Langsung ke konten utama

#7 Motivasi dan Emosi

Review Materi Psikologi Umum 2


MOTIVASI DAN EMOSI



MOTIVATION (MOTIVASI)

Definisi Motivasi
    Kata motivasi berasal dari bahasa Latin movere, yang berarti gerak atau dorong untuk bergerak. Dalam bahasa Indonesia, motivasi berasal dari kata motif yang berarti usaha yang mendorong seseorang melakukan suatu tindakan. Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam maupun luar, yang mengakibatkan seseorang berusaha memenuhi tujuan yang ingin dicapai. 

Jenis Motivasi

Motivasi terdiri dari dua jenis yaitu intrinsik dan ekstrinsik. 
Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari rangsangan dalam diri seseorang, sehingga tidak membutuhkan rangsangan dari luar. Contohnya adalah seseorang rajin belajar supaya dapat mencapai perguruan tinggi yang diinginkan.
Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari faktor-faktor luar pribadi seseorang. Faktor luar ini dapat meliputi orang tua, guru, bahkan teman. Pada umumnya, motivasi ini dilakukan karena akan mendapat pujian, imbalan, bahkan hukuman. Contohnya seseorang rajin belajar agar mendapat juara kelas, demi memperoleh hadiah dari orang tuanya.


Pendekatan dan Teori untuk memahami Motivasi

1. Instincts and the Evolutionary Approach

Pendekatan insting merupakan pola perilaku bawaan sejak manusia lahir. Pendekatan ini memiliki kekurangan yaitu tidak dapat menjelaskan perilaku manusia, hanya bisa menggambarkan saja. Hal inilah yang membuat pendekatan ini memudar seiring perkembangan zaman. Walaupun begitu, idenya yang menganggap bahwa perilaku manusia dikendalikan oleh faktor keturunan, masih eksistensi sampai saat ini.


2. Drive-Reduction Theory

Teori pengurangan dorongan beranggapan bahwa ketika seseorang mengalami ketegangan karena kebutuhan dan gairah, muncul tindakan seseorang untuk mengurangi ketegangan tersebut. Tujuan dari pengurangan ketegangan tersebut adalah homeostatis, yaitu kecenderungan mempertahankan keseimbangan tubuh. Dalam teori ini terdapat dua jenis penggerak, yaitu primary drives dan secondary drives. Primary drives dikaitkan dengan kebutuhan kelangsungan hidup secara biologis, seperti haus dan lapar. Secondary drives dikaitkan dengan anggapan bahwa dari pengalaman dan pembelajaran akan mendatangkan kebutuhan, seperti membutuhkan uang. Kekurangan teori ini yaitu tidak menjelaskan semua motivasi manusia.


3. Teori Mcclelland David C.

McClelland (1961) yang merupakan psikolog Universitas Harvard, menyatakan bahwa tiga macam kebutuhan dapat digunakan untuk menjelaskan motivasi individu, yaitu:

    a. Kebutuhan untuk berprestasi/need for achievement (nAch), yaitu motivasi untuk melampaui, mencapai standar dan berusaha untuk sukses. Ciri-ciri individu dengan kebutuhan berprestasi tinggi adalah menyukai pekerjaan yang membutuhkan tanggung jawab pribadi, umpan balik, dan tingkat risiko yang sedang.

    b. Kebutuhan akan kekuasaan/need for power (nPow), yaitu kebutuhan untuk dapat mengendalikan orang lain, memiliki pengaruh terhadap orang lain , dan menjadi berpengaruh.

    c. Kebutuhan afiliasi/need for affiliation (nAff), yaitu keinginan untuk menjalin hubungan yang akrab dan ramah dengan orang lain.


4. Teori Arousal (Arousal Approaches : Need for Stimulation)

Pendekatan ini beranggapan bahwa manusia memiliki tingkat level tertentu dalam mencapai suatu motivasi. Motivasi seseorang dipertahankan pada suatu level dengan meningkatkan atau menurunkan rangsangan. Contohnya ketika seseorang memiliki tugas yang mudah, motivasi untuk menyelesaikan tugas itu pun tidak terlalu tinggi karena ia menggampangkan tugas tersebut. Sebaliknya ketika seseorang memiliki tugas yang sulit, motivasi untuk menyelesaikan tugas itu pun tinggi.


5. Incentive Approaches to Motivation

Pada pendekatan insentif, seseorang termotivasi melakukan sesuatu bila ada keuntungan yang akan ia dapatkan. Dapat dikatakan bahwa pada pendekatan ini, motivasi muncul karena adanya stimulus eksternal. Misalnya seseorang mengikuti webinar karena ingin mendapatkan sertifikat dan relasi baru. Contoh yang lain yaitu seseorang yang malas belajar, tiba-tiba rajin belajar karena termotivasi untuk juara kelas karena akan mendapatkan hadiah dari orang tuanya.


6. Humanistic Approach (Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow)

Teori kebutuhan Abraham Maslow terdiri dari beberapa jenjang kebutuhan dasar manusia yang disebut hierarki Maslow, yaitu:

Kebutuhan fisiologis (physiological needs) : kebutuhan akan udara, makanan, air, dan kesehatan.

  • Kebutuhan rasa aman (safety needs) : kebutuhan akan keamanan dan stabilitas
  • Kebutuhan cinta (love/beloging) : kebutuhan akan kasih sayang, kepemilikan, dan cinta.  
  • Kebutuhan penghargaan (Self-esteem needs) : kebutuhan untuk harga diri, kekuasaan, kendali dan pengakuan.
  • Kebutuhan kognitif (Cognitive needs) : kebutuhan untuk mengetahui, memahami, dan mengeksplorasi
  • Kebutuhan estetika (Aesthetic needs) : kebutuhan untuk mengapresiasi simetri, keteraturan, dan keindahan.
  • Kebutuhan aktualisasi diri (self actualiazation needs) : kebutuhan untuk perkembangan, kreativitas, dan pertumbuhan.
  • Kebutuhan transendensi (Transcendence needs) : kebutuhan untuk mencari makna spiritual yang melampaui diri seseorang




EMOTION (EMOSI)

Pengertian Emosi

  Emosi berasal dari bahasa latin movere yang artinya bergerak/menggerakkan serta diberi awalan e menjadi emovere yang berarti bergerak menjauh. Beberapa pengertian emosi dari beragam referensi diantaranya dalam buku Dictionary of Psychology, emosi digambarkan dengan keadaan terangsang dari organisme yang mencakup perubahan – perubahan yang disadari serta sifatnya mendalam dari perubahan perilaku yang terjadi (Chaplin, 1989). Emosi dikatakan reaksi tubuh dalam menghadapi sesuatu yang sifat dan intensitasnya berkaitan dengan persepsi masing – masing (Prezz, 1999). Serta menurut Hathersall (1985) ia mengartikan emosi sebagai reaksi wajah dan tubuh atas apa yang dialami, seperti wajah yang bersemu. Menurut Ndari dkk. (2018), emosi adalah perasaan batin yang dimiliki seseorang akibat stimulus, yang dapat menimbulkan gejala-gejala tertentu seperti takut, marah, cemburu, dan lainnya.

 

The Three Elements of Emotion

1. Fisiologi Emosi
        Secara fisik, ketika seseorang mengalami emosi, rangsangan diciptakan oleh sistem saraf simpatik. Meskipun ekspresi wajah memang berbeda di antara berbagai respons emosional, emosi sulit dibedakan satu sama lain berdasarkan reaksi fisiologis saja. Bagian otak yang bekerja dalam aspek emosi adalah amigdala, yaitu area kecil yang terletak di dalam sistem limbik di setiap sisi otak, dikaitkan dengan emosi seperti ketakutan dan kesenangan pada manusia dan hewan dan juga terlibat dalam ekspresi wajah emosi manusia. Penelitian menunjukkan bahwa emosi dapat bekerja secara berbeda tergantung pada sisi otak mana yang terlibat. Satu bidang investigasi adalah lobus frontal. Para peneliti telah menemukan bahwa emosi positif berhubungan dengan lobus frontal kiri otak, sedangkan perasaan negatif seperti kesedihan, kecemasan, dan depresi tampaknya merupakan fungsi dari lobus frontal kanan.


2. The Behavior of Emotion: Emotional Expressions
        Emosi dapat diekspresikan melalui wajah, gerak tubuh, dan aksi yang menunjukkan pada orang lain tentang apa yang dirasakan. Dalam penelitian Ekman dan Friesen, mereka menemukan bahwa orang-orang dari berbagai budaya (termasuk Jepang, Eropa, Amerika, dan suku Fore di New Guinea) dapat secara konsisten mengenali setidaknya tujuh ekspresi wajah: kemarahan, ketakutan, jijik, kebahagiaan, kejutan, kesedihan, dan penghinaan. Meskipun emosi dan ekspresi wajah terkait tampak universal, tepatnya kapan, di mana, dan bagaimana emosi diungkapkan dapat ditentukan oleh budaya. Aturan tampilan yang dapat bervariasi dari budaya ke budaya adalah cara yang dipelajari untuk mengontrol tampilan emosi dalam pengaturan sosial.


3. Subjective Experience: Labeling Emotion
        Labeling emotion (emosi label) adalah mengartikan perasaan subjektif dengan memberinya label seperti marah, takut, jijik, bahagia, sedih, malu, tertarik, dan sebagainya. Label yang diberikan seseorang pada perasaan subjektif setidaknya sebagian merupakan respons pembelajaran yang dipengaruhi oleh bahasa dan budayanya. Orang dengan latar belakang budaya berbeda mungkin memiliki label berbeda.


Early Theories of Emotion (Teori Awal Emosi)

1. Teori Emosi James-Lange
        Menurut teori ini, emosi adalah hasil persepsi seseorang akibat perubahan-perubahan yang terjadi oleh rangsangan yang datang dari luar. Teori ini mengatakan bahwa reaksi fisiologis mengarah pada pelabelan emosi. Contohnya saat seseorang dikejar anjing, ia pun berlari dengan sangat kencang dan jantungnya pun berdebar sangat kencang. Karena disertai debaran jantung, maka timbullah emosi takut.




2. Teori Emosi Cannon-Bard
        Teori di mana reaksi fisiologis dan emosi diasumsikan terjadi pada saat yang bersamaan. Psikolog dari Amerika Serikat, Walter Bradford Cannon menentang teori James-Lange sebelumnya. Disertai dengan dukungan dari Philip Bard yang melakukan penelitian. Menurutnya, emosi dihasilkan dari stimulus luar kemudian stimulus inilah yang mengaktifkan hipotalamus. Hipotalamus mengirim output ke dua arah, yaitu organ dalam tubuh dan otot-otot eksternal untuk tubuh berekspresi, selain itu mengirim ke korteks serebral di mana pola diterima sebagai emosi yang dirasakan.





3. Facial Feedback Theory of Emotion
        Charles Darwin menyatakan bahwa ekspresi wajah berevolusi sebagai cara untuk mengkomunikasikan niat, seperti ancaman atau ketakutan, dan bahwa ekspresi ini bersifat universal dalam suatu spesies daripada spesifik untuk suatu budaya. Dia juga percaya (seperti dalam teori James-Lange) bahwa ketika emosi seperti itu diekspresikan secara bebas di wajah, emosi itu sendiri meningkat artinya semakin seseorang tersenyum, semakin bahagia perasaannya. Dalam hipotesis umpan balik wajah, Darwin menyatakan bahwa ekspresi wajah memberikan umpan balik ke otak mengenai emosi yang diekspresikan, yang tidak hanya meningkatkan emosi, tetapi juga benar-benar menyebabkan emosi.






Cognitive Theories of Emotion

1. Cognitive Arousal Theory
        Teori ini dikembangkan oleh Stanley Schachter dan Jerome Singer. Two factor theory of emotion merupakan sebutan lain dari teori ini karena menjelaskan bahwa emosi itu terjadi karena dua faktor yaitu perubahan fisiologis dan interpretasi kognitif. Teori ini beranggapan bahwa hal pertama yang dirasakan individu adalah mengalami emosi, setelah itu muncullah perubahan-perubahan yang ada pada dirinya. Contoh dari teori ini adalah pada saat seseorang merasakan adanya emosi kesedihan, lalu direspon otak dan hal itu akan membuat munculnya tindakan seperti menangis, lemas, dan sebagainya.

2. Lazarus and The Cognitive-Mediational Theory of Emotion
        Teori emosi ini mengungkapkan bahwa stimulus harus ditafsirkan (dinilai) oleh seseorang untuk menghasilkan respons fisik dan reaksi emosional. Maksudnya, emosi yang dirasakan merupakan hasil persepsi kita pada informasi yang berasal dari lingkungan dan dari dalam tubuh. Dalam hal ini, dapat dikatakan jikalau kita mengalami kejadian yang sama, bisa jadi emosi yang kita punya berbeda dengan orang lain. Hal ini tergantung pada hasil persepsi seseorang terhadap suatu informasi. Sebagai contoh, kita melewati suatu jalan dan melihat anjing, jika anjing tersebut dikurung, penilaian kita adalah tidak ada ancaman atau bahaya. Emosi seperti rangsangan fisik dan gangguan akan berkurang. Tetapi jika anjing tersebut tidak dikurung, penilaiannya kita menjadi hal itu bahaya dan merupakan ancaman, yang akan diikuti dengan emosi ketakutan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

#10 Psikologi Sosial

Semester 2   SOCIAL PSYCHOLOGY Psikologi sosial adalah ilmu tentang proses perkembangan intelektual atau mental manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, psikologi sosial mempelajari topik yang mencakup perilaku manusia dalam konteks sosial. Kemudian kondisi interaksi sosial tidak hanya dipengaruhi oleh proses psikologis tetapi juga oleh kondisi lingkungan.  SOCIAL INFLUENCE Conformity (Konformitas)           Konformitas adalah perubahan pilihan, perilaku, ataupun tindakan karena mengikuti pilihan atau perilaku orang lain ataupun standar yang berlaku. Menurut David O'sear dan Peplau (1985), konformitas adalah sikap dari suatu individu yang dipengaruhi oleh individu yang lainnya. Penelitian tentang konformitas dilakukan oleh Solomon Asch pada tahun 1951. Ia melakukan penelitian dengan meminta peserta berkumpul dalam satu ruangan dan mereka diberitahu bahwa penelitian dilakukan dengan visual. Disediakan sebuah garis standar dan tig...

#4 Learning

Semester 2  LEARNING A. Definisi Learning               Belajar adalah ketika kita mempelajari sesuatu, ketika belajar bagaimana melakukan sesuatu. Belajar adalah setiap perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya membaca, menulis dan sebagainya serta belajar itu akan lebih baik jika subjek mengalami dan melakukannya (Sardiman, 2008). Belajar sebenarnya adalah proses mengingat, karena tanpa kemampuan mengingat, orang tidak dapat mempelajari apa pun.               Tidak semua perubahan di raih dengan pembelajaran. Perubahan seperti bertambahnya tinggi badan atau ukuran otak adalah jenis perubahan lainnya yang dikendalikan oleh cetak biru genetik. Perubahan ini disebut pematangan yang disebabkan oleh biologi, bukan pengalaman. Misalnya, seorang anak yang belajar berjalan tidak h...