Langsung ke konten utama

#6 Kognitif: Thinking, Intelligent, and Language

Review Materi

 KOGNITIF: THINKING, INTELLIGENT, AND LANGUAGE 




Thinking (Berpikir)

        Berpikir dapat didefinisikan sebagai proses mental yang berlangsung di otak saat seseorang memproses sebuah informasi yang meliputi pemahaman, pengaturan, serta pengkomunikasian informasi tersebut kepada orang lain.

Mental Imagery (Citra Mental)
            Mental imagery atau citra mental adalah salah satu dari beberapa alat yang digunakan dalam proses berpikir. Citra mental merupakan penggambaran suatu objek atau peristiwa di dalam pikiran manusia dengan bentuk yang serupa. Misalnya, sebuah percobaan dilakukan pada beberapa orang yang diminta untuk menyebutkan berapa banyak jumlah jendela yang ada di tempat tinggal mereka secepat mungkin. Orang yang memiliki sedikit jendela cenderung lebih cepat dalam menjawab pertanyaan dibanding orang yang memiliki banyak jendela di tempat tinggalnya. Kebanyakan partisipan melihat ke atas saat diberi pertanyaan seolah-olah mereka sedang membuat gambaran tempat tinggal mereka dalam pikiran mereka masing-masing, dengan tujuan untuk mempermudah mereka dalam menghitung jumlah jendela di tempat tinggalnya (Ciccarelly & White, 2011).

Concepts and Prototypes (Konsep dan Prototipe)
            Gambar mental atau citra mental bukan hanya satu-satunya bentuk representasi mental. Aspek lain dari proses berpikir adalah konsep. Konsep adalah ide yang mewakili kelas atau kategori objek, peristiwa, atau aktivitas. Misalnya dengan penyebutan kata “buah”, orang-orang tidak perlu memikirkan jenis-jenis buah yang ada di dunia, meskipun buah yang dipikirkan oleh orang tersebut berbeda jenis dengan buah yang dipikirkan oleh orang lain.
            Konsep dibagi menjadi konsep formal dan konsep alam. Konsep formal adalah konsep yang telah diatur ke dalam aturan tertentu. Misalnya suatu benda dikatakan segitiga jika memiliki tiga sisi dan jumlah sudut nya 180 derajat. Sedangkan konsep alam adalah konsep yang terbentuk tanpa adanya aturan tertentu. Misalnya seekor platipus yang dikelompokkan sebagai mamalia karena ia menyusui anaknya. Padahal platipus memiliki karakteristik seperti burung, yakni bertelur, memiliki bulu, dan memiliki paruh.
            Prototipe merupakan gambaran awal seseorang terhadap suatu hal yang dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, pengetahuan, dan budaya. Prototipe merupakan contoh konsep yang sangat cocok dengan ciri-ciri yang ditentukan dari konsep tersebut. Prototipe dapat berkembang sesuai dengan keterpaparan seseorang terhadap objek atau pengalaman pribadi. Misalnya, seseorang yang tumbuh di daerah banyak pohon kelapa mungkin menganggap kelapa lebih tropikal dari pada apel, sedangkan seseorang yang tumbuh dibarat laut Amerika Serikat kemungkinan besar akan melihat apel sebagai buah ptototipe.




Problem-Solving and Decision-Making Strategies
(Strategi Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan)
            Gambar dan konsep adalah alat mental yang digunakan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan. Pemecahan masalah terjadi ketika tujuan harus dicapai dengan berpikir dan berperilaku dengan cara tertentu. Pemecahan masalah merupakan salah satu aspek pengambilan keputusan, atau mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memilih di antara beberapa alternatif. Metode yang dapat digunakan untuk pemecahan masalah adalah sebagai berikut.

1. Trial and Error (Solusi Mekanik)
            Trial and error atau solusi mekani adalah metode pemecahan masalah dimana solusi mungkin dicoba satu demi satu sampai solusi berhasil ditemukan. Misalnya seseorang lupa password situs web onlinenya, dia dapat mencoba sati kombinasi demi satu sampai menemukan kombinasi yang berfungsi, jika dia hanya memiliki beberapa password yang biasa digunakan.

2. Algoritma
                Algoritma merupakan prosedur langkah demi langkah yang sangat spesifik untuk memecahkan jenis masalah tertentu. Misalnya seorang pustakawan menyusun buku-buku di perpustakaan sesuai urutan abjad. 

3. Heuristik
                Heuristik adalah tebakan cerdas berdasarkan pengalaman sebelumnya yang membantu mempersempit solusi yang mungkin untuk suatu masalah. Heuristik dikenal dengan "aturan praktis".
        a. Keterwakilan Heuristik
                    Keterwakilan heuristik adalah asumsi bahwa objek (atau orang) yang memiliki karakteristik yang sama dengan anggota kategori tertentu juga merupakan anggota kategori tersebut. Contohnya asumsi yang mengatakan orang yang berkulit gelap berasal dari afrika. Keterwakilan heuristik dapat menyebabkan kesalahan karena mengabaikan tarif dasar dan probabilitis aktual dari peristiwa tertentu.
        b. Ketersediaan Heuristik
                    Ketersediaan Heuristik adalah memperkirakan frekuensi atau kemungkinan suatu peristiwa berdasarkan seberapa mudahnya mengingat informasi yang relevan dari memori atau betapa mudahnya kita memikirnya contoh terkait.

4. Wawasan
                Wawasan adalah kondisi ketika solusi untuk suatu masalah muncul secara tiba-tiba di pikiran.  Apa yang biasanya terjadi adalah bahwa pikiran hanya mengatur ulang masalah, kadang-kadang ketika orang tersebut memikirkan sesuatu yang lain (Durso et al., 1994).

Problems with Problem Solving and Decision Making
(Masalah dengan Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan)
1. Ketepatan Fungsional
            Ketepatan fungsional merupakan fenomena dari salah satu kesulitan pemecahan masalah melibatkan pemikiran tentang objek hanya dalam hal penggunaan tipikalnya. Contohnya ketika seseorang sedang mencari obeng untuk memperbaiki sesuatu di sekitar rumahnya, sedangkan ada beberapa benda didekat nya yang dapat digunakan untuk mengencangkan sekrup seperti pisau mentega dan kunci. Karena kecenderungan memikirkan objek-objek itu dalam kaitannya dengan memasak dan membuka kunci, terkadang kita mengabaikan kemungkinan penggunaan yang kurang jelas. Contoh lain adalah ketika kita tidak tahu atau menganggap tang itu tidak berguna hingga suatu saat tang itu di gunakan sebagai pemberat.

2. Set Mental
        Set mental didefinisikan sebagai kecenderungan orang untuk bertahan dalam menggunakan pola pemecahan masalah yang telah bekerja untuk mereka di masa lalu. Solusi yang berhasil di masa lalu cenderung menjadi solusi yang pertama kali di coba orang, dan orang seringkali ragu-ragu bahkan tidak mampu memikirkan kemungkinan lain.

3. Bias Konfirmasi
        Bias Konfirmasi adalah penghalang lain untuk pengambilan keputusan atau pemecahan maslah yang efektif. Bias konfirmasi merupakan kecenderungan untuk mencari bukti yang sesuai dengan keyakinan seseorang sambil mengabaikan bukti yang tidak sesuai ddengan keyakinan tersebut. Contohnya orang-orang percaya bahwa mereka multitasking yang baik yang dapat dengan aman mengendarai kendaraan bermotor atau kendaraan lain sambil berbicara bahkan mengirim SMS melalui ponsel mereka yang mengingat pengalaman pribadi mereka yang tidak mengalami kecelakaan kendaraan.




Creativity (Kreativitas)
        Creativity atau kreativitas adalah proses pemecahan masalah dengan menggabungkan ide-ide atau perilaku dengan cara baru. Tidak setiap masalah dapat dijawab dengan menggunakan informasi yang sudah ada dan aturan logika dalam menerapkan informasi tersebut. Terkadang suatu masalah membutuhkan cara yang sama sekali baru dalam memandang masalah atau solusi inventif yang tidak biasa.
        Berpikir konvergen adalah jenis pemikiran di mana suatu masalah dipandang hanya memiliki satu jawaban, dan semua garis pemikiran pada akhirnya akan mengarah pada jawaban tunggal itu, dengan menggunakan pengetahuan dan logika sebelumnya. Pemikiran konvergen bekerja dengan baik untuk pemecahan masalah rutin tetapi mungkin tidak banyak berguna ketika diperlukan solusi yang lebih kreatif.
        Berpikir divergen merupakan kebalikan dari berpikir konvergen. Seseorang yang berpikir divergen menghasilkan banyak ide atau kemungkinan yang berbeda. Misalnya diajukan pertanyaan "pensil digunakan untuk apa?" konvergen akan menjawab untuk menulis, sedangkan divergen jawabannya berlipat ganda yaitu untuk menulis, membuat lubang, menggambar, senjata, pemberat layang-layang.








Intelligence

Teori Kecerdasan
        Intelegensi adalah kemampuan belajar dari pengalaman seseorang secara global untuk memperoleh pengetahuan dan memecahkan masalah dengan berfikir secara rasional serta menangani lingkungan secara efektif. (Sternberg & Kaufman, 1998; Wechsler, 1975). Intelegensi merupakan kemampuan akal yang dimiliki masing-masing individu. Ada beberapa teori yang mendefinisikan intelegensi:

1. Teori Spearman (Charles Spearman, 1904)
            Charles berpendapat bahwa kecerdasan dapat ditinjau dari dua kemampuan yang berbeda, yaitu: 
    a. Label factor g → kemampuan untuk bernalar dan memecahkan masalah, atau disebut kecerdasan umum. 
    b. Label factor s → kemampuan unggul dalam bidang tertentu seperti music, seni dan bisnis, atau disebut kecerdasan spesifik.

2. Teori Multiple Intelegensia atau Kecerdasan Ganda Gardner (Howard Gardner)
            Gardner menjelaskan bahwa kemampuan seseorang tidak terdiri dari kemampuan umum dan kemampuan khusus, tetapi kemampuan seseorang memang berdasarkan kemampuan khusus secara pribadi. Ada 9 kemampuan khusus yang dimiliki seseorang menurut Gardner, yaitu:
  • Verbal intelligence, Verbal atau linguistik adalah kecerdasan dalam berbahasa. Orang yang memiliki kemampuan ini adalah penulis dan pembicara. 
  • Logical mathematical intelligence, Logika-Matematika adalah kemampuan seseorang memecahkan masalah matematika dengan berpikir menggunakan logika. Contohnya peneliti.
  • Musical intelligence, Musikal adalah kemampuan seseorang dalam bermusik. Orang yang memiliki kemampuan ini, yaitu pianis, musisi, dan lainnya.
  • Visual spatial intelligence, Spasial atau visual adalah kemampuan seseorang dalam mendeskripsikan suatu objek dalam ruangan. Orang yang memiliki kemampuan ini, yaitu artis, pilot, dan lainnya.
  • Movement intelligence, Gerak tubuh adalah kemampuan seseorang mengontrol badannya saat bergerak. Orang yang memiliki kemampuan seperti ini adalah penari.
  • Interpersonal intelligence, Interpersonal adalah kemampuan dalam memahami orang lain dan berkomunikasi yang baik dengan orang lain. Orang yang memiliki kemampuan ini adalah seorang psikolog dan manajer.
  • Intrapersonal intelligence, Intrapersonal adalah merupakan kebalikan dari interpersonal, yaitu kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri. 
  • Existential intelligence, Eksistensial adalah kemampuan seseorang mengontrol intuisi dan suka bertanya-jawab tentang keberadaan manusia. Orang yang memiliki kemampuan ini adalah filsuf atau ahli filsafat
  • Natural intelligence, Naturalis adalah seseorang yang lebih suka dengan alam atau sesuatu yang bersifat alam. Orang yang memiliki kemampuan ini seperti ahli biologi, peternak, ahli botani, dan lain sebagainya.

3. Teori Sternberg
            Teori Sternberg dipelopori oleh Robert Sternberg pada tahun 1988. Teori ini dikenal dengan “Triarchic Theory of Intelligence” yang mengarahkan kepada kemampuan menyerap informasi diolah dengan ide yang berbeda untuk memecahkan suatu masalah. Sternberg merumuskan teori intelegensi terdiri atas analisa,praktikal, dan kreatif :

a) Kemampuan Analisa Seseorang bisa menggunakan analisanya dengan baik untuk memecahkan suatu masalah.

b) Kreativitas Kemampuan yang dimiliki seseorang memecahkan masalah dengan cara berbeda atau menemukan ide-ide baru yang kreatif.

c) Praktik Kemampuan seseorang mempraktikkan jalan solusi yang manipulatif atau sangat berbeda dan bisa saja dibilang ide yang mereka pikirkan aneh.



Mengukur Kecerdasan
  • Binet's Mental Ability Test

                Pada tahun 1904 Menteri Pengajaran Umum Perancis menugaskan kepada seorang psikolog yang bernama Alfred Binet untuk merancang test formal kecerdasan yang akan membantu mengidentifikasi anak – anak yang tidak dapat belajar dengan cepat atau tidak sebaik orang lain sehingga mereka layak mendapatkan perbaikan pendidikan. Dalam kaitan sasaran komisi inilah Binet bekerja sama dengan kolega Theodore Simon untuk melaksanakan sebuah test yang tidak hanya membedakan antara siswa yang cepat dan lambat tetapi juga antara anak – anak dari kelompok umur yang berbeda (Binet & Simon, 1916).


  • Stanford-Binet and IQ

                Lewis Terman (1916), seorang peneliti dari Universitas Stanford yang telah mengadopsi metode psikolog Jerman William Stren untuk membanding usia mental dan usia kronogis (jumlah tahun sejak lahir) dengan uji Binet. Rumus yang dipakai oleh Stren (1912) yaitu membagi usia mental (MA) dengan usia kronologis (CA) dan mengalikan hasilnya dengan 100. Skor yang dihasilkan disebut intelligence quotient atau

IQ IQ = MA / CA * 100

                Meskipun metode ini berhasil dengan baik untuk anak – anak, namun metode ini tidak akan berarti jika usia kronologis seseorang melewati 16 tahun. Begitu seseorang menjadi dewasa, maka gagasan pertanyaan yang ditunjukkan untuk kelompok usia tertentu kehilangan kekuatannya. Namun ada test kecerdasan yang dapat dipakai sampai dewasa, yaitu Starnford – Binet Intelligence Scales, edisi kelima, test ini masih prima dibuat dari pertanyaan – pertanyaan tingkat usia. Secara alami, pertanyaan – pertanyaan tersebut menjadi sulit sesuai denga tingkat usia. Test ini cocok untuk orang yang berumur 2 sampai 90 tahun dan skor pada test ini sangat dapat diandalkan (Rold, 2003).

  • The Wechsler Tests

                David Wechsler adalah orang pertama yang merancang serangkaian test untuk kelompok usia tertentu. Kemudian dia merancang test khusus untuk anak usia sekolah yang lebih tua dan anak – anak prasekolah, serta mereka yang berada di kelas awal. Skala Kecerdasan Dewasa Wechsler (WAIS – IV; Wechsler, 2008), Skala Kecerdasan Wechsler Anak – anak (WISC – V; Wechsler , 2014), dan Skala Kecerdasan Dasar dan Prasekolah Wechsler (WPPSI – IV; Wechsler, 2012). Di Amerika Serikat, test ini lebih sering digunakan dari pada Stanford – Binet. Meskipun masih menggunakan item verbal dan nonverbal, test Wechsler memberikan keseluruhan kecerdasan dan skor indeks yang terkait dengan domain kognitif.


Language (Bahasa)


Tingkat Analisis Bahasa
        Bahasa adalah suatu sistem untuk menggabungkan simbol-simbol sehingga pernyataan-pernyataan bermakna dalam jumlah tak terbatas dapat dibuat untuk tujuan berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa memungkinkan orang tidak hanya untuk berkomunikasi dengan orang lain tetapi juga untuk mewakili aktivitas mental internal mereka sendiri.
        Grammar atau tata bahasa adalah sistem aturan yang mengatur struktur dan penggunaan bahasa. Menurut Noam Chomsky (Chomsky, 2006; Chomsky et al., 2002), manusia memiliki kemampuan bawaan untuk memahami dan memproduksi bahasa melalui perangkat yang disebutnya language acquisition device atau LAD.
        Tata bahasa meliputi fonem (suara dasar bahasa), morfologi (studi tentang pembentukan kata), sintaksis, semantik, dan pragmatik

1. Phoneme atau Fonem
            Fonem adalah satuan bunyi bahasa yang bersifat fungsional. Fenom berfungsi untuk membedakan makna dari setiap simbol bahasa yang ada. Fenomisasi adalah serangakaian usaha untuk menemukan bunyi-bunyi yang bertujuan sebagai pembeda makna tersebut. Sebagai contoh, bunyi "F", "P", dan "V" merupakan fonem yang tidak jauh berbeda. Misalnya nama Sofhia tetap dilafazkan dengan "Sofia", "Sopia", dan "Sovia" sehingga terdengar sama.

2. Morfeme atau morfem
            Morfem adalah unit makna terkecil dalam suatu bahasa. Morfem merupakan serangkaian bunyi-bunyian terkecil yang memberi makna terhadap apa yang diucapkan dan didengar. Contohnya kata "drive" akan memiliki dua morfem jika ditambah "er". Maka menjadi "driver" yang berarti orang yang menyupiri.

3. Sintaksis
            Sintaksis adalah struktur bahasa yang mengombinasikan kata-kata membentuk ungkapan yang dapat diterima. Contoh dari sintaksis adalah "saya dikejar anjing" akan berbeda maknanya dengan kalimat "saya mengejar anjing" walaupun dua kalimat tersebut memiliki kata yang sangat mirip. 

4. Semantik
            Semantik adalah aturan untuk menentukan arti kata dan kalimat. Kalimat dapat memiliki makna semantik yang sama namun memiliki sintaks yang berbeda. Sebagai contoh yaitu "Lily memakan roti" dengan "Roti dimakan oleh Lily".

5. Pragmatik
            Pragmatik merupakan penggunaan bahasa yang tepat, berkaitan dengan aspek praktis bahasa dengan orang lain. Pragmatik meliputi bagaimana bergiliran dlam bercakap, penggunaan gerak tubuh, pemilihan intonasi dan cara berbicara dengan orang lain dalam rentang usia yang beragam. Misalnya bagaimana kita berbicara dengan orang yang lebih tua, atau yang sebaya dengan kita.


Pengembangan Bahasa
        Pengembangan bahasa merupakan aspek yang sangat penting dalam perkembangan kognitif dari seorang anak, karena bahasa memungkinkan anak untuk berpikir dengan kata-kata bukan hanya gambar. Perkembangan bahasa pada seorang bayi dipengaruhi oleh apa yang mereka dengar. 


Hubungan Antara Bahasa dan Pikiran
        Dua psikolog perkembangan yang sangat berpengaruh yaitu, Jean Piaget dan Len Vygotsky sering memperdebatkan masalah hubungan bahasa dan pikiran. 
        Piaget berteori bahwa konsep mendahului dan membantu perkembangan bahasa. Ia menjelaskan bahwa anak yang menggunakan inner speech (pembicaraan batin) besifat egosentris, nonsosial, dan tidak matang. Sosialisasi dengan anak lain menurunkan derajat egosentrisme. Makin besar sosialisasi itu, makin mengecillah ujaran egosentrisnya, dan lama-lama hilang. 
        Hipotesis Whorfian menunjukkan bahwa label tipe kepribadian ini memengaruhi cara kita berpikir tentang orang. Apakah benar bahwa penutur bahasa Inggris yang relatif fasih membuat kesimpulan berdasarkan hipotesis tipe kepribadian yang dijelaskan oleh peneliti dalam ingatan. Bahasa yang berisi tipe kepribadian tertentu yang dijelaskan oleh pelaku eksperimen dapat lebih mudah mengingat orang hipotetis dan memikirkannya dengan cara yang lebih konsisten dengan tipe kepribadian. Misalnya, peserta penelitian yang berbahasa Inggris lebih cenderung mengingat karakteristik orang hipotetis yang dianggap seni daripada mereka yang berbicara bahasa Mandarin, dan menggunakan penalaran tentang jenis seni untuk mencerminkan deskripsi karakter mereka secara lebih akurat.



Studi Hewan dalam Bahasa
        Hewan berkomunikasi dengan banyak cara. Mereka menggunakan suara seperti derik ular berbisa atau geraman peringatan dari anjing marah bahkan perilaku fisik seperti tarian dari lebah madu. Gerak tubuh yang dilakukan hewan adalah bersifat naluriah, artinya dikendalikan oleh susunan genetik dari hewan tersebut. Sedangkan pada manusia, simbol digunakan dengan sengaja dan sukarela bukan dari genetik, naluri ataupun insting. Namun, ahli bahasa masih memperdebatkan pemakaian bahasa pada hewan. Sampai saat ini, tidak ada bukti bahwa hewan dapat terlatih dalam penggunaan bahasa.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

#10 Psikologi Sosial

Semester 2   SOCIAL PSYCHOLOGY Psikologi sosial adalah ilmu tentang proses perkembangan intelektual atau mental manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, psikologi sosial mempelajari topik yang mencakup perilaku manusia dalam konteks sosial. Kemudian kondisi interaksi sosial tidak hanya dipengaruhi oleh proses psikologis tetapi juga oleh kondisi lingkungan.  SOCIAL INFLUENCE Conformity (Konformitas)           Konformitas adalah perubahan pilihan, perilaku, ataupun tindakan karena mengikuti pilihan atau perilaku orang lain ataupun standar yang berlaku. Menurut David O'sear dan Peplau (1985), konformitas adalah sikap dari suatu individu yang dipengaruhi oleh individu yang lainnya. Penelitian tentang konformitas dilakukan oleh Solomon Asch pada tahun 1951. Ia melakukan penelitian dengan meminta peserta berkumpul dalam satu ruangan dan mereka diberitahu bahwa penelitian dilakukan dengan visual. Disediakan sebuah garis standar dan tig...

#4 Learning

Semester 2  LEARNING A. Definisi Learning               Belajar adalah ketika kita mempelajari sesuatu, ketika belajar bagaimana melakukan sesuatu. Belajar adalah setiap perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya membaca, menulis dan sebagainya serta belajar itu akan lebih baik jika subjek mengalami dan melakukannya (Sardiman, 2008). Belajar sebenarnya adalah proses mengingat, karena tanpa kemampuan mengingat, orang tidak dapat mempelajari apa pun.               Tidak semua perubahan di raih dengan pembelajaran. Perubahan seperti bertambahnya tinggi badan atau ukuran otak adalah jenis perubahan lainnya yang dikendalikan oleh cetak biru genetik. Perubahan ini disebut pematangan yang disebabkan oleh biologi, bukan pengalaman. Misalnya, seorang anak yang belajar berjalan tidak h...