

Sensory Habitation adalah  ketika diberikan stimulus yang berulang, otak kita mengalihkan. Misalnya ketika kita menggunakan baju, dan ketika belajar, saat belajar dan mendengarkan guru, ada keributan diluar kelas, karena kita mau focus belajar, jadi otak mengalihkan stimulusnya, sehingga kita hanya mendengar guru, dan tidak mendengarkan keributan diluar tadi.

Sensory Adaption adalah ketika diberikan stimulus yang berulang, indra kurang atau tidak peka. Misalnya ketika berenang, awalnya kita merasa dingin, tetapi karena sudah terbiasa atau sudah beradaptasi dengan air yang dingin tadi, indra kita tidak lagi merasa bahwa airnya dingin.



Indra Penglihatan

  • Kecerahan ditentukan oleh amplitudo gelombang yaitu seberapa tinggi atau seberapa rendah gelombang itu. Semakin tinggi gelombangnya maka semakin terang cahayanya.
  • Warna atau rona ditentukan oleh panjang gelombang. Gelombang cahaya yang semakin panjang maka cahayanya akan semakin merah. Sedangkan semakin pendek gelombang cahaya nya , maka cahayanya akan semakin biru.
  • Saturation atau keberagaman warna merupakan sebuah dimensi pengalaman visual yang berhubungan dengan kompleksitas cahaya. Ketika cahaya hanya mengandung sebuah gelombang tunggal, dapat dikatakan bahwa warnanya murni dan warna yang dihasilkan ter saturasi sepenuhnya. 



Struktur Mata





Berdasarkan psikologis,  ada tiga aspek persepsi tentang cahaya yaitu kecerahan, warna dan saturasi. 
Agar cahaya yang datang bisa ditafsirkan maka akan dihantarkan oleh Syaraf reseptor rangsang: ada di retina. 
  • Sel kerucut (cone); membutuhkan lebih banyak cahaya untuk bekerja, sangat peka terhadap panjang gelombang yang beragam.
  • Memungkinkan kita untuk melihat beragam warna.
  • Sel batang (rod); lebih peka terhadap cahaya, memungkinkan kita dapat melihat dalam suasana gelap dan malam hari.
  • Kucing dapat melihat dengan baik dalam cahaya yang redup sebagian karena mereka memiliki banyak sel batang

Teori tikromatik
Teori yang juga dikenal dengan teori Young-Helmholtz berhubungan dengan tahap pertama yang terjadi pada yang ada di dalam retina mata. Sel kerucut yang ada pada retina memiliki tiga jenis dasar. Ketika aktivitas dari ketiga jenis sel kerucut ini menyatu, seseorang dapat melihat ribuan warna (Wade & Tavris, 2007). 2)

Teori opponent process
Dalam teori ini menjelaskan bagaimana tahapan-tahapan pada pemrosesan warna yang terjadi pada sel-sel ganglia pada retina dan neuron-neuron pada bagian talamus dan korteks visual di otak. Sel-sel tersebut dikenal sebagi sel-sel proses lawan. Sel-sel ini akan menganggapi gelombang cahaya yang panjang, namun akan dihambat apabila menangkap gelombang yang pendek, begitu pula sebaliknya. Dengan proses ini, akan dihasilkan suatu kode warna yang akan diteruskan menuju pusat penglihatan yang lebih tinggi. Ketika salah satu warna yang bertentangan disingkirkan, maka sel-sel opponent process yang dihambat akan menjadi sangat aktif.

Buta Warna 
  • Buta warna total – disebabkan oleh variasi genetik yang menyebabkan sel kerucut di retina berfungsi dengan tidak tepat, atau malah tidak ada sel kerucut sama sekali. Dunia visual hanya terdiri dari warna hitam, putih dan abu-abu. 
  • Buta warna parsial – Defisiensi warna; orang ini tidak dapat membedakan antara warna merah dan hijau




Indra Pendengaran



Telinga Luar 
        Pinna adalah bagian luar yang terlihat dari telinga yang berfungsi sebagai semacam konsentrator yang menyalurkan gelombang suara dari luar ke dalam struktur telinga.

Telinga Tengah : Hammer, Anvil, dan Stirrup 
        Tiga tulang kecil di telinga tengah dikenal sebagai palu (malleus), landasan (incus), dan sanggurdi (stape), masing-masing nama berasal dari bentuk tulang masing[1]masing. Getaran ketiga tulang ini memperkuat getaran dari gendang telinga. Sengkang, tulang terakhir dalam rantai, menyebabkan selaput yang menutupi lubang telinga bagian dalam yang bergetar.

Telinga Dalam
        Membran ini disebut jendela oval dan getarannya memicu reaksi berantai lain di dalam telinga bagian dalam. Koklea telinga bagian dalam adalah struktur berbentuk siput yang disebut koklea, yang berisi cairan. Saat jendela oval bergetar, hal itu menyebabkan cairan di koklea bergetar. Cairan ini mengelilingi membran yang mengalir melalui bagian tengah koklea yang disebut membran basilar. Membran basilar dan organ corti membran basilar merupakan tempat peristirahatan dari organ corti yang berisi sel-sel reseptor untuk indera pendengaran. Ketika membran basilar bergetar, ia menggetarkan organ corti, menyebabkannya bersentuhan dengan membran di atasnya.
 

Stimulus dapat berupa bunyi yang merupakan getaran udara atau getaran medium lain. Seseorang dapat mendengarnya sebagai bentuk respons dari stimulus tersebut. Bunyi dapat dibedakan menjadi:
  • Nada, merupakan bunyi yang getarannya teratur.
  • Desah, merupakan bunyi yang getarannya belum teratur. 
Pendengaran individu dapat mendengar apa yang mengenai reseptor sebagai suatu respon terhadap stimulus tersebut. Jika individu menyadari apa yang didengar, maka dalam hal ini individu dapat mempersepsikan apa yang di dengar, dan terjadilah suatu pengamatan atau persepsi.


Persepsi Nada
1. Place Theory
            Merupakan teori yang paling tua dari teori yang lainnya, dikembangkan dengan ide dari Hermann von Helmholtz pada tahun 1863 dan dimodifikasi oleh Georg von Békésy. Menurut teori ini, nada yang didengar seseorang tergantung pada letak sel-sel rambut yang dirangsang di organ korti. Misalnya, jika orang tersebut mendengar suara bernada tinggi, semua sel rambut di dekat jendela oval akan terstimulasi, tetapi jika suara itu bernada rendah, semua sel rambut yang dirangsang akan ditempatkan lebih jauh di organ korti.

2. Frequency Theory
            Teori ini dikembangkan oleh Ernest Rutherford pada tahun 1886. Teori ini menyatakan bahwa tinggi nada berkaitan dengan seberapa cepat membran basilar bergetar. Semakin cepat membran ini bergetar, semakin tinggi nada semakin lambat getarannya, semakin rendah nada.

3. Volley Principle
            Teori ini dikembangkan oleh Ernest Wever dan Charles Bray. Teori ini menyatakan bahwa teori pitch dengan frekuensi nada dari 400 Hz sampai 4000 Hz menyebabkan sel-sel rambut (neuron pendengaran) untuk merangsang dengan pola voli (volley pattern) atau merangsang secara bergantian.


Gangguan Pendengaran
        Gangguan pendengaran merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk pada kesulitan dalam indra pendengaran.
  • Gangguan Pendengaran Konduksi
                    Gangguan ini mengacu pada masalah dengan mekanisme telinga luar atau tengah dan berarah getaran suara tidak dapat diteruskan dari gendang telinga ke koklea
  • Gangguan Pendengaran Syaraf
                    Ini adalah jenis gangguan pendengaran permanen yang paling umum. Pada gangguan pendengaran saraf, atau gangguan pendengaran sensorineural, masalahnya tertelak di telinga bagian dalam atau di jalur pendengaran dan area kortikal di otak.



Chemical Sense
    Chemical sense mempengaruhi 2 indra manusia yaitu mulut yang mana merupakan indra perasa dan hidung sebagai indra penciuman.

1. Indra Perasa
            Indra perasa dikatakan sebagai bagian dari chemical sense, hal ini karena cara kerjanya sama dengan bagaimana reseptor saraf bekerja dengan neurotransmitter, yang mana pada indra perasa molekul dari makanan yang telah dilarutkan dalam air liur masuk kedalam reseptor dari indra perasa (taste bud) lalu mengirimkan sinyal ke otak, otak menerima sinyal menginterpretasikannya sebagai suatu rasa. Sel dari reseptor dari indra perasa dapat disebut dengan taste buds, taste buds terlekat pada beberapa bagian dari mulut, seperti di langit-langit mulut, daerah pipi, tenggorokan dan kebanyakan terdapat di lidah. Setiap orang memiliki jumlah dari taste buds yang berbeda, perbedaan ini dapat mempengaruhi kesensitifan seseorang akan “rasa”, semakin banyak taste buds yang dimiliki maka semakin sensitif indra perasanya. Pada dasarnya manusia dapat merasakan lima rasa dasar dengan indra perasa mereka, yaitu: 
1. Manis, 
2. Asam 
3. Asin, 
4. Pahit, dan 
5. Umami 
            Pada awalnya rasa “umami” bukanlah salah satu dari rasa dasar, seorang ahli psikologi, Hans Henning, hanya menetapkan rasa manis, asam, asin, dan pahit sebagai rasa dasar pada tahun 1916. Lalu pada tahun 1996 rasa dari kaldu ditetapkan sebagai rasa dasar, hal ini disetujui oleh Lindermann, ia menyebut rasa tersebut dengan “umami”, nama ini pertama kali digunakan oleh Dr. Kikunae Ikeda untuk mendeskripsikan rasa dari kaldu tersebut.


2. Indra Penciuman
            Indera penciuman juga termasuk indera kimia, seperti indera perasa, molekul zat yang berasal dari zat bau yang melayang di udara, yang masuk ke rongga hidung dan masuk ke reseptor penciuman (bau). Reseptor bau memiliki banyak rambut halus yang disebut cillia. Seperti reseptor rasa, reseptor penciuman kemudian mengirimkan sinyal ke otak karena dirangsang oleh molekul di udara. 
            Berbeda dengan indera perasa yang hanya memiliki 5 reseptor, indra penciuman memiliki banyak reseptor, minimal 1000. Reseptor ini juga tidak mengikuti jalur yang sama dengan indera lainnya dalam mengirimkan sinyal ke otak, jika indera lainnya pergi. melalui talamus, kemudian ke area korteks yang memproses informasi sensorik, tetapi tidak dengan indra penciuman, karena indera penciuman memiliki tempat khusus di otak yang disebut “The olfactory bulbs". The olfactory bulbs terletak tepat di atas sinus di setiap sisi otak, tepat di bawah lobus frontal. Reseptor penciuman mengirim sinyal saraf mereka langsung ke bola mata, melewati talamus, pusat semua informasi sensorik lainnya. 


Somesthetic Sense
        Kulit merupakan salah satu organ tubuh manusia. Fungsi kulit tidak hanya untuk menjaga keluar masuknya cairan tubuh dari bakteri, tetapi juga untuk menerima dan meneruskan informasi dari luar ke sistem saraf pusat, terutama korteks somatosensori. Ada sekitar 6 jenis reseptor sensorik di kulit. Misalnya, reseptor sensorik pada ujung saraf yang mengelilingi ujung folikel rambut peka terhadap sentuhan, suhu, dan rasa sakit. Sedangkan sel darah Pacinian yang berada tepat di bawah kulit merespon perubahan tekanan. Indera tubuh manusia juga dapat merespon persepsi terhadap gerakan dan posisi tubuh yang diperoleh dari pengetahuan estetika. Informasi ini, yang memengaruhi keseimbangan, berasal dari sistem vestibular, yang terhubung ke struktur di telinga. Indera kinestetik adalah indra yang terdapat pada otot, tendon, dan persendian. Fungsi indra kinestetik adalah memberikan informasi tentang gerak tubuh dan posisi dalam hubungannya satu sama lain. Indera vestibular adalah kesadaran akan keseimbangan, postur tubuh, gerakan kepala dan gerakan tubuh yang berhubungan dengan gravitasi yang diproses oleh organ vestibular. Organ keseimbangan terletak di telinga yaitu di tulang temporal. Ada dua jenis organ vestibular, yaitu organ otolith dan kanalis semisirkularis. Organ otolith adalah kantung kecil berisi cairan seperti jeli yang berada di atas koklea. Kanalis semisirkularis atau kanal setengah lingkaran adalah telinga bagian dalam, yang membantu keseimbangan dan menentukan posisi tubuh. 





B. Perception (Persepsi)

        Persepsi adalah suatu proses kognitif yang dialami oIeh setiap individu dalam pemilihan, pengorganisasian, penginterprestasian dan penafsiran masukan-masukan informasi dan sensasi yang diterima melalui pengIihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan, perasaan dan penghayatan sehingga menghasiIkan gambaran tentang dunia.

1. Cara Mengatur Persepsi
            Persepsi memiliki beberapa individualitas, misalnya Anda dapat melihat awan dengan berbagai bentuk. Meskipun persepsi bersifat individual, ada beberapa kesamaan dalam cara orang memandang lingkungannya. Oleh karena itu, ada situasi di mana orang yang berbeda secara otomatis merasakan rangsangan dengan cara yang sama. Konstansi perseptual dan prinsip gestalt menjelaskan pengalaman perseptual umum.  


The Constancies: Size, Shape, and Brightness
                Ukuran yaitu sebuah objek akan selalu sama ukurannya, terlepas dari jaraknya dengan mata. Bentuk merupakan ketika sebuah benda akan selalu sama bentuknya, bahkan jika bentuknya berubah pada retina. Kecerahan merupakan ketika sebuah objek akan tetap memiliki kecerahan yang sama meskipun cahayanya berubah.


The Gestalt Principles
                Menurut hukum gestalt, manusia itu cenderung untuk mengelompokkan objek sesuai dengan elemen atau pola yang sama serta menyederhanakan sesuatu yang kompleks. Prinsip pengelompokkan ini berdasarkan pada karakteristik tertentu, yaitu
  • Principle of Proximity: bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
  • Principle of Similarity: bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
  • Principle of Objective Set: Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya
  • Principle of Continuity: Organisasi berdasarkan kesinambungan pola
  • Principle of Closure/ Principle of Good Form: bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.
  • Principle of Figure and Ground: yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Contoh: perubahan nada tidak akan mengubah persepsi tentang melodi.



C. Hubungan Sensasi dan Persepsi

        Secara garis besar hubungan antara sensasi dan persepsi dapat dijelaskan sebagai berikut:


        Proses Sensasi Menjadi Persepsi (Plotnik, 2005)
1. Stimulus > (cahaya, suara, dan suhu)
2. Transduksi > sinyal listrik > implus syaraf
3. Otak : Primary areas > implus syaraf menjadi sensasi
4. Otak : Association areas > sensasi diubah menjadi image yang  bermakna (persepsi)
5. Personalized perception : pengalaman, lingkungan, emosi, ingatan-ingatan personal akan menambah persepsi kita. Oleh karena itu, persepsi bisa tidak mencerminkan stimulus aslinya. Persepsi dapat bias, berubah, atau terdistorsi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#10 Psikologi Sosial

Semester 2   SOCIAL PSYCHOLOGY Psikologi sosial adalah ilmu tentang proses perkembangan intelektual atau mental manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, psikologi sosial mempelajari topik yang mencakup perilaku manusia dalam konteks sosial. Kemudian kondisi interaksi sosial tidak hanya dipengaruhi oleh proses psikologis tetapi juga oleh kondisi lingkungan.  SOCIAL INFLUENCE Conformity (Konformitas)           Konformitas adalah perubahan pilihan, perilaku, ataupun tindakan karena mengikuti pilihan atau perilaku orang lain ataupun standar yang berlaku. Menurut David O'sear dan Peplau (1985), konformitas adalah sikap dari suatu individu yang dipengaruhi oleh individu yang lainnya. Penelitian tentang konformitas dilakukan oleh Solomon Asch pada tahun 1951. Ia melakukan penelitian dengan meminta peserta berkumpul dalam satu ruangan dan mereka diberitahu bahwa penelitian dilakukan dengan visual. Disediakan sebuah garis standar dan tig...

#4 Learning

Semester 2  LEARNING A. Definisi Learning               Belajar adalah ketika kita mempelajari sesuatu, ketika belajar bagaimana melakukan sesuatu. Belajar adalah setiap perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya membaca, menulis dan sebagainya serta belajar itu akan lebih baik jika subjek mengalami dan melakukannya (Sardiman, 2008). Belajar sebenarnya adalah proses mengingat, karena tanpa kemampuan mengingat, orang tidak dapat mempelajari apa pun.               Tidak semua perubahan di raih dengan pembelajaran. Perubahan seperti bertambahnya tinggi badan atau ukuran otak adalah jenis perubahan lainnya yang dikendalikan oleh cetak biru genetik. Perubahan ini disebut pematangan yang disebabkan oleh biologi, bukan pengalaman. Misalnya, seorang anak yang belajar berjalan tidak h...