Langsung ke konten utama

#9 Stress and Health

 Semester 2

STRESS AND HEALTH





STRESS AND STRESSOR

Hubungan Antara Stres dan Stressor (The Relationship between Stress and Stressors)
        Stres adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan respons fisik, emosional, kognitif, dan perilaku terhadap peristiwa yang dianggap mengancam atau menantang. Stres merupakan ketegangan yang kita rasakan baik secara fisik maupun psikis ketika menghadapi situasi tertentu. Sedangkan stressor adalah hal-hal yang membuat kita stres. 
        Stres dapat muncul dengan sendirinya dalam berbagai cara, baik melalui masalah fisik ataupun masalah secara emosional. Masalah fisik dapat berupa kelelahan yang tidak biasa, masalah tidur, dan sebagainya. Secara emosional, orang yang stres mengalami kecemasan, depresi, ketakutan, dan mudah marah.
        Stressor dibagi menjadi dua, yaitu stressor yang menyebabkan distres yang terjadi ketika orang mengalami stressor yang tidak menyenangkan, dan stressor yang menyebabkan eustres yang terjadi diakibatkan oleh peristiwa positif yang masih menuntut orang untuk beradaptasi atau berubah.


Stresor Lingkungan (Environmental Stressors)
1. Bencana (Catastrophes)
            Bencana atau catastrophes adalah peristiwa besar dan tak terduga yang menyebabkan stres dan rasa ancaman yang tidak biasa. Contohnya seperti bencana alam yang terjadi tanpa disadari kemudian orang menyebabkan kerugian.

2. Perubahan Hidup yang Utama (Major Life Changes)
            Menurut Holmes & Rahe (1967), siapa pun yang menghadapi peristiwa dalam hidupnya, baik positif maupun negatif, pasti merasa stres karena harus beradaptasi dengan lingkungannya.

3. Repot (Hassles)
            Repot atau hassles adalah stres yang kita alami setiap hari karena frustrasi, penundaan, ketidaksetujuan terhadap suatu pendapat atau gejala kecil lainnya. Misalnya saat TV rusak, laptop rusak, atau lampu kamar mati. 


Stresor Psikologis (Psychological Stressors)
1. Tekanan (Pressure)
            Tekanan merupakan situasi ketika ada tuntutan atau harapan yang mendesak atas perilaku seseorang yang berasal dari sumber luar. Tekanan terjadi saat seseorang merasakan mereka harus bekerja lebih keras lagi atau lebih cepat, misalnya ketika ingin memenuhi tenggat belajar untuk melaksanakan ujian akhir sekolah.

2. Tak Terkendali (Uncontrollability)
            Faktor yang dapat meningkatkan stres seseorang yang kedua adalah tingkatan kendali yang dimiliki seseorang atas peristiwa atau keadaan tertentu. Semakin rendah kontrol yang dimiliki maka semakin tinggi tingkat stres seseorang tersebut. 

3. Frustrasi (Frustration)
            Frustrasi merupakan sesuatu yang terjadi ketika seseorang dihalangi atau dihambat dalam mencapai tujuan yang diinginkannya atau dalam memenuhi kebutuhan yang dirasakannya. Frustrasi dapat bersifat eksternal dan bersifat internal. Frustrasi yang bersifat eksternal seperti saat mobil mogok, tawaran pekerjaan yang diinginkan tak kunjung datang, dan lainnya. Keseriusan frustrasi di pengaruhi oleh seberapa penting tujuan atau kebutuhan yang diinginkan seseorang. Sebagai contoh, ketika menunggu lampu merah, orang yang tujuannya hanya pergi bersenang-senang mungkin merasa biasa saja dan tidak masala menunggu lampu merah, tetapi berbeda dengan seseorang yang sedang ingin pergi ke mal untuk mencari atau mendapatkan hadiah ulang tahun yang benar-benar penting.
            Frustrasi internal yang bisa disebut juga dengan frustrasi pribadi merupakan situasi yang terjadi ketika tujuan atau kebutuhan seseorang tidak dapat ia capai karena karakteristik internal atau pribadi. Misalnya, ketika seseorang ingin menjadi atlet basket profesional tetapi dirinya tidak mencapai kriteria seperti tinggi badan dan berat badan yang tidak mencapai kualifikasi seorang atlet basket, dia tidak bisa mencapai tujuannya karena karakteristik fisiknya. 
           Ketika seseorang merasakan frustrasi, ada beberapa respons tipikal yang akan di gunakan seseorang tersebut. Yang pertama adalah persistence atau kegigihan yaitu upaya yang dilakukan terus menerus untuk menyiasati hal apa pun yang menyebabkan seseorang frustrasi. 


4. Konflik (Conflict)
            Konflik merupakan situasi dimana seseorang dihadapkan pada dua atau lebih pilihan atau keinginan dan harus memilih salah satunya. Ada berbagai macam konflik, yaitu:
  • Konflik pendekatan-pendekatan (approach-approach conflict)
  • Konflik penghindaran-penghindaran (avoidance-avoidance conflict)
  • Konflik pendekatan-penghindaran (approach-avoidance conflict)
  • Konflik pendekatan-hindari ganda (multiple approach-avoidance conflict)

PHYSIOLOGICAL FACTORS: STRESS AND HEALTH 

Prinsipnya, tubuh manusia mampu bereaksi terhadap segala sesuatu yang mengancamnya. Ini sering disebut sebagai fight-to-flight response, di mana tubuh bereaksi terhadap hal-hal yang dianggap mengancam atau bahkan dihindari secara fisiologis, yaitu. mengabaikan Namun, yang terjadi secara berlebihan dan terus-menerus berakhir buruk, salah satunya stres pada kesehatan. Stres yang berlebihan dapat mengganggu berbagai aspek kehidupan seseorang, baik secara psikologis maupun fisiologis. Tingkat stres tertentu dapat mengganggu sejumlah fungsi tubuh, termasuk: gangguan reproduksi, gangguan pencernaan, tekanan darah tinggi, jantung berdebar, susah tidur, bahkan penyakit otot. 

Sindrom Adaptasi Umum
Sindrom adaptasi umum atau general adaptation syndrome (GAS) adalah proses tubuh yang terdiri dari berbagai tahapan yang menjelaskan perubahan fisiologis saat seseorang mengalami stres. Hans selye (1956) menyebutkan GAS terdiri atas tiga tahapan, yaitu alarm, resistensi atau perlawanan dan kelelahan.
1. Alarm
        Ketika tubuh bereaksi terhadap stressor untuk pertama kalinya, sistem saraf simpatik diaktifkan. Kelenjar adrenal mengeluarkan hormon yang menyebabkan meningkatnya detak jantung, tekanan darah, dan suplai gula darah.

2. Perlawanan (Resistance)
        Ketika stressor atau ancaman awal sudah mulai mereda, tubuh mencoba kembali ke keadaan homeostasisnya dan memperbaiki dirinya sendiri, tubuh menyesuaikan diri dengan aktivitas simpatik dengan terus melepaskan hormon stres yang dapat membantu tubuh untuk melawan pemicu stres. 

3. Kelelahan (Exhaustion)
        Ketika sumber daya tubuh habis, maka terjadilah kelelahan, dimana kelelahan ini dapat menyebabkan pembentukan penyakit yang berhubungan dengan stres, misalnya tekanan darah tinggi atau sistem kekebalan tubuh lemah.


            Grafik diatas menjelaskan bagaimana hubungan tiga tahap sindrom adaptasi umum dengan kemampuan seseorang melawan stresor. Pada tahap awal yaitu alarm, resistensi turun karena sistem simpatik dengan cepat aktif. Tetapi resistensi meningkat dengan cepat ketika tubuh mengerahkan sistem pertahanannya. Pada tahap resistensi, tubuh bekerja pada tingkat yang lebih tinggi menggunakan sumber daya hingga stres berakhir. Pada tahap kelelahan, tubuh tidak lagi mampu melawan karena sumber daya sudah habis, dan pada titik ini penyakit bahkan kematian dapat terjadi.

Sistem Kekebalan dan Stres
            Selye menemukan bahwa sistem kekebalan seperti sistem sel, organ, dan bahan kimia dalam tubuh dipengaruhi oleh stres. Ketika tubuh terinfeksi, sistem kekebalan mengeluarkan enzim ke dalam aliran darah yang mengaktifkan reseptor saraf vagus, memberi tahu otak bahwa ada infeksi di dalam tubuh. Pada saat yang sama, dalam situasi stres, tubuh juga mengaktifkan reseptor saraf vagus di otak. Selain enzim dan bahan kimia, hormon memainkan peran penting dalam pertahanan tubuh terhadap efek stres. Hormon yang ditemukan oleh para peneliti adalah dehydroepiandrosterone (DHEA), yang tidak hanya berguna pada hewan sebagai agen anti stres, tetapi juga membantu manusia mentolerir dan mengatur efek stres di hippocampus. Stres yang berkepanjangan melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti penyakit arteri koroner, diabetes tipe II, pertumbuhan tumor, dan kanker.  

Psikologi Kesehatan
            Psikologi kesehatan berfokus pada bagaimana aktivitas fisik, sifat psikologis, dan hubungan sosial yang mempengaruhi kesehatan. Psikologi yang berspesialisasi dalam bidang ini adalah psikologi klinis atau konseling dan dapat bekerja dengan dokter medis di rumah sakit atau klinik. Psikologi kesehatan mencoba memahami bagaimana perilaku seseorang seperti penggunaan obat-obatan, kepribadiannya dapat mempengaruhi kemampuan seseorang tersebut dalam melawan penyakit atau kemungkinan jatuh sakit. Psikologi kesehatan juga ingin mengetahui bagaimana faktor-faktor seperti kemiskinan, kekayaan, agama, dukungan sosial, kepribadian, bahkan etnis seseorang dapat mempengaruhi kesehatan.  

Faktor Kognitif pada Stres
            Psikolog kognitif Richard Lazarus mengembangkan pandangan kognitif tentang stres yang disebut teori emosi mediasi-kognitif, di mana cara orang berpikir tentang dan mengevaluasi stresor merupakan faktor penting dalam seberapa stres suatu stresor tertentu (Lazarus, 1991, 1999; Lazarus & Folkman, 1984). Menurut Lazarus, ada dua langkah dalam menilai tingkat ancaman dari sebuah stressor dan bagaimana seseorang harus bereaksi terhadap stressor tersebut.
  • Langkah pertama: Penilaian primer (Primary appraisal)
                Dalam penilaian primer, nilai tingkat stres pemicu dan kategorikan sebagai ancaman, tantangan, dan kerugian. Individu mengevaluasi efek atau konsekuensi yang disebabkan oleh penyebab stres dan mengklasifikasikannya ke dalam beberapa kategori. Ketika stressor dilihat sebagai tantangan, lebih mudah dihadapi daripada ancaman. Bagaimana stressor memengaruhi kita bergantung pada bagaimana kita bereaksi terhadapnya, apakah kita menganggapnya sebagai ancaman atau tantangan. 
  • Langkah kedua: Penilaian sekunder (Secondary appraisal)
                Begitu seseorang telah mengidentifikasi efek atau konsekuensi yang merugikan, mereka mulai mengevaluasi bagaimana mereka akan menghadapi stresor tersebut. Individu membandingkan energi dan sumber daya mereka sendiri, seperti moral, dukungan finansial, kenyamanan hidup, apa pun yang dapat mendukung kehidupan mereka, dengan penyebab stres. Jika ternyata sumber daya yang digunakan lebih bernilai dan berpotensi, maka tingkat stresnya lebih rendah dari energi yang dikeluarkan. Misalnya, jika kita menghadapi ujian dan berpikir sebelum ujian bahwa ujian itu akan sulit, kita dapat merencanakan caranya mengatasi tantangan ini dan dengan demikian mengurangi kemungkinan stres. Namun, jika kita menganggap ujian sebagai ancaman, kita cemas, khawatir, dan memiliki emosi negatif lainnya bahkan sebelum ujian dimulai. 


Faktor Kepribadian pada Stres
            Menilai stressor juga berhubungan dengan kepribadian seseorang, dengan kepribadian menjadi prediktor kesehatan yang paling penting. Ada empat tipe kepribadian yang menyebabkan stres:
1. Tipe A
        Kepribadian Tipe A digambarkan oleh Meyer Freidman dan Ray Rosenman, kepribadian Tipe A memiliki sikap ambisius, kompetitif dan pekerja keras, tidak membuang waktu dan rentan menderita gangguan kesehatan seperti penyakit jantung.
2. Tipe B
        Meyer Freidman dan Ray Rosenman juga menyatakan bahwa kepribadian tipe B adalah kepribadian yang lebih santai, tidak kompetitif, jarang marah, dan kecil kemungkinannya mendapat masalah.kesehatan 
3. Tipe C
        Kepribadian tipe C diperkenalkan oleh Temoshok dan Dreher (1992) dimana seseorang dengan kepribadian tipe C lebih menyukai kedamaian, kesenangan, hemat emosi, mudah merasa putus asa dan sering kesepian. Ketika seseorang memiliki emosi, hal itu dapat meningkatkan kadar hormon stres dan melemahkan sistem kekebalan tubuh.
4. Tipe H
        Kobasa (1979) mengusulkan kepribadian tipe-H. Kepribadian tipe-H gigih, berkomitmen, dan memiliki kontrol diri yang baik, dan dia melihat stres sebagai tantangan. 

Faktor Sosial dan Budaya pada Stres
            Sebagian besar stres dalam kehidupan sehari-hari muncul dari interaksi sosial atau kontak dengan orang lain. Contoh sederhana adalah kemacetan lalu lintas. Faktor sosial terbesar penyebab stres adalah kemiskinan dan stres kerja (Ciccarelli & White, 2015). Kedua faktor tersebut termasuk dalam faktor sosial yang terdapat dalam bidang ekonomi. Masalah keuangan secara tidak langsung memiliki dampak terbesar pada tingkat stres seseorang.
1. Kemiskinan
            Kemiskinan membuat stres dengan berbagai alasan. Kurangnya uang untuk mencukupi dan memenuhi kebutuhan dasar hidup menyebabkan banyak stres bagi orang dewasa dan anak-anak, kepadatan penduduk, minimnya perawatan medis, menaiknya tingkat kecacatan, lingkungan yang bising, terjadi keributan dan kekerasan, bahkan menyebabkan seseorang frustrasi hingga melakukan penyalahgunaan zat.

2. Stres Kerja
            Stres kerja merupakan salah satu faktor stres terbesar. Meskipun tujuan sebenarnya dari bekerja adalah untuk membayar, masih ada hal-hal tentang pekerjaan yang menyebabkan stres. Ada begitu banyak hal yang menyebabkan stres di tempat kerja. Salah satu efek yang serius dari stres kerja adalah kondisi yang disebut dengan kelelahan atau burnout. Burnout artinya perubahan negatif dalam pikiran, emosi dan perilaku akibat dari stres atau frustrasi yang berkepanjangan, hal tersebut mengakibatkan kelelahan mental dan fisik. Gejala dari kondisi ini adalah pesimisme, keinginan untuk menyerah dan tidak bersemangat. Kondisi ini bisa terjadi pada karyawan atau mahasiswa.

COPING WITH STRESS


Coping Strategies
            Coping strategies and strategi coping adalah tindakan yang diambil orang untuk mengurangi atau meminimalkan efek stres, dapat mencakup strategi perilaku dan strategi psikologis. Mengendalikan stres dengan strategi coping akan membantu kita merasa lebih baik secara fisik dan mental. Ada dua strategi coping, yaitu:
  • Strategi Berfokus pada Masalah (Problem-focused coping)
                Strategi coping yang berfokus pada masalah merupakan strategi untuk mengubah situasi yang dihadapi. Metode ini merupakan cara mengatasi stres dengan fokus mengatasi sumber stresor atau masalah. Dengan cara ini masalah diselesaikan dengan cepat. Misalnya ketika merasa terjebak dalam suatu hubungan, beberapa orang akan memutuskan untuk mengakhiri hubungan tersebut. Contoh lain adalah ketika kita kesulitan paham materi yang disampaikan guru atau dosen di kelas, padahal guru atau dosen tersebut sudah lama mengajar tetapi cara penyampaiannya yang membuat kita tidak paham akan materi yang dijelaskannya. Dengan menggunakan metode problem-focused coping, kita dapat mencari teman untuk bertanya ataupun menonton video pembelajaran di youtube. 
  • Strategi Berfokus pada Emosi (Emotions-focused coping)
                Strategi coping yang berfokus pada emosi merupakan strategi untuk memulihkan perasaan dan emosi. Strategi ini melibatkan perubahan cara seseorang merasakan atau bereaksi secara emosional terhadap stressor. Misalnya seorang mahasiswa memiliki masalah pada dosennya, dia akan berbagi cerita kepada temannya, membicarakannya dapat membuatnya tenang untuk menghadapi masalah tersebut. Seseorang mencari sumber solusi dengan berpikir logis dan mampu memecahkan masalah secara positif. Seseorang cenderung melakukan perilaku ini ketika mereka merasa bahwa masalah yang mereka hadapi masih dapat dikelola dan diselesaikan. Humor adalah salah satu cara mengatasi stres yang berfokus pada emosi. Karena dengan tertawa otomatis membantu kita memperkuat sistem imun (Ciccarelli & White, 2015). 

Pengaruh Dukungan Sosial terhadap Coping Stress (How Social Support Affects Coping)
            Dukungan sosial bisa di dapat melalui jaringan seperti teman, keluarga, tetangga, rekan kerja, dan orang lain yang membantu orang yang mengalami kesulitan. Bantuan yang dimaksud dapat berupa nasihat, dukungan secara fisik, dukungan secara emosional, kasih sayang atau persahabatan. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial yang baik sangat penting bagi kemampuan seseorang untuk mengatasi stresor. Menurut Cavanaugh & Buehler (2016), memiliki banyak sumber dukungan sosial seperti teman, orang tua, guru terbukti secara signifikan mengurangi kesepian dan kecemasan sosial kaum muda. Ketika kita sering mendapatkan dukungan, nasihat dan dorongan dari keluarga, teman, guru dan orang-orang yang peduli atau ingin membantu orang lain sangat membantu dalam mengurangi stres yang kita alami (Mahler, 1993).

Pengaruh Budaya terhadap Coping Stress (How Culture Affects Coping)
            Budaya yang mempengaruhi individu merupakan salah satu aspek penting dalam strategi coping stress. Budaya mempengaruhi bagaimana pandangan masyarakat mengenai stres dan bagaimana mereka mengatasi stres tersebut. Contohnya adalah anak muda di Kolombia mengatasi stres dengan berfokus pada masalah. Sedangkan anak-anak di Thailand cenderung fokus pada emosi dalam mengatasi stres.

Pengaruh Agama terhadap Coping Stress (How Religion Affects Coping)
            Agama atau keyakinan seseorang dapat mempengaruhi coping stres karena agama atau keyakinan memberikan dukungan sosial, membantu mendukung pola hidup sehat, membantu meningkatkan integrasi kepribadian, dan memberikan strategi coping yang unik. Agama atau keyakinan dapat memberikan harapan dan penerimaan, hal tersebut dapat mendorong rasa optimis dan harapan positif saat hal buruk sedang menimpa kita. Orang-orang berkumpul karena percaya pada ajaran suatu keyakinan tertentu. Hal ini dapat menciptakan rasa kebersamaan dengan cara saling mendukung, dengan memiliki tempat dan seseorang untuk berbagi dapat mengobati atau mengurangi depresi atau stres yang dialami. Selain itu efek tenang yang ada pada agama sering dilakukan lewat doa, ritual, meditasi dan bentuk lain. Oleh karena itu dengan ajaran keyakinan yang kita miliki dapat mengurangi depresi dan stres yang kita miliki.
            Dikutip dari everydayhealth.com, pada saat Anda mengalami depresi yang tidak kunjung sembuh, peran agama sangat membantu. “Agama dapat membantu dengan memberikan dukungan sosial, sumber daya, dan sarana internal yang mampu mengatasi dampak dari penyakit pada kehidupan seseorang,” ucap psikiater Mario Cruz, MD, profesor psikiatri di University of New Mexico School of Medicine di Albuquerque.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

#10 Psikologi Sosial

Semester 2   SOCIAL PSYCHOLOGY Psikologi sosial adalah ilmu tentang proses perkembangan intelektual atau mental manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, psikologi sosial mempelajari topik yang mencakup perilaku manusia dalam konteks sosial. Kemudian kondisi interaksi sosial tidak hanya dipengaruhi oleh proses psikologis tetapi juga oleh kondisi lingkungan.  SOCIAL INFLUENCE Conformity (Konformitas)           Konformitas adalah perubahan pilihan, perilaku, ataupun tindakan karena mengikuti pilihan atau perilaku orang lain ataupun standar yang berlaku. Menurut David O'sear dan Peplau (1985), konformitas adalah sikap dari suatu individu yang dipengaruhi oleh individu yang lainnya. Penelitian tentang konformitas dilakukan oleh Solomon Asch pada tahun 1951. Ia melakukan penelitian dengan meminta peserta berkumpul dalam satu ruangan dan mereka diberitahu bahwa penelitian dilakukan dengan visual. Disediakan sebuah garis standar dan tig...

#4 Learning

Semester 2  LEARNING A. Definisi Learning               Belajar adalah ketika kita mempelajari sesuatu, ketika belajar bagaimana melakukan sesuatu. Belajar adalah setiap perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya membaca, menulis dan sebagainya serta belajar itu akan lebih baik jika subjek mengalami dan melakukannya (Sardiman, 2008). Belajar sebenarnya adalah proses mengingat, karena tanpa kemampuan mengingat, orang tidak dapat mempelajari apa pun.               Tidak semua perubahan di raih dengan pembelajaran. Perubahan seperti bertambahnya tinggi badan atau ukuran otak adalah jenis perubahan lainnya yang dikendalikan oleh cetak biru genetik. Perubahan ini disebut pematangan yang disebabkan oleh biologi, bukan pengalaman. Misalnya, seorang anak yang belajar berjalan tidak h...