Review Materi Psikologi Umum 2
MOTIVASI DAN EMOSI
MOTIVATION (MOTIVASI)
Definisi Motivasi
Kata motivasi berasal dari bahasa Latin movere, yang berarti gerak atau dorong untuk bergerak. Dalam bahasa Indonesia, motivasi berasal dari kata motif yang berarti usaha yang mendorong seseorang melakukan suatu tindakan. Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam maupun luar, yang mengakibatkan seseorang berusaha memenuhi tujuan yang ingin dicapai.
Jenis Motivasi
Motivasi terdiri dari dua jenis yaitu intrinsik dan ekstrinsik.
Motivasi intrinsik adalah motivasi yang timbul dari rangsangan dalam diri seseorang, sehingga tidak membutuhkan rangsangan dari luar. Contohnya adalah seseorang rajin belajar supaya dapat mencapai perguruan tinggi yang diinginkan.
Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari faktor-faktor luar pribadi seseorang. Faktor luar ini dapat meliputi orang tua, guru, bahkan teman. Pada umumnya, motivasi ini dilakukan karena akan mendapat pujian, imbalan, bahkan hukuman. Contohnya seseorang rajin belajar agar mendapat juara kelas, demi memperoleh hadiah dari orang tuanya.
Pendekatan dan Teori untuk memahami Motivasi
1. Instincts and the Evolutionary Approach
Pendekatan insting merupakan pola perilaku
bawaan sejak manusia lahir. Pendekatan ini memiliki kekurangan yaitu tidak
dapat menjelaskan perilaku manusia, hanya bisa menggambarkan saja. Hal inilah
yang membuat pendekatan ini memudar seiring perkembangan zaman. Walaupun
begitu, idenya yang menganggap bahwa perilaku manusia dikendalikan oleh faktor
keturunan, masih eksistensi sampai saat ini.
2. Drive-Reduction Theory
Teori pengurangan dorongan beranggapan
bahwa ketika seseorang mengalami ketegangan karena kebutuhan dan gairah, muncul
tindakan seseorang untuk mengurangi ketegangan tersebut. Tujuan dari
pengurangan ketegangan tersebut adalah homeostatis, yaitu kecenderungan
mempertahankan keseimbangan tubuh. Dalam teori ini terdapat dua jenis
penggerak, yaitu primary drives dan secondary drives. Primary drives dikaitkan
dengan kebutuhan kelangsungan hidup secara biologis, seperti haus dan lapar.
Secondary drives dikaitkan dengan anggapan bahwa dari pengalaman dan
pembelajaran akan mendatangkan kebutuhan, seperti membutuhkan uang. Kekurangan
teori ini yaitu tidak menjelaskan semua motivasi manusia.
3. Teori Mcclelland David C.
McClelland (1961) yang merupakan psikolog
Universitas Harvard, menyatakan bahwa tiga macam kebutuhan dapat digunakan
untuk menjelaskan motivasi individu, yaitu:
a. Kebutuhan untuk berprestasi/need for
achievement (nAch), yaitu motivasi untuk melampaui, mencapai standar dan
berusaha untuk sukses. Ciri-ciri individu dengan kebutuhan berprestasi tinggi
adalah menyukai pekerjaan yang membutuhkan tanggung jawab pribadi, umpan balik,
dan tingkat risiko yang sedang.
b. Kebutuhan akan kekuasaan/need for power
(nPow), yaitu kebutuhan untuk dapat mengendalikan orang lain, memiliki pengaruh
terhadap orang lain , dan menjadi berpengaruh.
c. Kebutuhan afiliasi/need for affiliation
(nAff), yaitu keinginan untuk menjalin hubungan yang akrab dan ramah dengan
orang lain.
4. Teori Arousal (Arousal Approaches : Need for Stimulation)
Pendekatan ini beranggapan bahwa manusia
memiliki tingkat level tertentu dalam mencapai suatu motivasi. Motivasi
seseorang dipertahankan pada suatu level dengan meningkatkan atau menurunkan
rangsangan. Contohnya ketika seseorang memiliki tugas yang mudah, motivasi
untuk menyelesaikan tugas itu pun tidak terlalu tinggi karena ia menggampangkan
tugas tersebut. Sebaliknya ketika seseorang memiliki tugas yang sulit, motivasi
untuk menyelesaikan tugas itu pun tinggi.
5. Incentive Approaches to Motivation
Pada pendekatan insentif, seseorang
termotivasi melakukan sesuatu bila ada keuntungan yang akan ia dapatkan. Dapat
dikatakan bahwa pada pendekatan ini, motivasi muncul karena adanya stimulus
eksternal. Misalnya seseorang mengikuti webinar karena ingin mendapatkan
sertifikat dan relasi baru. Contoh yang lain yaitu seseorang yang malas
belajar, tiba-tiba rajin belajar karena termotivasi untuk juara kelas karena
akan mendapatkan hadiah dari orang tuanya.
6. Humanistic Approach (Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow)
Teori kebutuhan Abraham Maslow terdiri dari beberapa jenjang kebutuhan dasar manusia yang disebut hierarki Maslow, yaitu:
Kebutuhan fisiologis (physiological needs)
: kebutuhan akan udara, makanan, air, dan kesehatan.
- Kebutuhan rasa aman (safety needs) :
kebutuhan akan keamanan dan stabilitas
- Kebutuhan cinta (love/beloging) :
kebutuhan akan kasih sayang, kepemilikan, dan cinta.
- Kebutuhan penghargaan (Self-esteem needs)
: kebutuhan untuk harga diri, kekuasaan, kendali dan pengakuan.
- Kebutuhan kognitif (Cognitive needs) :
kebutuhan untuk mengetahui, memahami, dan mengeksplorasi
- Kebutuhan estetika (Aesthetic needs) :
kebutuhan untuk mengapresiasi simetri, keteraturan, dan keindahan.
- Kebutuhan aktualisasi diri (self
actualiazation needs) : kebutuhan untuk perkembangan, kreativitas, dan
pertumbuhan.
- Kebutuhan transendensi (Transcendence
needs) : kebutuhan untuk mencari makna spiritual yang melampaui diri seseorang
EMOTION (EMOSI)
Pengertian Emosi
Emosi berasal dari bahasa latin movere
yang artinya bergerak/menggerakkan serta diberi awalan e menjadi emovere yang
berarti bergerak menjauh. Beberapa pengertian emosi dari beragam referensi
diantaranya dalam buku Dictionary of Psychology, emosi digambarkan dengan
keadaan terangsang dari organisme yang mencakup perubahan – perubahan yang
disadari serta sifatnya mendalam dari perubahan perilaku yang terjadi (Chaplin,
1989). Emosi dikatakan reaksi tubuh dalam menghadapi sesuatu yang sifat dan
intensitasnya berkaitan dengan persepsi masing – masing (Prezz, 1999). Serta
menurut Hathersall (1985) ia mengartikan emosi sebagai reaksi wajah dan tubuh
atas apa yang dialami, seperti wajah yang bersemu. Menurut Ndari dkk. (2018),
emosi adalah perasaan batin yang dimiliki seseorang akibat stimulus, yang dapat
menimbulkan gejala-gejala tertentu seperti takut, marah, cemburu, dan lainnya.
The Three Elements of Emotion
1. Fisiologi Emosi Secara fisik, ketika seseorang mengalami emosi, rangsangan diciptakan oleh sistem saraf simpatik. Meskipun ekspresi wajah memang berbeda di antara berbagai respons emosional, emosi sulit dibedakan satu sama lain berdasarkan reaksi fisiologis saja. Bagian otak yang bekerja dalam aspek emosi adalah amigdala, yaitu area kecil yang terletak di dalam sistem limbik di setiap sisi otak, dikaitkan dengan emosi seperti ketakutan dan kesenangan pada manusia dan hewan dan juga terlibat dalam ekspresi wajah emosi manusia. Penelitian menunjukkan bahwa emosi dapat
bekerja secara berbeda tergantung pada sisi otak mana yang terlibat. Satu
bidang investigasi adalah lobus frontal. Para peneliti telah menemukan bahwa
emosi positif berhubungan dengan lobus frontal kiri otak, sedangkan perasaan
negatif seperti kesedihan, kecemasan, dan depresi tampaknya merupakan fungsi
dari lobus frontal kanan.
2. The Behavior of Emotion: Emotional Expressions
Emosi dapat diekspresikan melalui wajah,
gerak tubuh, dan aksi yang menunjukkan pada orang lain tentang apa yang dirasakan.
Dalam penelitian Ekman dan Friesen, mereka menemukan bahwa orang-orang dari
berbagai budaya (termasuk Jepang, Eropa, Amerika, dan suku Fore di New Guinea)
dapat secara konsisten mengenali setidaknya tujuh ekspresi wajah: kemarahan,
ketakutan, jijik, kebahagiaan, kejutan, kesedihan, dan penghinaan. Meskipun
emosi dan ekspresi wajah terkait tampak universal, tepatnya kapan, di mana, dan
bagaimana emosi diungkapkan dapat ditentukan oleh budaya. Aturan tampilan yang
dapat bervariasi dari budaya ke budaya adalah cara yang dipelajari untuk
mengontrol tampilan emosi dalam pengaturan sosial.
3. Subjective Experience: Labeling Emotion Labeling emotion (emosi label) adalah
mengartikan perasaan subjektif dengan memberinya label seperti marah, takut,
jijik, bahagia, sedih, malu, tertarik, dan sebagainya. Label yang diberikan
seseorang pada perasaan subjektif setidaknya sebagian merupakan respons
pembelajaran yang dipengaruhi oleh bahasa dan budayanya. Orang dengan latar
belakang budaya berbeda mungkin memiliki label berbeda.
Early Theories of Emotion (Teori Awal Emosi)
1. Teori Emosi James-Lange
Menurut teori ini, emosi adalah hasil
persepsi seseorang akibat perubahan-perubahan yang terjadi oleh rangsangan yang
datang dari luar. Teori ini mengatakan bahwa reaksi fisiologis mengarah pada
pelabelan emosi. Contohnya saat seseorang dikejar anjing, ia pun berlari dengan
sangat kencang dan jantungnya pun berdebar sangat kencang. Karena disertai
debaran jantung, maka timbullah emosi takut.
2. Teori Emosi Cannon-Bard
Teori di mana reaksi fisiologis dan emosi
diasumsikan terjadi pada saat yang bersamaan. Psikolog dari Amerika Serikat,
Walter Bradford Cannon menentang teori James-Lange sebelumnya. Disertai dengan
dukungan dari Philip Bard yang melakukan penelitian. Menurutnya, emosi
dihasilkan dari stimulus luar kemudian stimulus inilah yang mengaktifkan
hipotalamus. Hipotalamus mengirim output ke dua arah, yaitu organ dalam tubuh
dan otot-otot eksternal untuk tubuh berekspresi, selain itu mengirim ke korteks
serebral di mana pola diterima sebagai emosi yang dirasakan.
3. Facial Feedback Theory of Emotion
Charles Darwin menyatakan bahwa ekspresi
wajah berevolusi sebagai cara untuk mengkomunikasikan niat, seperti ancaman
atau ketakutan, dan bahwa ekspresi ini bersifat universal dalam suatu spesies
daripada spesifik untuk suatu budaya. Dia juga percaya (seperti dalam teori
James-Lange) bahwa ketika emosi seperti itu diekspresikan secara bebas di
wajah, emosi itu sendiri meningkat artinya semakin seseorang tersenyum, semakin
bahagia perasaannya. Dalam hipotesis umpan balik wajah, Darwin menyatakan bahwa
ekspresi wajah memberikan umpan balik ke otak mengenai emosi yang
diekspresikan, yang tidak hanya meningkatkan emosi, tetapi juga benar-benar
menyebabkan emosi.
Cognitive Theories of Emotion
1. Cognitive Arousal Theory
Teori ini dikembangkan oleh Stanley
Schachter dan Jerome Singer. Two factor theory of emotion merupakan
sebutan lain dari teori ini karena menjelaskan bahwa emosi itu terjadi karena
dua faktor yaitu perubahan fisiologis dan interpretasi kognitif. Teori ini
beranggapan bahwa hal pertama yang dirasakan individu adalah mengalami emosi,
setelah itu muncullah perubahan-perubahan yang ada pada dirinya. Contoh dari
teori ini adalah pada saat seseorang merasakan adanya emosi kesedihan, lalu
direspon otak dan hal itu akan membuat munculnya tindakan seperti menangis,
lemas, dan sebagainya.
2. Lazarus and The Cognitive-Mediational Theory of Emotion
Teori emosi ini mengungkapkan bahwa
stimulus harus ditafsirkan (dinilai) oleh seseorang untuk menghasilkan respons
fisik dan reaksi emosional. Maksudnya, emosi yang dirasakan merupakan hasil
persepsi kita pada informasi yang berasal dari lingkungan dan dari dalam tubuh.
Dalam hal ini, dapat dikatakan jikalau kita mengalami kejadian yang sama, bisa
jadi emosi yang kita punya berbeda dengan orang lain. Hal ini tergantung pada
hasil persepsi seseorang terhadap suatu informasi. Sebagai contoh, kita melewati suatu jalan dan melihat anjing, jika anjing tersebut dikurung, penilaian kita adalah tidak ada ancaman atau bahaya. Emosi seperti rangsangan fisik dan gangguan akan berkurang. Tetapi jika anjing tersebut tidak dikurung, penilaiannya kita menjadi hal itu bahaya dan merupakan ancaman, yang akan diikuti dengan emosi ketakutan.
Komentar
Posting Komentar