Langsung ke konten utama

#13 Psychological Disorder

Semester 2

PSYCHOLOGICAL DISORDER

Sejarah Abnormalitas

Pada tahun 3000 SM, ditemukan tengkorak dengan adanya bagian yang berlubang yang menunjukkan sebagai bukti kesembuhan orang tersebut dari proses "trepanning" (juga dieja trephining) yang merupakan sebuah upaya untuk mengurangi tekanan cairan di otak dengan tujuan untuk mengusir setan yang merasuki korban. Kemudian pada tahun 460-377 SM, seorang dokter Yunani yaitu Hippocrates yang merupakan tercatat sebagai orang pertama yang menjelaskan perilaku abnormal dengan beberapa proses biologis dengan pernyataan bahwa penyakit antara tubuh dan pikiran merupakan ketidakseimbangan dari cairan tubuh atau yang disebut sebagai humor. Namun, masyarakat Yunani menentang pendapat Hippocrates tersebut dan terus meyakini bahwa masalah tersebut disebabkan dari kerasukan setan. Selanjutnya, pada abad pertengahan perilaku abnormal dipercayai sebagai perilaku kerasukan roh yang dipengaruhi oleh ajaran gereja Katolik Roma dan system agama/budaya lain. Sehingga, upaya pengobatannya dilakukan dengan pengusiran setan melalui ritual keagamaan. Setelah itu, pada masa Renaisans, masyarakat percaya bahwa perilaku abnormal disebabkan oleh kerasukan setan sehingga menyerahkannya kepada sihir, dan mereka akan dihukum dengan kematian. Walaupun ada juga kesepakatan terkait pengobatannya seperti digantung, dibakar, dilempari batu, atau ditenggelamkan sebagai penyihir yang diperkirakan jumlah korbannya mencapai 100.000 orang.

Pengertian Abnormalitas

Abnormal didefinisikan sebagai perilaku ketidaknormalan yang tidak sesederhana yang tampak. Perilaku abnormal ini merupakan perilaku yang sebenarnya tidak normal. Pertimbangan seorang psikolog dalam menentukan apakah sebuah perilaku abnormal atau tidak, diantaranya: 

Definisi Statistik 
Abnormal Salah satu cara untuk mendefinisikan konsep normal dan abnormal ialah dengan menggunakan definisi statistic. Perilaku abnormal merupakan perilaku yang jarang terjadi, sedangkan perilaku normal adalah perilaku yang sering terjadi. Hal ini misalnya tampak pada perilaku orang yang sama sekali tidak berbicara dengan orang lain, dan orang yang terlalu sering dan banyak berbicara dengan orang lain. Kedua perilaku tersebut akan dianggap tidak normal. Sedangkan untuk kebahagiaan, orang yang terlalu bahagia tidak bisa dikatakan sebagai yang tidak normal karena definisi statistic kelainan tidak akan bekerja untuk kecerdasan, namun hanya tercatat pada kecacatan intelektual atau keterbelakangan mental akan dianggap tidak normal. Orang yang tingkat kecerdasannya lebih tinggi dari orang lain akan sangat dihormati. 

Perangkat Normal Sosial 
Selain definisi statistik, perilaku abnormal individu dapat dilihat dari bagaimana seseorang bertentangan dengan norma atau standar masyarakat lingkungan individu tersebut. Misalnya, individu yang menolak menggunakan pakaian dalam masyarakat dan lebih memilih untuk tampil tanpa menggunakan busana dapat dikatakan sebagai abnormal. Namun, tidak semua perilaku penyimpangan dari norma sosial dikatakan sebagai perilaku tidak normal. Misalnya, individu yang memutuskan untuk menjadi seorang biarawan dan tinggal di sebuah biara di Amerika akan menunjukkan perilaku yang tidak biasa dan tentu saja tidak sesuai dengan standar perilaku masyarakat pada umumnya. Tetapi, hal itu bukanlah sebuah kelainan yang bisa disebut sebagai perilaku abnormal. Selain itu, konteks situasional (lingkungan sosial atau lingkungan dari perilaku seseorang) dapat membuat perbedaan dalam bagaimana perilaku individu diberi label. Misalnya, jika seseorang datang ke terapis untuk mengeluhkan tentang orang-orang yang mendengarkan percakapan telepon dan memata-matai semua aktivitasnya, maka pikiran pertama teraapis adalah ia merupakan seseorang yang menderita penganiayaan. Namun, apabila ia menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya sedang dalam program perlindungan saksi, maka pengaduan yang ditangani akan sangat berbeda dan dapat dimengerti. 

Subjective Discomfort 
Salah satu tanda individu abnormal ialah ketia ia mengalami banyak ketidaknyamanan yang subjektif, atau tekanan emosional saat terlibat dalam perilaku tertentu. Misalnya, seorang wanita yang  menderita ketakutan keluar rumah akan mengalami kecemasan yang luar biasa ketika mencoba meninggalkan rumah dan akan mengalami kesulitan sehingga tidak jadi keluar rumah. Namun, perilaku ini tidak demikan bisa mencipkatan ketidaknyamanan subjektif pada orang yang melakukan tindakan tersebut. Contoh lainnya ialah ketika seorang pembunuh yang tidak mengalami tekanan emosional setelah mengambil nyawa seseorang dan beberapa bentuk perilaku tidak teratur melibatkan emosi sama sekali. 

Ketidakmampuan Berfungsi Secara Normal 
Ketika seseorang tidak dapat menyesuaikan diri masyarakat atau fungsi biasanya akan dicap tidak normal. Perilaku ini dinamakan perilaku maladaptive yang artinya orang tersebut sulit untuk beradaptasi dengan tuntutan kehidupan. Perilaku maladaptive merupakan perilaku yang pada awalnya dapat membantu seseorang dalam mengatasi masalahnya, namun dapat memiliki efek yang berbahaya juga. Misalnya seorang wanita yang melakukan self harm untuk menghilangkan kecemasannya mungkin dapat mengalami kelegaan pada awalnya, namun akan dirugikan akan tindakan tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku maladaptive merupakan elemen kunci dari definisi kelainan. 

Perspektif Sosial Budaya 
Dalam perspektif budaya, perilaku yang dianggap abnormal dalam suatu budaya belum tentu abnormal bagi budaya tertentu. Dalam perspektif sosiokultural tentang kelainan, abnormal perilaku (serta perilaku normal) dilihat sebagai produk dari pembentukan perilaku dalam konteks pengaruh keluarga, kelompok sosial di mana seseorang berada, dan budaya di mana keluarga dan kelompok sosial berada. Secara  khusus, budaya perbedaan dalam perilaku abnormal harus ditangani ketika profesional psikologis mencoba menilai dan memperlakukan anggota budaya yang berbeda dari itu profesional. Relativitas budaya adalah istilah yang mengacu pada kebutuhan untuk dipertimbangkan karakteristik unik dari budaya tempat orang yang memiliki kelainan itu berada dipupuk untuk dapat mendiagnosis dan mengobati gangguan dengan benar. Misalnya dalam sebagian besar orang tradisional Asia, penyakit mental sering dipandang sebagai aib dan hal memalukan yang dapat merusak peluang pernikahan keluarga anggota lain karena dianggap merupakan karma dari nenek moyangnya dimasa lalu. Oleh karena itu banyak orang Asia yang menderita gangguan akan diberi label depresi atau bahkan skizofrenia yang melaporkan gejala tubuh daripada gejala emosional atau mental karena penyakit tubuh lebih banyak. Seseorang dapat dikatakan memiliki perilaku abnormal apabila ia setidaknya memiliki dua dari lima kriteria yang diklasifikasikan dengan istilah gangguan psikologis yang didefinisikan sebagai pola perilaku apa pun yang menyebabkan orang sangat tertekan, menyakiti diri sendiri atau orang lain, atau merusak kemampuan mereka untuk berfungsi dalam kehidupan sehari- hari.

Model Abnormalitas

Model Biologis

Salah satu model yang menjelaskan bahwa gangguan seperti kecemasan, depresi, dan skizofrenia disebabkan oleh ketidakseimbangan kimiawi, masalah genetic, kerusakan dan disfungsi otak, atau kombinasi dari penyebab tersebut. Model biologis ini memiliki pengaruh besar terutama dalam bahasa yang untuk menggambarkan gangguan: penyakit mental, gejala gangguan, dan istilah seperti diagnosa, pasien jiwa, rumah sakit jiwa, terapi, dan remisi semuanya berasal terminologi medis. Penggunaan istilah seperti itu mungkin cenderung bias karena para profesional yang bukan psikiater atau dokter medis mengarahkan pada penyebab biologis untuk perilaku tidak teratur atau gagasan bahwa gangguan pada penyakit yang mungkin dapat disembuhkan. Banyak gangguan dapat dikendalikan secara efektif tetapi mungkin tidak diselesaikan sepenuhnya dengan model biologis ini.

Model Psikologis

Meskipun penjelasan biologis tentang gangguan psikologis berpengaruh, namun mereka bukan satu-satunya cara atau bahkan cara pertama di mana gangguan dijelaskan. Beberapa model psikologis menjelaskan perilaku yang abnormal sebagai akibat dari berbagai bentuk gangguan fungsi emosional, perilaku, atau pikiran.

a, Gangguan Psikodinamis : Menyembunyikan Masalah
Model psikodinamik, berdasarkan karya Freud dan para pengikutnya, yang menjelaskan perilaku tidak teratur sebagai akibat dari penindasan yang mengancam pikiran, kenangan, dan kekhawatiran dalam pikiran bawah sadar (Carducci dalam Cicarelli, 2015). Pikiran dan dorongan yang tertekan mencoba muncul kembali, dan perilaku yang tidak teratur berkembang sebagai pikiran yang tertekan. Menurut pandangan ini, wanita 
yang memiliki pikiran yang tidak dapat diterima tentang tidur dengan saudara iparnya mungkin akan terasa "kotor" dan menjadi dipaksa untuk mencuci tangannya setiap kali pikiran itu mengancam untuk menjadi sadar, membersihkan dirinya secara simbolis dari pikiran-pikiran "kotor".

b. Perilaku : Mempelajari Masalah
Perilaku mendefinisikan kepribadian sebagai satu set respons yang dipelajari, tidak kesulitan menjelaskan perilaku tidak teratur sebagai yang dipelajari saja seperti perilaku normal (Skinner, 1971; Watson, 1913). Misalnya, saat Emma yang merupakan seorang anak kecil mendapati seekor laba-laba jatuh ke kakinya yang menyebabkan ia berteriak dan bereaksi ketakutan. Ibunya melihat dan memberinya perhatian. Setiap kali Emma melihat seekor laba-laba setelah ini, dia berteriak lagi, menarik perhatian pada dirinya sendiri. Ahli perilaku akan mengatakan bahwa ketakutan Emma terhadap laba-laba dikondisikan secara klasik, dan reaksi teriakannya diperkuat secara positif oleh semua perhatian.

c. Perspektif Kognitif : Masalah Bepikir
Psikolog kognitif mempelajari cara orang berpikir, mengingat, dan mengatur informasi secara mental dan kemudian mereka melihat perilaku abnormal sebagai akibat dari pola berpikir yang tidak logis. Seorang psikolog kognitif mungkin menjelaskan ketakutan Emma terhadap laba-laba sebagai pemikiran yang terdistorsi: “Semua laba-laba ganas dan akan menggigitku, dan aku akan mati! ". Pola pikir khusus Emma membuatnya tertarik terhadap risiko depresi dan kecemasan yang lebih tinggi daripada orang yang berpikir lebih logis.

Perspektif Biopsychological

Dalam beberapa tahun terakhir, pengaruh biologi, psikologis, dan sosiokultural pada kelainan tidak lagi dilihat sebagai penyebab independen dari perilaku abnormal. Sebaliknya, saat ini pengaruh berinteraksi satu sama lain menimbulkan berbagai bentuk gangguan. Misalnya, seseorang mungkin memiliki kecenderungan yang diturunkan secara genetik untuk suatu jenis kelainan, seperti kecemasan, tetapi mungkin tidak mengembangkan gangguan total kecuali keluarga dan lingkungan sosial menghasilkan stres yang tepat pada waktu yang tepat dalam perkembangan. Melainkan bagaimana ia menerima gangguan tersebut dari  budaya tertentu yang juga akan berperan dalam menentukan tingkat dan bentuk yang tepat yang mungkin diambil dari gangguan kecemasan. Ini dikenal sebagai model gangguan biopsikososial, yang telah menjadi cara pandang yang sangat berpengaruh antara pikiran dan tubuh.

Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental, Edisi Keempat Revisi Teks (DSM-IV-TR)

Pada tahun 1952, edisi pertama Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM) diterbitkan untuk membantu profesional psikologis yang mendiagnosis gangguan psikologis. Versi DSM saat ini disebut Diagnostik dan Manual Statistik Gangguan Mental, Edisi Keempat, Revisi Teks (DSM-IV-TR). Versi revisi teks tidak mengubah kategori apa pun dari DSM-IV lama tetapi menambahkan materi teks baru ke kategori yang ada.

Kategori Dalam DSM-IV-TR

DSM-IV-TR menjelaskan sekitar 250 gangguan psikologis yang berbeda. Setiap gangguan dijelaskan dalam kaitannya dengan gejalanya, jalur khas yang diambil gangguan tersebut seiring perkembangannya, dan daftar periksa kriteria khusus yang harus dipenuhi untuk di diagnosis gangguan itu akan dibuat. Manual tersebut juga membagi gangguan ini dan fakta yang relevan tentang orang yang didiagnosis dalam lima kategori yang berbeda, atau sumbu. Seorang Psikolog atau Psikiater menilai orang tersebut pada masing-masing dari lima sumbu ini.
  • Axis I, Clinical Disorders, mengandung kelainan yang membawa kebanyakan orang ke perhatian seorang profesional psikologis. Dengan pengecualian gangguan kepribadian, semua gangguan psikologis terdaftar pada sumbu ini.
  • Axis II mencantumkan kepribadian gangguan bersama dengan keterbelakangan mental (paling sering sekarang disebut intelektual disabilitas). Gangguan kepribadian adalah bagian dari kepribadian individu dan relatif stabil serta bertahan lama, memengaruhi hubungan, karier, dan perilaku. Stabilitas dan sifat abadi dari gangguan kepribadian tampak lebih mirip dengan suatu kondisi seperti keterbelakangan mental, yang merupakan gangguan perkembangan yang mempengaruhi banyak area dari kehidupan individu.
  • Axis III mencakup gangguan fisik yang memengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang, seperti diabetes remaja, gangguan kromosom seperti sindrom Klinefelter, dan tekanan darah tinggi.
  • Axis IV berisi informasi tentang masalah yang ada pada kehidupan orang tersebut yang mungkin memengaruhi penyesuaian, seperti kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, atau kemiskinan.
  • Axis V, Global Assessment of Functioning, adalah penilaian keseluruhan dibuat oleh ahli psikologis dari kesehatan mental dan penyesuaian diri, secara harfiah peringkat pada skala 0 hingga 100. Misalnya, skor 91–100 akan diartikan sebagai fungsi superior, 71–80 sebagai masalah sementara karena stres, dan 41–50 akan menunjukkan gejala serius atau gangguan fungsi.

Seberapa Umum Gangguan Psikologi?

Sebenarnya gangguan psikologis lebih umum dari yang diperkirakan kebanyakan orang. Pada suatu tahun tertentu, sekitar 26,2% orang dewasa Amerika yang berusia di atas 18 tahun menderita gangguan mental yang mencapai sekitar 57,7 juta orang di Amerika Serikat. Secara statistik, gangguan mental adalah penyebab utama kecacatan di Amerika Serikat dan Kanada. Faktanya, cukup umum bagi orang yang menderita lebih dari satu gangguan mental pada satu waktu, seperti penderita depresi yang juga memiliki gangguan kecemasan yang juga menderita gangguan tidur. Sekitar 45% individu dengan gangguan mental memenuhi kriteria untuk 2 gangguan atau lebih.

Pro dan Kontra Label

Dengan daftar gangguan dan gejala yang sesuai, DSM-IV-TR membantu profesional psikologis mendiagnosis pasien dan menyediakannya pasien dengan label yang menjelaskan kondisi mereka. Di dunia diagnosis dan pengobatan psikologis, label seperti depresi, kecemasan, dan skizofrenia bisa sangat membantu. Pada tahun 1972, peneliti David Rosenhan meminta peserta yang sehat untuk masuk ke rumah sakit jiwa dan mengeluh bahwa mereka mendengar suara. Semua peserta, yang oleh Rosenhan disebut "pseudo patients", dirawat di rumah sakit dan didiagnosis dengan keduanya skizofrenia atau depresi manik. Begitu pseudopati diterima, mereka berhenti berpura-pura sakit dan bertindak seperti biasanya, tetapi staf rumah sakit menginterpretasi dari perilaku normal pseudopati dirusak oleh label penyakit mental. Misalnya, pekerja rumah sakit menggambarkan hubungan seorang pseudopati yang relatif normal dengan keluarga dan teman sebagai bukti gangguan psikologis, dan kebiasaan mencatat pesudopati orang lain dianggap sebagai perilaku patologis. Rosenhan menyimpulkan bahwa label psikologis itu tahan lama dan kuat, tidak hanya memengaruhi cara pandang orang lain pasien mental tetapi bagaimana pasien melihat diri mereka sendiri. Label dapat menjadi alat yang menghemat waktu dan bahkan menyelamatkan hidup, tetapi label juga dapat membuat bias, memengaruhi penilaian kita, dan memberi kita praduga yang mungkin berubah menjadi sangat baik atau salah. Untuk memperjelas, label diagnostik yang tercantum di DSM-IV-TR dimaksudkan untuk membantu psikolog dan pasien, dan mereka membantu.

Anxiety Disorder (Gangguan Kecemasan)

Jenis Gangguan dan Gejalanya

Kategori gangguan kecemasan meliputi gangguan yang gejalanya paling dominan adalah kecemasan yang berlebihan atau tidak realistis. Kecemasan dapat mengambil bentuk yang sangat spesifik, seperti ketakutan terhadap objek tertentu, atau bisa menjadi emosi yang sangat umum, seperti kekhawatiran yang tidak tahu alasannya mengapa. Setiap orang memang memiliki kecemasan, dan beberapa orang terkadang sangat cemas. Free-floating anxiety adalah istilah yang diberikan untuk kecemasan yang tampaknya tidak terkait dengan faktor yang diketahui dan realistis, dan sering kali merupakan gejala gangguan kecemasan. 

Gangguan Fobia: Saat Ketakutan Keluar Dari Tangan
Salah satu gangguan kecemasan yang lebih spesifik adalah fobia, ketakutan yang tidak masuk akal dan terus menerus terhadap sesuatu bisa berupa objek atau situasi atau melibatkan interaksi sosial. Misalnya, fobia terhadap ular. Menghindari ular yang hidup adalah rasional, tetapi menghindari gambar ular itu tidak.

Gangguan Kecemasan Sosial (Fobia Sosial)
Gangguan kecemasan sosial (juga disebut dengan fobia sosial) melibatkan rasa takut berinteraksi dengan orang lain atau berada dalam situasi sosial dan merupakan salah satu fobia paling umum yang dialami orang. Orang dengan gangguan kecemasan sosial takut didiskriminasi secara negatif oleh orang lain, sehingga mereka cenderung menghindari situasi yang dapat menyebabkan sesuatu yang memalukan. Akibatnya, mereka sangat sadar diri. Jenis fobia sosial yang umum adalah demam punggung, takut berbicara di depan umum, dan takut buang air kecil di toilet umum. Tidak mengherankan, orang dengan fobia sosial sering kali memiliki riwayat pemalu saat masih anak-anak.
 
Fobia Spesifik
Fobia spesifik adalah ketakutan irasional terhadap beberapa objek atau situasi tertentu, seperti ketakutan pada anjing atau ketakutan berada di ruang kecil yang tertutup (klaustrofobia). Fobia spesifik lainnya termasuk ketakutan akan suntikan (trypanophobia), takut perawatan gigi (odontophobia), takut darah (hematophobia), takut mencuci dan mandi (ablutophobia), dan takut ketinggian (acrophobia).

Agoraphobia
Jenis fobia ketiga adalah agoraphobia, ini adalah ketakutan berada di tempat atau situasi yang sulit atau tidak mungkin melarikan diri jika terjadi kesalahan. Kecemasan ini hadir lebih dari satu situasi. Seseorang didiagnosis dengan agorafobia jika merasa cemas setidaknya dalam dua dari lima kemungkinan situasi seperti menggunakan transportasi umum seperti bus atau pesawat, berada di tempat tertutup seperti toko bahan makanan atau bioskop, berdiri dalam antrean atau berada di tengah keramaian seperti di konser, atau berada di luar rumah sendirian. Jika seseorang menderita agorafobia, mungkin akan sulit bahkan untuk pergi bekerja atau ke toko. Orang dengan fobia tertentu biasanya dapat menghindari objek atau situasi tersebut tanpa terlalu banyak kesulitan, dan orang dengan fobia sosial dapat dengan mudah menghindari pekerjaan dan situasi yang melibatkan pertemuan dengan orang secara langsung. Tetapi orang dengan agoraphobia tidak dapat menghindari sumber fobia mereka karena itu hanya berada di luar di dunia nyata. Kasus agoraphobia yang parah dapat membuat rumah seseorang menjadi penjara, membuat orang yang terperangkap di dalamnya tidak dapat pergi bekerja, berbelanja, atau melakukan aktivitas apa pun yang mengharuskan keluar rumah.

Gangguan Panik
Gangguan panik memiliki berbagai jenis gejala fisik: jantung berdebar kencang, napas cepat, sensasi "keluar dari tubuh",  pendengaran dan penglihatan tumpul, berkeringat, dan mulut kering. Serangan panik terjadi lebih dari sekali atau berulang kali dan menyebabkan kekhawatiran terus-menerus atau perubahan perilaku, hal itu menjadi gangguan panik. Banyak orang yang mengalami serangan jantung dan dapat mengalami rasa sakit serta panik, tetapi  gejala tersebut disebabkan oleh rasa panik, bukan oleh gangguan fisik yang sebenarnya. Secara psikologis, orang yang mengalami serangan panik berada dalam keadaan teror dan banyak orang mungkin merasa perlu untuk melarikan diri. Serangan itu terjadi tanpa peringatan dan tiba-tiba. Meskipun beberapa hanya berlangsung beberapa menit, dengan sebagian besar serangan memuncak dalam 10 hingga 15 menit.

Gangguan Kecemasan Umum
Free-floating anxiety merupakan jenis kecemasan yang tidak diketahui sumbernya secara spesifik dan mungkin dialami oleh orang-orang dengan gangguan kecemasan umum, di mana kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan. Perasaan cemas ini tidak memiliki sumber  khusus yang dapat ditunjukkan, dan orang tersebut juga tidak dapat mengontrol perasaan tersebut bahkan jika ada upaya untuk melakukannya. Orang dengan gangguan ini hanyalah orang yang cemas. Mereka terlalu khawatir tentang uang, anak-anak mereka, kehidupan mereka, teman-teman mereka. anjing, serta hal-hal yang tidak dianggap orang lain sebagai alasan untuk khawatir. Mereka merasa tegang, gelisah, mudah lelah, dan mungkin sulit berkonsentrasi. Mereka mengalami nyeri otot, mereka mengalami masalah tidur, dan mereka sering mudah tersinggung karena semua tanda stres. Gangguan kecemasan umum sering ditemukan terjadi dengan gangguan kecemasan dan depresi lainnya.

Gangguan Lain Terkait Kecemasan

Kecemasan merupakan gejala umum, gangguan berikut tidak lagi diklasifikasikan sebagai gangguan kecemasan dalam DSM-5. Gangguan obsesif-kompulsif sekarang termasuk dalam kategori "Obsesif-Kompulsif dan Gangguan Terkait", sedangkan gangguan stres pasca trauma dan gangguan stres akut ditemukan di bawah "Gangguan Terkait Trauma dan Stresor".

Gangguan Obsesif Kompulsif
Terkadang orang-orang memikirkan sesuatu yang tidak akan hilang begitu saja, seperti ketika sebuah lagu terjebak dalam pikiran nya. Jika pikiran tertentu itu menyebabkan banyak kecemasan, itu bisa menjadi dasar untuk gangguan obsesif-kompulsif, atau OCD. OCD adalah gangguan di mana pikiran yang mengganggu yang muncul berulang  kali (obsesi, seperti ketakutan bahwa kuman ada di tangan) diikuti oleh perilaku berulang, ritualistik atau tindakan mental (dorongan, seperti mencuci tangan berulang kali, berhitung, dll.). Kompulsi dimaksudkan untuk menurunkan kecemasan yang disebabkan oleh pikiran.

Acute Stress Disorder (Asd) And Posttraumatic Stress Disorder (Ptsd)
Stres dan kesehatan. Dua gangguan terkait trauma dan stresor gangguan stres akut dan gangguan stres pasca trauma terkait dengan paparan stresor yang signifikan dan traumatis. Gejala ASD sering muncul segera setelah peristiwa traumatis dan meliputi kecemasan, gejala disosiatif (seperti mati rasa emosional/kurang responsif, tidak sadar akan lingkungan sekitar, amnesia disosiatif), mimpi buruk berulang, gangguan tidur, masalah konsentrasi, dan saat-saat di mana orang-orang tampaknya "menghidupkan kembali" peristiwa dalam mimpi dan kilas balik selama 1 bulan setelah peristiwa tersebut. 

Ketika gejala yang terkait dengan ASD berlangsung selama lebih dari 1 bulan, gangguan tersebut kemudian disebut gangguan stres pasca trauma (PTSD). Dalam studi yang sama, para peneliti menyimpulkan bahwa 38-49% dari semua pengungsi yang menjadi sampel berisiko mengembangkan PTSD yang akan tetap ada 2 tahun setelah bencana. Selain itu, jika timbulnya ASD sering terjadi segera setelah peristiwa traumatis, gejala PTSD mungkin baru muncul 6 bulan atau lebih setelah peristiwa tersebut. Pengobatan gangguan stres ini mungkin melibatkan psikoterapi dan penggunaan obat-obatan untuk mengendalikan kecemasan.

Penyebab Kecemasan, Trauma, dan Gangguan Stres

Behavioral dan Cognitive Factor
Psikolog kognitif melihat gangguan kecemasan sebagai hasil dari proses berpikir yang tidak logis dan tidak rasional. Salah satu cara orang dengan gangguan kecemasan menunjukkan pemikiran irasional (Beck, 1976, 1984) adalah melalui pembesaran, atau kecenderungan dengan menafsirkan situasi sebagai jauh lebih berbahaya, atau memalukan daripada yang sebenarnya. Dalam gangguan panik, misalnya, seseorang mungkin menafsirkan detak jantung yang berdebar kencang sebagai tanda serangan jantung, bukan hanya gairah sesaat.
Psikolog perilaku kognitif mungkin melihat kecemasan terkait dengan proses pemikiran terdistorsi lain yang disebut pemikiran semua atau tidak sama sekali, di mana seseorang percaya bahwa kinerjanya harus sempurna atau hasilnya akan menjadi kegagalan total. Generalisasi yang berlebihan merupakan satu peristiwa negatif yang ditafsirkan sebagai pola kekalahan yang tidak pernah berakhir, dan minimisasi memberi sedikit atau tidak ada penekanan pada keberhasilan seseorang atau peristiwa dan sifat positif, ini merupakan contoh lain dari pemikiran irasional.
Factor Biological
Bukti yang berkembang ada bahwa faktor biologis berkontribusi pada gangguan kecemasan. Beberapa gangguan, termasuk gangguan kecemasan umum, gangguan panik, fobia, dan OCD, cenderung diturunkan dalam keluarga, menunjukkan dasar genetik untuk gangguan ini. Selain itu, faktor genetik dalam PTSD juga tampaknya mempengaruhi risiko perkembangan gangguan dan kemungkinan individu mungkin terlibat dalam situasi yang berpotensi berbahaya.

Variasi Budaya
Gangguan kecemasan ditemukan di seluruh dunia, meskipun bentuk khusus gangguan tersebut mungkin berbeda di berbagai budaya. Misalnya, di beberapa budaya Amerika Latin, kecemasan dapat berbentuk ataque de nervios, atau "serangan saraf", di mana orang tersebut mungkin menangis, berteriak tak terkendali, merasakan panas, dan menjadi sangat agresif, baik secara lisan atau fisik. Serangan ini biasanya datang setelah beberapa peristiwa yang membuat stres seperti kematian orang yang dicintai.

Somatoform Disorder

Pengertian Somatoform Disorders

Dalam psikologi dikenal istilah somatoform disorder yang diambil dari bahasa Yunani Soma yang berarti “tubuh”. Dalam gangguan somatoform, orang memiliki simptoms fisik yang mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan penyebabnya. angguan somatoform adalah sekelompok gangguan mental yang ditempatkan dalam kategori umum berdasarkan gejala eksternal merek. Gangguan ini ditandai dengan keluhan fisik yang tampaknya medis tetapi yang tidak dapat dijelaskan dengan penyakit fisik, hasil penyalahgunaan zat, atau gangguan mental lainnya. Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik seperti nyeri, mual dan pusing dimana tidak dapat ditemukan penjelasan menis. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinis bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan dan durasi gejala. Gangguan somatoform tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.

Gangguan Somatoform

Gangguan Nyeri (Pain Disorder)
Pada gangguan ini individu akan mengalami nyeri pada satu tempat atau lebih yang tidak dapat dijelaskan dengan pemeriksaan medis. Rasa sakit ini diduga muncul akibat faktor konflik psikologis. Penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan pelatihan relaksasi, mengajari penderita bagaimana caranya menghadapi stres, mendorong untuk mengerjakan aktivitas yang lebih baik, dan meningkatkan kontrol diri.
Gangguan nyeri ditandai dengan adanya sakit parah sebagai fokus perhatian pasien . kategori gangguan somatoform yang mencakup berbagai pasien dengan berbagai penyakit, termasuk sakit kepala kronis, masalah punggung, arthritis, nyeri otot dan kram, atau nyeri panggul. Dalam beberapa kasus nyeri pasien tampaknya sebagian besar karena faktor psikologis, namun dalam kasus lain rasa sakit berasal dari suatu kondisi medis serta psikologi pasien.

Gangguan Dimorfik Tubuh (Body Dysmorphic Disorder)
Merupakan keluhan yang berlebihan/dibesar-besarkan tentang kekurangan tubuh. Penyebab dari gangguan ini belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan faktor budaya atau sosial mempengaruhi. Misalnya adanya konsep bahwa perempuan cantik adalah yang memiliki hidung yang mancung, seorang individu  yang mengalami gangguan dimorfik tubuh bisa jadi akan menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin untuk mengamati kekurangan hidungnya atau bisa jadi ia akan mengeluarkan biaya berapa pun untuk memperbaiki hidungnya dengan cara operasi plastik.

Hypochondriasis
Yakni ketakutan akan penyakit serius. Kecemasan yang dialami oleh seorang penderita hipokondria bukan hanya sekedar meyakininya saja melainkan juga disertai dengan tindakan, penderita hipokondria akan selalu menanggapi keluhan-keluhn fisik dengan sangat serius dan menyimpulkan bahwa dia menderita penyakit tertentu. Misal ketika menderita batuk, penderita hipokondria akan menganggap bahwa ia mengalami penyakit TBC atau kanker paru, sehingga ia akan terus memeriksakan dirinya ke dokter dan tidak mempercayai hasil lab, sekalipun hasil tersebut sudah sangat akurat.
Penyebab hipokondria umumnya adalah trauma, kecemasan, beban emosional dan konflik psikologis. Penanganan yang bisa dilakukan untuk para penderita hypochondriasis adalah dengan terapi kognitif behavioral karena terapi ini dapat mengubah pemikiran yang pesimis.

Gangguan Konversi
Menurut DSM IV, gangguan konversi adalah gangguan dengan karakteristik munculnya satu atau beberapa simtom neurologis (misal: buta, lumpuh, dll) yang tidak dapat dijelaskan secara medis dan diduga faktor psikologis memiliki peranan penting dengan awal dan keparahan gangguan.
Gangguan konversi (conversion disorders) dicirikan oleh suatu perubahan besar dalam fungsi fisik, meski tidak ada temuan medis yang dapat ditemukan sebagai simtom atau kemunduran fisik. Simtom-simtom ini tidaklah dibuat secara sengaja. Simtom fisik itu biasanya timbul tiba-tiba dalam situasi yang penuh tekanan. Tangan seorang tentara dapat menjadi “lumpuh” saat pertempuran yang hebat.
Menurut DSM, simtom konversi menyerupai kondisi neurologis atau medis umum yang melibatkan masalah dengan fungsi motorik (gerakan) yang volunteer atau fungsi sensoris. Babarapa pola simtom yang klasik melibatkan kelumpuhan, epilepsy, masalah dalam koordinasi, kebutaan tunnel vision (hanya bisa melihat apa yang berada tepat didepan mata), kehilangan indra paendengaran atau penciuman atau kehilangan rasa pada anggota badan (anestesi).

Gangguan Somatisasi
Gangguan somatisasi adalah gangguan dengan karakteristik berbagai keluhan atau gejala somatik yang tidak dapat dijelaskan secara adekuat (tidak memenuhi syarat) dengan menggunakan hasil pemeriksaan fisik maupun laboratorium. Gangguan ini bersifat kronis (muncul selama beberapa tahun dan terjadi sebelum usia 30 tahun) dan berhubungan dengan stres psikologis yang signifikan, hendaya dalam kehidupan sosial dan pekerjaan serta upaya mencari pertolongan medis yang berlebihan.

Penanganan terhadap Somatoform

Jika memang terindikasi penderita somatoformdisorder disarankan segera mendatangi psikolog untuk diberikan penanganan terapi agar gangguan dapat berkurang. Namun untuk kamu yang masih dalam taraf yang normal berikut tips agar mengurangi rasa cemas atau gugup pada saat menghadapi situasi-situasi yang kurang membuat kamu nyaman.

1. Tunda Kecemasan
Ini adalah teknik sederhana mengatasi kecemasan. Jika kamu sedang menghadapi situasi yang mengkhawatirkan, coba katakan pada diri sendiri "nanti aja deh aku mengkhawatirkan ini, karna gak akan terjadi apa-apa hari ini". Setiap kali masalah muncul di pikiran kamu, pakailah cara ini karna fakta mengatakan bahwa kecemasan berlebihan sebagian besar tidak pernah terjadi. Menunda hanya cara untuk mengatasi pikiran negatif. Sifat alami dari pikiran manusia adalah menciptakan masalah dan mencemaskannya. Teknik ini adalah cara mengatasi kecemasan berlebihan yang paling mudah.

2. Ambil Tindakan
Rasa cemas membuat kita lumpuh oleh ketakutan. Daripada hanya mencemaskannya saja, pikirkan dengan hati-hati langkah yang bisa diambil untuk menghindari masalah tersebut. Misalnya, ketika kamu mencemaskan masalah keuangan, pikirkan cara untuk mengurangi pengeluaran, cara meningkatkan pendapatan, dsb. Cara mengatasi kecemasan bukan hanya dengan merasakannya dan seolah tidak berdaya. Ambil lah tindakan, beberapa masalah tidak boleh diabaikan dan butuh tindakan, sebagian lagi tidak memerlukan tindakan apa-apa karena hanya merupakan imajinasi belaka.

3. Hati-Hati dengan Apa yang Dipikirkan
Ketika kita sering memikirkan sesuatu, kemungkinan besar hal tersebut terwujud. Jadi kita khawatir akan membuat kesalahan, peluang kesalahan tersebut bisa terjadi semakin besar. Oleh karena itu, hati-hatu dengan apa yang kamu pikirkan. Daripada memikirkan hal yang negatif, pikirkan cara mendapatkan jalan keluar dari masalah.

4. Kendalikan Pikiran
Cara menghilangkan kecemasan yang paling utama adalah dengan belajar mengendalikan pikiran. Kadang kita dikuasai oleh pikiran sendiri, seolah kita diperbudak oleh pikiran yang belum jelas. Identifikasi pikiran yang muncul terlebih dahulu, terima jika pikiran itu benar dan keluarkan bila pikiran itu hanya merusak diri. Milikilah kemampuan untuk mengendalikan pikiran kita sendiri.

5. Jangan Bersikap Angkuh
Kita sering khawatir tentang penilaian orang lain terhadap diri sendiri. Kita khawatir tidak dapat memenuhi harapan orang lain. Pemikiran seperti itu yang membuat diri angkuh karena terus-menerus mencari penghargaan dan kekaguman dari orang lain. Diperlukan kepercayaan diri yang tinggi dan ketenangan batin untuk tidak khawatir terhadap penilaian orang lain.

Dissociative Disorder

Gangguan disosiatif melibatkan disosiasi, dalam kesaadaran, ingatan, atau rasa identitas seseorang. "split" ini lebih mudah dipahami ketika memikirkan tentang bagaimana orang terkadang mengemudi ke suatu tempat dan kemudian bertanya- tanya bagaimana mereka sampai di sana, mereka sama sekali tidak ingat perjalanan itu. Salah satu bagian dari pikiran sadar sedang memikirkan tentang pekerjaan, sekolah, atau apa pun yang paling penting, sementara pusat kesadaran yang lebih rendah sedang mengemudikan mobil, berhenti di lampu merah, dan berbelok saat diperlukan. “Split” ini sangat mirip dengan apa yang terjadi pada gangguan disosiatif. Perbedaannya adalah bahwa pada gangguan ini disosiasi jauh lebih jelas dan tidak disengaja.

Dissociative Amnesia And Fugue: Who Am I And How Did I Get Here?

Dalam amnesia disosiatif, individu tidak dapat mengingat informasi pribadi seperti nama sendiri atau peristiwa pribadi tertentu. Amnesia disosiatif mungkin terdengar seperti amnesia retrograde, tetapi penyebabnya berbeda. Pada amnesia retrograde, kehilangan ingatan biasanya disebabkan oleh cedera fisik, seperti pukulan di kepala. Pada amnesia disosiatif, penyebabnya lebih psikologis daripada fisik. Kehilangan memori biasanya dikaitkan dengan pengalaman stres atau trauma emosional, seperti pemerkosaan atau pelecehan masa kanak-kanak. Ini bisa berupa hilangnya ingatan hanya untuk satu segmen kecil waktu, atau bisa juga melibatkan hilangnya ingatan pribadi masa lalu seseorang. Misalnya, seorang tentara mungkin dapat mengingat pernah berperang tetapi tidak dapat mengingat menyaksikan seorang teman terbunuh, atau seseorang mungkin melupakan seluruh hidupnya. Amnesia disosiatif dapat terjadi dengan atau tanpa fugue. Kata Latin fugere berarti “flight” dan merupakan kata asal istilah fugue. Fugue disosiatif terjadi ketika seseorang tiba-tiba melakukan perjalanan jauh dari rumah (penerbangan) dan setelah itu tidak dapat mengingat perjalanan atau bahkan informasi pribadi seperti identitas. “Flight” seperti itu biasanya terjadi setelah trauma emosional dan lebih sering terjadi pada saat bencana atau perang.

Dissociative Identity Disorder: How Many Am I?

Mungkin gangguan disosiatif yang paling kontroversial adalah dissociative identity disorder (DID), dikenal sebagai gangguan kepribadian ganda. Dalam kelainan ini, seseorang tampaknya mengalami setidaknya dua atau lebih kepribadian berbeda yang ada dalam satu tubuh. Mungkin ada kepribadian "inti", yang biasanya tidak tahu apa-apa tentang kepribadian lain. Fugues biasa terjadi pada gangguan identitas disosiatif, kepribadian inti mengalami keresahan saat bangun di tempat yang tidak dikenal atau ketika orang yang memanggilnya dengan nama lain.

Causes of Dissociative Disorders

Teori psikodinamik melihat penindasan terhadap pikiran dan perilaku yang mengancam atau tidak dapat diterima sebagai defense mechanism, dan gangguan disosiatif secara khusus tampaknya memiliki elemen represi yang besar. Dalam pandangan psikodinamik, kehilangan ingatan atau pemutusan kesadaran seseorang dari peristiwa stres atau traumatis bersifat adaptif dalam mengurangi rasa sakit emosional.
Penjelasan kognitif dan perilaku untuk gangguan disosiatif itu berhubungan. Orang tersebut mungkin merasa bersalah, malu, atau cemas ketika memikirkan pengalaman atau pikiran yang mengganggu dan mulai menghindari memikirkannya. “Penghindaran pikiran” ini diperkuat secara negatif oleh pengurangan kecemasan dan perasaan tidak menyenangkan dan akhirnya akan menjadi kebiasaan untuk “tidak memikirkan” hal-hal ini. Contohnya seperti apa yang dilakukan banyak orang saat menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan, seperti suntikan atau prosedur yang menyakitkan. Mereka "memikirkan hal lain" dalam melakukan itu, mereka dengan sengaja tidak memikirkan apa yang sedang terjadi pada mereka saat ini dan pengalaman sakitnya berkurang. Orang dengan gangguan disosiatif mungkin lebih baik dalam melakukan "not thinking" seperti ini daripada orang lain.

Mood Disorder: The Effect Of Affect

Gangguan mood merupakan gangguan emosi dan disebut juga gangguan afektif. Meskipun rentang emosi manusia berkisar dari kesedihan yang dalam intens hingga kebahagiaan yang ekstrem, dalam keadaan normal orang tetap berada di antara kedua ekstrem itu. Ketika stres atau faktor lain mendorong seseorang ke satu ekstrem yang dapat mengakibatkan gangguan mood. Dalam DSM-5, gangguan mood dapat ditemukan di bagian "Bipolar and Related Disorders" atau "Depressive Disorders".

Major Depressive Disorder

Ketika suasana hati yang sangat tertekan datang tiba-tiba dan ada tanpa penyebab eksternal untuk kesedihan, itu disebut gangguan depresi mayor. Depresi berat akan jatuh pada kesedihan yang paling ekstrim. Orang yang menderita gangguan depresi mayor mengalami depresi hampir setiap hari, sedikit atau tidak merasa senang dalam aktivitas apa pun, merasa lelah, sulit tidur atau tidur terlalu banyak, mengalami perubahan nafsu makan dan perubahan berat badan yang signifikan, mengalami rasa bersalah yang berlebihan atau perasaan tidak berharga dan kesulitan berkonsentrasi. Beberapa orang dengan gangguan ini juga menderita delusi dan mungkin mengalami halusinasi. Sebagian besar gejala ini terjadi setiap hari, berlangsung hampir sepanjang hari (American Psychiatric Association, 2013 dalam Cicarelli, 2015).


Beberapa orang dengan depresi mungkin memiliki pikiran untuk mati atau bunuh diri, termasuk upaya bunuh diri. Kematian karena bunuh diri adalah hasil negatif paling serius bagi orang yang mengalami depresi. Ini adalah penyebab utama kematian ketiga di antara orang muda dari usia 15 hingga 24 tahun, dan lebih dari 90 persen bunuh diri dikaitkan dengan gangguan psikologis, seperti depresi. Gangguan depresi mayor adalah gangguan mood yang paling umum didiagnosis dan 1,5 hingga 3 kali lebih mungkin terjadi pada wanita daripada pada pria. Banyak penjelasan yang mungkin telah diajukan untuk perbedaan gender ini, termasuk perbedaan struktur hormonal dari sistem perempuan (menstruasi, perubahan hormonal selama dan setelah kehamilan, menopause, dll.) dan peran sosial berbeda yang dimainkan oleh wanita dalam budaya. Wanita juga cenderung merenungkan, atau berulang kali lebih fokus pada emosi negatif, lebih dari pria dan ini juga dapat menjadi faktor penyebab perbedaan gender yang dilaporkan dalam tingkat prevalensi untuk depresi dan kecemasan (Nolen-Hoeksema, 2012 dalam Cicarelli, 2015). Beberapa orang menemukan bahwa mereka hanya mengalami depresi pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Secara khusus, depresi tampaknya terjadi selama bulan-bulan musim dingin dan hilang dengan datangnya musim semi dan musim panas. Seasonal affective disorder (SAD) adalah gangguan mood yang disebabkan oleh reaksi tubuh terhadap tingkat cahaya yang rendah pada bulan-bulan musim dingin (Cicarelli, 2015).

Bipolar Disorders

Major depressive disorder kadang-kadang disebut sebagai gangguan unipolar karena masalah emosional hanya ada di satu ujung atau "kutub" rentang emosi. Ketika seseorang mengalami periode mood yang dapat berkisar dari depresi berat hingga episode manik (energi dan kegembiraan berlebihan) orang tersebut dikatakan menderita jenis gangguan bipolar. Namun, sementara seseorang mungkin mengalami periode suasana hati di dua ekstrem, dalam beberapa kasus individu mungkin hanya mengalami suasana hati yang berkisar dari normal ke manik, dan mungkin mengalami atau tidak mengalami episode depresi, yang disebut gangguan bipolar I. Dalam episode manik, orang tersebut sangat bahagia atau gembira tanpa alasan nyata untuk menjadi begitu bahagia. Orang tersebut mungkin tampak konyol bagi orang lain dan dapat menjadi agresif jika tidak diizinkan untuk melaksanakan rencana besar (dan terkadang delusi) yang mungkin terjadi pada mania. Berbicara cepat dan melompat dari satu topik ke topik lainnya. Pada gangguan bipolar II, rentang suasana hati normal diselingi dengan episode depresi berat dan episode hipomania, tingkat suasana hati yang meningkat tetapi pada tingkat di bawah atau kurang parah daripada mania penuh.

Penyebab Gangguan Mood

Teori perilaku menghubungkan depresi dengan ketidakberdayaan yang dipelajari, sedangkan ahli teori kognitif sosial menunjukkan distorsi pemikiran. Dalam pandangan kognitif sosial, orang yang depresi terus- menerus memiliki pikiran negatif yang merusak diri sendiri tentang diri mereka sendiri, yang semakin menekan mereka dalam keputusasaan. Ketidakberdayaan yang dipelajari telah dikaitkan dengan peningkatan pemikiran yang merusak diri sendiri dan depresi dalam studi dengan orang- orang yang telah mengalami peristiwa menyakitkan. Hubungan ini tidak selalu berarti bahwa pikiran negatif menyebabkan depresi; mungkin depresi meningkatkan kemungkinan pikiran negatif (Gotlib et al., 2001 dalam Cicarelli, 2015). Sebuah studi menemukan bahwa ketika membandingkan remaja yang mengalami depresi dengan yang tidak, kelompok yang mengalami depresi menghadapi faktor risiko yang secara khusus terkait dengan lingkungan kognitif sosial, seperti menjadi perempuan atau anggota etnis minoritas, hidup dalam kemiskinan, penggunaan obat-obatan secara teratur. (termasuk tembakau dan alkohol), dan terlibat dalam perilaku nakal (Costello et al., 2008 dalam Cicarelli, 2015). Sebaliknya, mereka yang berada dalam kelompok remaja non-depresi lebih cenderung berasal dari rumah tangga dengan dua orang tua; memiliki harga diri yang lebih tinggi; dan merasa terhubung dengan orang tua, teman sebaya, dan sekolah. Ketidakberdayaan yang dipelajari dalam menghadapi diskriminasi, prasangka, dan kemiskinan dapat dikaitkan dengan depresi pada remaja ini.
Penjelasan biologis tentang suasana hati yang tidak teratur berfokus pada efek bahan kimia otak seperti serotonin, norepinefrin, dan dopamin; obat-obatan yang digunakan untuk mengobati depresi dan mania biasanya mempengaruhi tingkat ketiga neurotransmiter ini, baik sendiri atau dalam kombinasi (Cicarelli, 2015).
Gen juga berperan dalam gangguan ini. Fakta bahwa gangguan mood yang lebih parah bukanlah reaksi terhadap sumber stres atau kecemasan dari luar, melainkan tampaknya berasal dari dalam tubuh orang itu sendiri, bersama dengan kecenderungan gangguan mood yang muncul pada individu secara genetik pada tingkat yang lebih tinggi. Lebih dari 65 persen orang dengan gangguan bipolar memiliki setidaknya satu kerabat dekat dengan gangguan bipolar atau depresi berat. Studi kembar telah menunjukkan bahwa jika satu kembar identik mengalami depresi mayor atau gangguan bipolar, kemungkinan kembar lainnya juga akan mengembangkan gangguan mood sekitar 40 sampai 70 persen (Muller-Oerlinghausen et al., 2002 dalam Cicarelli, 2015).


Schizophrenia Disorder

Schizophrenia dulu dikenal dengan nama demensia praecox, dalam bahasa Latin berarti “keluar dari pikiran seseorang sebelum waktunya”. Kemudian seorang psikiater Swiss yang bernama Eugen Bleuler, mengubah nama demensia praecox menjadi Schizophrenia untuk memberikan gambaran yang lebih baik mengenai pembagian (schizo-) di dalam otak (phren) antara pikiran, perasaan, dan perilaku yang terjadi pada orang yang menderita kelainan ini (Bleuler, 1911; Moller & Hell, 2002). Schizophrenia dapat didefinisikan sebagai sebuah gangguan psikotik yang bertahan lama (melibatkan putus hubungan yang parah dengan kenyataan), dimana tidak adanya kemampuan untuk membedakan hal yang nyata dari fantasi serta adanya gangguan dalam pemikiran, emosi, perilaku, dan persepsi.

Gejala (Symptoms)

Dalam mendeskripsikan gejala skizofrenia, bisa dilakukan dengan mengelompokkannya berdasarkan caranya berhubungan dengan fungsi normal. Gejala positif tampak mencerminkan kelebihan atau distorsi fungsi normal, seperti halusinasi dan delusi. Gejala negatif tampak mencerminkan penurunan fungsi normal, seperti perhatian yang buruk atau kurangnya pengaruh (American Psychiatric Association, 2013). Skizofrenia mencakup beberapa jenis gejala. Gejala skizofrenia yang umum adalah gangguan dalam berfikir (delusi). Delusi adalah keyakinan tentang dunia yang dipegang oleh penderita yang cenderung tidak tergoyahkan bahkan dihadapan bukti yang jelas menyangkal delusi penderita tersebut. Beberapa jenis delusi yang umum pada penderita skizofrenia :
  • Delusions of Persecution. Delusi penganiayaan, dimana kepercayaan bahwa orang lain mencoba menyakiti mereka dengan cara tertentu;
  • Delusions of Reference. Delusi referensi, dimana kepercayaan bahwa orang lain seperti karakter televisi atau bahkan karakter dalam sebuah buku secara khusus berbicara dengan mereka;
  • Delusions of Influence. Delusi pengaruh, dimana kepercayaan bahwa mereka dikendalikan oleh kekuatan eksternal, seperti iblis, alien, atau kosmik kekuatan;
  • Delusions of Grandeur/Grandiose. Delusi keagungan/kemegahan, dimana kepercaraan bahwa mereka adalah orang-orang yang berkuasa yang bisa menyelamatkan dunia atau mempunyai misi khusus.
 
Terdapat beberapa gejala lain selain delusi yang pantas untuk mendiagnosis seseorang apakah menderita skizofrenia atau tidak, seperti :
  • Disturbed or disorganized thoughts. Dimana penderita skizofrenia akan membuat kata-kata, mengulang kata-kata atau kalimat terus-menerus, merangkai kata-kata berdasarkan suara, dan mengalami gangguan tiba-tiba dalam ucapan dan pikiran. Penderita skizofrenia juga mengalami kesulitan dalam menghubungkan pemikiran mereka secara logis. Penderita skizofrenia juga mengalami kesulitan dalam penyaringan informasi dan stimulasi yang sebenarnya tidak dibutuhkan, menyebabkan mereka tidak mampu untuk fokus pada informasi yang relevan (Asarnow et al, 1991; Luck & Gold, 2008).
  • Hallucinations (Halusinasi). Penderita skizofrenia juga mungkin mengalami halusinasi, dimana mereka mendengar suara atau melihat sesuatu/orang yang sebenarnya tidak ada disana. Mendengar suara sebenarnya merupakan gejala umum dan menjadi kunci dalam menegakkan diagnosis skizofrenia (Kuhn & Nasar, 2001; Nasar, 1998).
  • Changes in Mood (Gangguan Emosional). Termasuk ciri utama seseorang mengalami skizofrenia. Flat Affect merupakan sebuah kondisi dimana orang tersebut menunjukkan sedikit emosi, atau bahkan tidak ada emosi sama sekali. Namun, emosi juga bisa berlebihan bahkan tidak sesuai dengan keadaan, misalnya ketika seseorang berada dalam suasana yang mengharuskannya menangis atau sedih, namun sebaliknya, ia malah tertawa.
  • Disorganized or Odd Behavior (perilaku tidak teratur atau aneh). Penderita skizofrenia mungkin tidak menanggapi dunia luar dan juga tidak bergerak sama sekali, sering mempertahankan postur tubuh yang aneh selama berjam-jam atau bergerak liar dengan sangat gelisah. Dua hal ekstrim, gerakan yang sangat berlebihan atau tidak ada sama sekali disebut sebagai Catatonia.
 
Menurut American Psychiatric Association (2013), untuk mendiagnosis skizofrenia, setidaknya dua atau lebih dari gejala diatas harus sering muncul setidaknya selama 1 bulan, baik itu gejala delusi, halusinasi, bicara tidak teratur, perilaku tidak teratur (katatonik), dan setidaknya salah satu dari dua gejala tersebut adalah delusi, halusinasi, atau ucapan tidak teratur.

Penyebab Skizofrenia (Causes of Schizophrenia)

Dalam melihat penyebab skizofrenia, kemungkinan penyebab besar terjadinya skizofrenia adalah kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Pengaruh genetik terhadap skizofrenia seperti pengaruh prenatal seperti ibu mengalami infeksi virus selama kehamilan, peradangan di otak, pengaruh kimiawi (dopamine, GABA, glutamate, dan neurotransmitter lainnya), serta cacat struktural otak (lobus frontal, kerusakan neuron, dll) sebagai penyebab skizofrenia (Brown & Derkits, 2010). Dopamin pertama kali dicurigai saat pengguna amfetamin mulai menunjukkan gejala psikotik seperti skizofrenia. Salah satu efek samping penggunaan amfetamin yaitu meningkatkan pelepasan dopamin di otak. Korteks prefrontal orang dengan skizofrenia telah terbukti menghasilkan tingkat dopamin lebih rendah dari biasanya (Harrison, 1999). Jika skizofrenia disebabkan oleh faktor lingkungan, mungkin saja tingkat skizofrenia akan sangat bervariasi dari budaya ke budaya. Ada beberapa variasi untuk imigran dan anak-anak imigran, tetapi sekitar 7 hingga 8 dari 1.000 individu akan mengembangkan skizofrenia dalam hidup mereka, terlepas dari budayanya (Saha et al., 2005).

Berdasarkan studi keluarga kembar telah memberikan bukti kuat bahwa gen memang menjadi penyebab utama skizofrenia. Risiko tertinggi untuk mengalami skizofrenia jika seseorang memiliki kerabat darah dengan gangguan tersebut dihadapi oleh kembar identik, yang 100% berbagi materi genetik dengan faktor risiko sekitar 50%. Sedangkan kembar non-identik yang berbagi sekitar 50% materi genetik memiliki sekitar 17% risiko, sama dengan anak yang salah satu orang tuanya memiliki skizofrenia. Stress-Vulnerability Model (Model Kerentanan Stress) yaitu model yang mengasumsikan bahwa orang dengan “penanda” genetik untuk skizofrenia memiliki kerentanan fisik terhadap gangguan tersebut namun skizofrenia tersebut tidak akan berkembang kecuali jika mereka terkena tekanan lingkungan atau emosional pada masa kritis dalam perkembangannya, misalnya masa pubertas (Harrison, 1999).


Personality Disorder

Gangguan kepribadian (personality disorders) sedikit berbeda dengan gangguan psikologis lain, dimana tidak hanya mempengaruhi satu aspek kehidupan orang tersebut, tetapi mempengaruhi seluruh penyesuaian hidup orang tersebut. Gangguan itu terjadi pada kepribadian itu sendiri, bukan salah satu aspeknya. Pada gangguan kepribadian, seseorang memiliki pola perilaku yang terlalu kaku dan maladaptif dalam berhubungan dengan orang lain (American Psychiatric Association, 2013). DSM-5 mencantumkan sepuluh tipe utama gangguan kepribadian di tiga kategori dasar (American Psychiatric Association, 2013): mereka dimana orang-orang dianggap aneh atau eksentrik oleh orang lain (Paranoid, Skizoid, Schizotypal), yang didalamnya perilaku orang tersebut sangat dramatis, emosional, atau tidak menentu (Antisosial, Borderline, Histrionic, Narcissistic), dan emosi utamanya adalah kecemasan atau ketakutan (Menghindar, Bergantung, Obsesif-Kompulsif). Kategori ini diberi label Cluster A, Cluster B, dan Cluster C.

Antisocial Personality Disorders

Kepribadian antisosial gangguan (ASPD). Orang dengan ASPD secara harfiah “melawan masyarakat”. Orang antisosial mungkin terbiasa melanggar hukum, tidak mematuhi aturan, berbohong, dan menggunakan orang lain tanpa khawatir tentang hak atau perasaan mereka. Orang dengan ASPD mungkin mudah tersinggung atau agresif. Orang dengan ASPD ini tampak acuh tak acuh. Mereka impulsive, tidak bisa menepati komitmen baik secara sosial maupun dalam pekerjaan mereka, dan cenderung sangat egois serta manipulative. Ada perbedaan jenis kelamin yang pasti pada ASPD dengan lebih banyak laki-laki yang didiagnosis dengan gangguan ini daripada perempuan (American Psychiatric Association, 2013). Kebiasaan mengabaikan kedua hukum dan hak orang lain mungkin bingung dengan istilah sosiopat atau psikopat. Meskipun beberapa orang dengan kepribadian psikopat mungkin didiagnosis dengan ASPD, sebagian besar individu dengan ASPD bukanlah psikopat.

Borderline Personality Disorders

Orang dengan gangguan kepribadian ambang (BLPD) memiliki hubungan dengan orang lain yang intens dan relatif tidak stabil. Mereka impulsive, memiliki rasa diri yang tidak stabil dan sangat takut ditinggalkan. Tujuan hidup, pilihan karir, persahabatan, dan bahkan perilaku seksual dapat berubah dengan cepar dan dramatis. Yang membuat individu dengan BLPD berbeda adalah pola penghancuran diri, kesepian kronis, dan kemarahan yang mengganggu dalam hubungan dekat (American Psychiatric Association, 2013). Frekuensi gangguan ini pada wanita adalah hampir tiga  kali lebih besar daripada pria (American Psychiatric Association, 2013).

Penyebab Gangguan Kepribadian (Causes of Personality Disorders)

Ahli teori perilaku kognitif berbicara tentang bagaimana perilaku tertentu dapat dipelajari dari waktu ke waktu melalui proses penguatan, pembentukan, dan pemodelan. Penjelasan kognitif lebih melibatkan sistem kepercayaan yang dibentuk oleh orang-orang yang memiliki gangguan kepribadian, seperti paranoid, sangat mementingkan diri sendiri, dan ketakutan karena tidak mampu mengatasi kepribadiannya sendiri.
Terdapat beberapa bukti faktor genetik pada gangguan kepribadian (Reichborn Kjennerud, 2008). Kerabat dekat biologis penderita gangguan seperti antisosial, schizotypal, dan borderline lebih mungkin mengalami gangguan ini. Studi adopsi anak-anak yang orang tua kandungnya mengalami gangguan kepribadian antisosial menunjukkan peningkatan risiko untuk itu gangguan pada anak-anak tersebut, meskipun dibesarkan di lingkungan yang berbeda dengan cara yang berbeda orang (American Psychiatric Association, 2013).
Kepribadian antisosial secara emosional tidak responsive terhadap situasi stress atau mengancam bila dibandingkan dengan orang lain, yang mungkin menjadi salah satu alasan bahwa mereka tidak takut tertangkap (Arnett et al, 1997). Gangguan dalam hubungan dan komunikasi juga dikaitkan dengan gangguan kepribadian, khususnya gangguan kepribadian antisosial. Pelecehan masa kecil, penelantaran, pola asuh yang terlalu ketat, terlalu protektif mengasuh anak, dan penolakan orang tua semuanya telah diajukan sebagai penyebab yang mungkin membuat gambaran perkembangan gangguan kepribadian yang rumit. Bisa dikatakan bahwa banyak faktor yang sama (genetika, hubungan sosial, dan pola asuh) yang membantu membuat kepribadian biasa menjadi tidak teratur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#10 Psikologi Sosial

Semester 2   SOCIAL PSYCHOLOGY Psikologi sosial adalah ilmu tentang proses perkembangan intelektual atau mental manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, psikologi sosial mempelajari topik yang mencakup perilaku manusia dalam konteks sosial. Kemudian kondisi interaksi sosial tidak hanya dipengaruhi oleh proses psikologis tetapi juga oleh kondisi lingkungan.  SOCIAL INFLUENCE Conformity (Konformitas)           Konformitas adalah perubahan pilihan, perilaku, ataupun tindakan karena mengikuti pilihan atau perilaku orang lain ataupun standar yang berlaku. Menurut David O'sear dan Peplau (1985), konformitas adalah sikap dari suatu individu yang dipengaruhi oleh individu yang lainnya. Penelitian tentang konformitas dilakukan oleh Solomon Asch pada tahun 1951. Ia melakukan penelitian dengan meminta peserta berkumpul dalam satu ruangan dan mereka diberitahu bahwa penelitian dilakukan dengan visual. Disediakan sebuah garis standar dan tig...

#4 Learning

Semester 2  LEARNING A. Definisi Learning               Belajar adalah ketika kita mempelajari sesuatu, ketika belajar bagaimana melakukan sesuatu. Belajar adalah setiap perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya membaca, menulis dan sebagainya serta belajar itu akan lebih baik jika subjek mengalami dan melakukannya (Sardiman, 2008). Belajar sebenarnya adalah proses mengingat, karena tanpa kemampuan mengingat, orang tidak dapat mempelajari apa pun.               Tidak semua perubahan di raih dengan pembelajaran. Perubahan seperti bertambahnya tinggi badan atau ukuran otak adalah jenis perubahan lainnya yang dikendalikan oleh cetak biru genetik. Perubahan ini disebut pematangan yang disebabkan oleh biologi, bukan pengalaman. Misalnya, seorang anak yang belajar berjalan tidak h...