Langsung ke konten utama

#11 Sexuality and Gender

Semester 2 

SEXUALITY AND GENDER


Sisi Fisik Seksualitas Manusia

Karakteristik Seks Primer dan Sekunder
    Seks Primer merupakan organ seksual berupa struktur yang ada ketika dilahirkan dan berkembang selama pubertas, periode perubahan fisiologis yang terjadi pada organ seksual dan sistem reproduksi selama akhir masa kanak-kanak dan remaja. Sedangkan seks sekunder berkembang selama pubertas dan hanya terlihat secara langsung dalam reproduksi manusia. Karakteristik berfungsi membedakan jantan dan betina dan dapat bertindak sebagai atraktan bagi lawan jenis.

1. Karakteristik Seks Primer dan Sekunder Perempuan
        Karakteristik seks primer adalah karakteristik fisik yang terdapat pada bayi saat lahir. Ciri-ciri pada wanita yaitu vagina, rahim, dan ovarium. Ciri-ciri seks primer terlibat secara langsung dalam reproduksi manusia. 
        Pada wanita, seks sekunder meliputi percepatan pertumbuhan yang dimulai pada usia 10 sampai 12 tahun dan berakhir sekitar 1 tahun setelah siklus menstruasi pertama. Siklus pertama ini dikenal sebagai manarche dan terjadi ketika usia sekitar 12 tahun di negara lebih maju seperti Amerika Serikat. Perubahan lain adalah seperti pembesaran payudara sekitar 2 tahun setelah percepatan pertumbuhan, bertambah lebarnya pinggul yang memungkinkan lewatnya janin di bokong dan paha. Beberapa karakteristik seks sekunder pada wanita merupakan pertumbuhan dan perkembangan dari organ seksual primer.

2. Karakteristik Seks Primer dan Sekunder Laki-laki
        Karakteristik seks pria yang utama adalah penis (organ dimana laki-laki buang air kecil dan mengirimkan sel-sel laki-laki atau sperma.), testis atau kelenjar seks laki-laki, skrotum atau kantong eksternal yang memegang testis, dan kelenjar prostat yaitu kelenjar yang mengeluarkan sebagian besar cairan yang membawa sperma.
        Karakteristik seks sekunder dari seorang laki-laki adalah seperti suara mulai berat, munculnya rambut di wajah, dada, dan kemaluan, serta perkembangan tekstur kulit yang lebih kasar. Masa pubertas laki-laki terjadi lebih lambat 2 tahun dari masa pubertas perempuan, tetapi pertumbuhan pada laki-laki akan terus terjadi sampai masa remaja. Selain itu, pertumbuhan tinggi badan laki-laki lebih cepat daripada perempuan.

The Psychological Side of Human Sexuality: Gender

    Gender didefinisikan sebagai aspek psikologis maskulin atau feminim dan dipengaruhi oleh budaya, kepribadian individu, dan identitas diri (Cicarelli and White, 2015).

1. Identitas Gender
        Peran gender adalah ekspektasi budaya terhadap perilaku seseorang yang dianggap sebagai laki-laki atau perempuan, termasuk sikap, tindakan, dan sifat yang terkait dengan jenis kelamin tertentu dalam budaya tersebut. Jenis kelamin adalah proses dimana seseorang mempelajari preferensi dan harapan budaya mereka untuk perilaku pria dan wanita. Identitas gender dipengaruhi oleh faktor biologis dan lingkungan (berupa pola asuh dan perilaku pengasuhan anak lainnya), meskipun masih belum pasti yang mana jenis faktor yang lebih mempengaruhi.

a. Pengaruh Psikologi terhadap Gender
                Identitas gender, seperti halnya seks fisik, juga tidak selalu sejelas laki-laki yang maskulin dan perempuan yang feminim. Definisi identitas gender seseorang tidak selalu sesuai dengan penampilan luar mereka atau bahkan kromosom seks yang menentukan apakah mereka laki-laki atau perempuan.  Orang-orang seperti itu yanga biasa dikenal dengan Transgender. Dalam sindrom yang disebut dengan gangguan identitas gender (GID), seseorang merasa bahwa dirinya menempati tubuh dengan jenis kelamin yang salah, seperti seorang pria mungkin merasa bahwa ia sebenarnya ditakdirkan untuk menjadi wanita atau seorang wanita merasa bahwa ia sebenarnya di takdir kan menjadi pria (American Psychiatric Association, 2000).

b. Pengaruh Biologis terhadap Gender
            Sebagian besar peneliti percaya bahwa biologi memiliki peran penting dalam identitas gender seseorang. Selain ciri-ciri eksternal yang jelas dari alat kelamin, ada perbedaan hormon antara pria dan wanita. Beberapa peneliti menanggap bahwa hormon tidak hanya berperan dalam pembentukan organ seksual pada janin, tetapi juga pembentukan perilaku pada bayi yang lebih condong kearah satu gender.
            Dalam suatu penelitian, bayi perempuan terpapar androgen sebelum mereka lahir, misalnya obat penggugur kandungan yang mengandung hormon laki-laki. Ketika kanak-kanak, anak perempuan itu lebih senang bermain bersama anak laki-laki daripada perempuan, mengikuti permainan laki-laki, dan bersikap kasar seperti layaknya laki-laki. Tetapi ketika mereka sudah beranjak dewasa, mereka bersikap lebih perempuan setelah berkeinginan untuk menikah dan menjadi ibu. Oleh karena itu peneliti menemukan bahwa pengasuhan menang atas pengaruh hormonal.

c. Pengaruh Lingkungan terhadap Gender
            Meskipun seorang bayi perempuan sudah diberi androgen sebelum lahir, yang akan bersikap seperti laki-laki, untuk kembali ke  sikap atau sifat feminim sebagaimana perempuan, tentunya ada dorongan atau tekanan dari masyarakat. Pada sebagian budaya barat, seorang lelaki memiliki tekanan menjadi maskulin lebih besar dibanding seorang perempuan untuk feminim. Seperti, ketika perempuan kehilangan sisi feminim nya itu dianggap hal yang tidak benar, tetapi ketika lelaki kehilangan sisi maskulinnya mungkin disebut "banci" itu bahkan lebih hina.

d. Budaya dan Gender
            Budaya seseorang merupakan pengaruh lingkungan. Penelitian yang lebih  baru menunjukkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, telah terjadi perubahan dalam budaya yang memiliki "kepribadian" yang berbeda. Kebudayaan yang lebih individualistik dan memiliki standar hidup yang tinggi memiliki pandangan non-tradisional, terutama pada seorang perempuan. Sedangkan budaya yang kolektif dan memiliki kekayaan yang lebih rendah menunjukkan pandangan yang tradisional, meskipun perempuannya lebih kurang tradisional dibanding laki-laki. Negara dengan pandangan non-tradisional terhadap gender dan perilaku gender adalah Belanda, Jerman, Italia dan Inggris. Sementara untuk negara yang memiliki pandangan tradisional terhadap gender dan perilaku gender adalah ada di kawasan Afrika dan Asia seperti Nigeria, Pakistan, dan Jepang. (Best & Williams, 2001).

2. Pengembangan Peran Gender
        Peran gender merupakan perilaku yang diharapkan dari masing-masing jenis kelamin. Menurut Tobach dan Unger, peran gender adalah perilaku yang diharapkan dari budaya tertentu sebagai manifestasi dari konsep gender, hal ini meliputi sikap, tindakan, dan kepribadian seseorang. Peran gender menentukan perilaku dari seseorang dianggap pantas atau tidak nya serta bagaimana mereka seharusnya diperlakukan.

a. Teori Pembelajaran Sosial
            Teori pembelajaran sosial menekankan melalui pengamatan dan peniruan model, mengaitkan pengembangan peran gender dengan cara tertentu dan meniru perilaku itu. Seorang anak akan cenderung meniru perilaku orang tua nya yang sesama gender. Tidak hanya itu, anak-anak juga akan mengikuti perilaku saudara-saudaranya. Selain keluarga, guru, dan teman sebaya, anak-anak terpapar perilaku laki-laki dan perempuan di televisi dan media lainnya. 

b. Teori Skema Gender
            Teori ini menggabungkan teori pembelajaran sosial dengan perkembangan kognitif. Awalnya, anak akan membangun konsep tertentu berkaitan dengan menjadi "perempuan" atau "laki-laki". Kemudian semakin matang perkembangan otak, anak pun akan mampu mengidentifikasi dirinya dan memperhatikan perilaku anggota dalam skema lainnya. Secara sederhana, teori ini menekankan bahwa perkembangan peran gender didapati dengan memperhatikan perilaku anggota dalam skema tersebut. 
            Misalnya "kucing" anak diberikan penjelasan tentang kucing ini kalau berkaki empat dan punya ekor, setelah melihat kucing secara langsung maka otak si anak tadi otomatis memberikan pengertian yang lebih spesifik tentang kucing tersebut. Begitu pun terhadap jenis kelami. Setelah mereka menerapkan konsep tersebut, mereka akan memperhatikan hal-hal yang dilakukan oleh anak laki-laki atau anak perempuan yang lain, atau memperhatikan perilaku ayah dan ibu mereka yang berbeda.

c. Gender Stereotyping
            Gender stereotyping atau gender stereotip adalah konsep tentang laki-laki atau perempuan yang memberikan berbagai karakteristik kepada mereka atas dasar tidak lebih dari menjadi laki-laki atau perempuan.
            Stereotip gender laki-laki umumnya mencakup ciri-ciri seperti agresif, logis, tegas, tidak emosional, tidak peka, tidak mengasuh, tidak sabar, dan berbakat secara mekanis. Sedangkan stereotip perempuan biasanya mencakup ciri-ciri seperti tidak logis, mudah berubah, emosional, sensitif, mengasuh secara alami, sabar, dan kurang berbakat dalam memahami mesin. Masing-masing stereotip tersebut ada yang baik dan ada yang buruk, hal itu muncul berdasarkan pendapat masyarakat bukan secara biologis yang sebenarnya. Misalnya, tidak semua pria berbakat secara mekanis dan tidak semua wanita mengasuh secara alami. Stereotip positif bahwa  laki-laki bahwa mereka kuat dan protektif pada wanita, menyiratkan bahwa wanita itu lemah dan membutuhkan perlindungan dari laki-laki, sebaliknya stereotip positif wanita bahwa mengasuh secara alami, menyiratkan bahwa laki-laki tidak pandai mengasuh. 
            Androgyny, konsep androgini menggambarkan karakteristik orang yang kepribadiannya mencerminkan karakteristik laki-laki dan perempuan tanpa memandang jenis kelamin. Sehingga memungkinkan mereka untuk fleksibel dalam perilaku sehari-hari dan pilihan karier. Orang Androgini dapat membuat keputusan berdasarkan situasi daripada maskulin atau feminim. Orang-orang yang memasukkan dirinya ke dalam "stereotip gender" seringkali terbatas dalam pilihan untuk memecahkan masalah karena kendala stereotip pada perilaku laki-laki atau perempuan yang pantas. Misalnya seorang pria yang harus membesarkan tiga anaknya yang masih kecil. Jika dia menerima stereotip laki-laki di mata masyarakat yang tidak bisa mengasuh secara alami, dia tidak yakin akan kemampuannya tersebut dan mungkin akan mencari wanita lalu menjalin hubungan untuk memberi anak-anak nya sosok "ibu".

3. Perbedaan Jenis Kelamin
a. Perbedaan Kognitif
            Para peneliti berpendapat bahwa skor perempuan lebih tinggi dalam tes kemampuan verbal daripada laki-laki, dan laki-laki akan mendapatkan skor tinggi dalam keterampilan matematika dan spasial. Hali ini disebabkan oleh perbedaan penggunaan belahan otak oleh laki-laki dan perempuan serta pengaruh hormon. Tetapi hal tersebut tidak lagi pemikiran seperti itu di masyarakat sehingga ketidaksetaraan tersebut tidak ada lagi.

b. Perbedaan Sosial dan Kepribadian
            Perbedaan antara laki-laki dan perempuan dapat dilihat dari cara nya berinteraksi dengan orang lain dan karakteristik mereka berkaitan dengan stereotip gender. Seperti laki-laki sudah diajarkan sejak kecil untuk menjadi kuat dan tidak boleh menangis, sedangkan sejak kecil perempuan diajarkan untuk membentuk keterikatan secara emosional dan lebih terbuka terhadap apa yang mereka rasakan. 


Human Sexual Behavior

1. Respon Seksual
        Menurut Master dan Johnson (1996) ada empat tahap siklus tanggapan seksual dalam penelitian inovatif mereka. Selain itu, transisi antara tahapan tidak harus didefinisikan sebaik deskripsi tahapan yang mungkin tampak dijelaskan dan lamanya waktu yang dihabiskan dalam satu fase dapat bervariasi dari pengalaman ke pengalaman dan orang ke orang. 

a. Phase 1 : Excitement
Excitement merupakan tahapan awal dari hubungan seksual yang bisa berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa jam. Dalam Excitement terjadi peningkatan secara bertahap pada rangsangan seksual. Pada fase ini wanita akan mengalami hal berikut: dinding vagina berkeringat atau disebut juga sebagai Lubrikasi Vagina; expansi bagian dalam rongga vagina; dan pada pembesaran klitoris serta labia terjadi peningkatan. Sedangkan pada pria yaitu: ereksi penis; penebalan dan elevasi skrotum; dan pembesaran skrotum.

b. Phase 2 : Plateau
Pada tahapan ini, perubahan fisik karena respons seksual. Pada wanita ditandai dengan bagian luar vagina yang membengkak dan memerah akibat peningkatan aliran darah pada bagian tersebut serta menjadi sangat sensitive. Sedangkan pada pria penis menjadi lebih ereksi dan mengeluarkan beberapa tetes cairan. Fase ini biasanya berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit.

c. Phase 3 : Orgasm
Fase ini merupakan fase terpendek yang melibatkan orgasme, yang mana orgasme ini merupakan rangkaian kontraksi otot ritmis. Yang terjadi pada wanita dalam fase ini: kontraksi otot-otot dinding vagina; kontraksi rahim; peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan frekuensi pernapasan; dan wanita membutuhkan waktu yang lebih lama dan lebih banyak rangsangan daripada pria dalam mencapai orgasme. Sedangkan, pria akan mengalami: kontraksi di dalam dan sekitar penis; peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan frekuensi pernapasan; dan ejakulasi.

d. Phase 4 : Resolution
Tahapan ini merupakan tahapan pengembalian kondisi tubuh ke keadaan sebelum hubungan seksual di mulai. Tekanan darah, denyut jantung, dan pernapasan kembali ke kondisi normal. Pada wanita klitoris dan bibir vagina mulai kembali normal dan merapat kembali. Pada pria ereksi hilang, testis turun, dan kantung skrotum kembali normal. Selain itu, pada pria terdapat periode refraktori, yaitu periode waktu dimana pria tidak dapat mencapai ereksi selama lagi dalam rentang waktu beberapa menit sampai beberapa jam tergantung pada usia dari pria tersebut (semakin tua usianya maka periode refraktori semakin lama). Sedangkan pada wanita, tidak memiliki periode tersebut sehingga dapat mengalami orgasme lanjutan jika terus diberikan rangsangan.






2. Berbagai Jenis Perilaku Seksual
a. The Kinsey Study
        Kinsey melakukan studi tentang berbagai jenis perilaku seksual melalui survei tatap muka. Studi yang dilakukan kinsey sangat kontroversial karena sampling/keterwakilan yang digunakan kinsey dipertanyakan. Temuannya mengenai frekuensi perilaku seperti onani, seks anal, dan seks pranikah mengguncang banyak orang, yang rupanya belum siap percaya bahwa banyak orang telah mencoba perilaku seksual alternatif.

b. The Janus Report
           Pada tahun 1993, Dr. Samuel S. Janus dan Dr. Cynthia L. Janus mempublikasikan hasil studi skala besar pertama tentang perilaku seksual manusia sejak penelitian Kinsey dan rekan (1948) dan Masters dan Johnson (1966). Satu temuan dari survei besar-besaran ini adalah bahwa hampir 80% pria dan 70% wanita pernah melakukan masturbasi. Tanggapan lain menunjukkan 19% pria dan hampir 8% wanita pernah melakukan masturbasi, pernah terlibat dalam hubungan seksual penuh pada usia 14 tahun. Hubungan seks pranikah sering dilaporkan pada pria daripada pada wanita (67% untuk pria, 46% untuk wanita), dan pria hampir dua kali lebih mungkin dibandingkan wanita untuk memiliki setidaknya satu di perselingkuhan luar nikah. Lebih dari seperlima responden laki-laki dan hanya sedikit lebih sedikit responden perempuan melaporkan memiliki satu pengalaman homoseksual, tetapi hanya 9% laki-laki dan 5% perempuan yang mengidentifikasi diri mereka sebagai homoseksual. Tentu survei ini memiliki masalah seperti yang dikemukakan sebelumnya.

c. The National Survey of Sexual Health and Behavior
    Pada tahun 2010, para peneliti dari Pusat Promosi Kesehatan Seksual di Universitas Indiana membuat Survei Nasional Kesehatan dan Perilaku Seksual (NSSHB). Berdasarkan sampel yang representatif secara nasional dari 5.865 remaja dan orang dewasa Amerika Serikat berusia 14 hingga 94 tahun, penelitian mereka menghasilkan gambaran yang luas dan komprehensif tentang pengalaman seksual dan perilaku penggunaan kondom. Secara keseluruhan, tingkat tertinggi dilaporkan selama masa remaja, lebih tinggi untuk pria daripada wanita, dan lebih tinggi di antara orang kulit hitam dan Hispanik.


3. Sexual Orientation
        Istilah orientasi seksual mengacu pada ketertarikan dan kasih sayang seksual seseorang terhadap lawan jenis atau jenis kelamin yang sama. Menurut Nevid, Rathus, Greene (2005) “Orientasi seksual berhubungan dengan arah ketertarikan seksual seseorang terhadap anggota gendernya sendiri atau gender lawan”.
a. Kategori Orientasi Seksual
    - Heteroseksual
Kata Yunani hetero berarti "yang lain", jadi heteroseksual berarti "seksual lain" atau ketertarikan pada jenis kelamin lain. Heteroseksual, yaitu di mana orang tertarik secara seksual kepada lawan jenis secara fisik, seperti pria tertarik pada wanita atau sebaliknya. Heteroseksualitas adalah bentuk perilaku seksual yang diterima secara sosial di semua budaya.

    - Homoseksual
Kata Yunani homo berarti "sama". Sulit untuk mendapatkan persentase yang akurat untuk orientasi homoseksual atau ketertarikan seksual kepada anggota jenis kelaminnya sendiri. Masalahnya menyangkut diskriminasi, prasangka, dan penganiayaan yang dihadapi orang homoseksual di sebagian besar budaya, sehingga seorang homoseksual akan berbohong tentang orientasi seksualnya untuk menghindari perlakuan negatif. 

    - Biseksual 
Seorang biseksual bisa jadi laki-laki atau perempuan dan tertarik pada kedua jenis kelamin. Seorang biseksual tidak membuat seseorang menjadi biseks, namun seorang homoseksual menjadikan seseorang homoseksual. Seorang biseksual tidak selalu memiliki hubungan dengan pria dan wanita dalam waktu yang sama.

Ada juga orang yang tidak mengidentifikasi dirinya sebagai heteroseksual, homoseksual, atau biseksual tetapi menganggap diri mereka aseksual. Aseksualitas adalah kurangnya ketertarikan seksual kepada siapa pun, atau kurangnya minat dalam aktivitas seksual. Sebuah studi yang dilakukan di Inggris menunjukkan bahwa sekitar 1 persen populasi Inggris diidentifikasi sebagai aseksual.

b. Perkembangan Orientasi Seksual
        Meskipun heteroseksualitas dapat diterima secara sosial lintas budaya, ada berbagai budaya di mana homoseksualitas dan biseksualitas tidak dianggap dan tidak diterima, sehingga menghadapi prasangka, diskriminasi, pelecehan, dan banyak lagi yang lebih buruk. Kaum muda yang mulai memahami identitas dan orientasi seksualnya tampak mengalami kesulitan besar ketika berhadapan dengan homoseksual, biseksual, atau transgender. Remaja berisiko lebih tinggi daripada rekan heteroseksual untuk penyalahgunaan zat, perilaku berisiko secara seksual, gangguan makan, pemikiran bunuh diri, dan viktimisasi oleh orang lain.
            Jika homoseksualitas merupakan hasil pengalaman dan lingkungan, maka hal ini dapat dianggap sebagai perilaku yang dapat diubah, memberi pilihan untuk menjadi "normal" atau "tidak normal". Jika bersifat biologis, baik melalui pengaruh genetik maupun pengaruh hormonal selama kehamilan, maka dapat dilihat sebagai perilaku yang tidak menjadi pilihan. Jika itu bukan pilihan atau pola perilaku yang dipelajari, maka masyarakat tidak dapat mengharapkan atau menuntut homoseksual untuk mengubah perilaku atau orientasi seksual mereka. Homoseksualitas menjadi masalah keragaman daripada perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial.  Sebuah penelitian baru-baru ini menggunakan teknik pencitraan saraf pada pria dan wanita heteroseksual serta pria dan wanita homoseksual, menemukan bahwa pria dan wanita homoseksual tampak serupa secara neurologis jika dibandingkan dengan pria homoseksual dan wanita heteroseksual, yang secara neurologis serupa satu sama lain. 
        Salah satu temuan perilaku yang paling umum tentang homoseksual laki-laki yaitu bahwa mereka secara konsisten feminin sebagai anak-anak. Bailey menetapkan bahwa sekitar ¾ dari anak laki-laki feminin adalah homoseksual di usia dewasa. Bailey dan rekannya Ken Zucker menafsirkan temuan ini sebagai dukungan lebih lanjut untuk landasan biologis orientasi seksual. Tentu, perbedaan perilaku pada masa kanak-kanak bisa jadi hasil dari perhatian dan bentuk penguatan lain dari lingkungan sosial. Sangat sulit memisahkan pengaruh lingkungan pada setiap aspek perilaku biologis. Satu hal yang pasti, tentang apa penyebab orientasi seksual akan terus menimbulkan penelitian dan kontroversi dalam waktu yang lama.



Sexual Health (Kesehatan Seksual Manusia)

Infeksi Seksual Menular (seperti HIV/AIDS)
Infeksi penyakit seksual merupakan akibat dari adanya kegiatan seksual yang kurang atau tidak mengikuti kesehatan organ seksual. Contohnya penyakit sifilis (luka pada daerah kelamin, mulut, atau dubur), gonore (kencing nanah), Human Papillomavirus (HPV), infeksi HIV ataupun AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrom) dan lain sebagainya. Perilaku disfungsi seksual juga bisa menyebabkan infeksi penyakit seksual contohnya penyakit gonore dan sifilis yang dapat disebabkan karena disfungsi seksual di mana penderitanya baru memiliki gairah dan mencapai kepuasan seksual saat menggunakan seks oral atau anal terlalu sering disertai adanya perilaku berganti – ganti pasangan dalam berhubungan. Sehingga perlunya kesadaran diri untuk melakukan hubungan seksual yang baik dan benar serta memperhatikan kesehatan masing – masing pasangan yang berhubungan.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

#10 Psikologi Sosial

Semester 2   SOCIAL PSYCHOLOGY Psikologi sosial adalah ilmu tentang proses perkembangan intelektual atau mental manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, psikologi sosial mempelajari topik yang mencakup perilaku manusia dalam konteks sosial. Kemudian kondisi interaksi sosial tidak hanya dipengaruhi oleh proses psikologis tetapi juga oleh kondisi lingkungan.  SOCIAL INFLUENCE Conformity (Konformitas)           Konformitas adalah perubahan pilihan, perilaku, ataupun tindakan karena mengikuti pilihan atau perilaku orang lain ataupun standar yang berlaku. Menurut David O'sear dan Peplau (1985), konformitas adalah sikap dari suatu individu yang dipengaruhi oleh individu yang lainnya. Penelitian tentang konformitas dilakukan oleh Solomon Asch pada tahun 1951. Ia melakukan penelitian dengan meminta peserta berkumpul dalam satu ruangan dan mereka diberitahu bahwa penelitian dilakukan dengan visual. Disediakan sebuah garis standar dan tig...

#4 Learning

Semester 2  LEARNING A. Definisi Learning               Belajar adalah ketika kita mempelajari sesuatu, ketika belajar bagaimana melakukan sesuatu. Belajar adalah setiap perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya membaca, menulis dan sebagainya serta belajar itu akan lebih baik jika subjek mengalami dan melakukannya (Sardiman, 2008). Belajar sebenarnya adalah proses mengingat, karena tanpa kemampuan mengingat, orang tidak dapat mempelajari apa pun.               Tidak semua perubahan di raih dengan pembelajaran. Perubahan seperti bertambahnya tinggi badan atau ukuran otak adalah jenis perubahan lainnya yang dikendalikan oleh cetak biru genetik. Perubahan ini disebut pematangan yang disebabkan oleh biologi, bukan pengalaman. Misalnya, seorang anak yang belajar berjalan tidak h...