Semester 2
TEORI KEPRIBADIAN
Theories Of Personality
Kepribadian
adalah sesuatu yang unik di mana individu berpikir, bertindak dan merasakan
sepanjang hidup. Kepribadian tidaklah sama dengan karakter dan temperamen,
namun hal ini merupakan bagian penting dari kepribadian. Adapun pengertian
kepribadian yaitu suatu bidang psikologi yang masih relative muda di mana
terdapat beberapa cara untuk menjelaskan sifat-sifat perilaku manusia.
Hippocrates dan Galen menyatakan kepribadian itu terbagi menjadi blood, black
bile, yellow bile and phlegm.
Kepribadian
ini masih sulit diukur secara tepat dan ilmiah, oleh karena itu belum ada
penjelasan tunggal terkait kepribadian. Beberapa perspektif tradisional dalam
teori kepribadiannya itu :
- Perspektif Psikodinamik berawal dari karya Sigmund freud, yang berfokus pada penyebab biologis dari perbedaan kepribadian
- Behaviorist Perspective, pendekatan ini berfokus pada pengaruh lingkungan terhadap perilaku, yang mencakup aspek teori kognitif social dimana interaksi dengan orang lain dan proses pemikiran pribadi juga mempengaruhi pembelajaran dan kepribadian.
- Perspektif Humanistik, berfokus pada peran pengalaman hidup setiap orang yang secara sadar dan pilihan dalam pengembangan kepribadian
- Trait Perspektif, Perspektif ini berbeda dengan yang di atas, karena 3 di atas lebih menjelaskan proses yang menyebabkan kepribadian terbentuk menjadi karakteristik yang unik, sedangkan pada perspektif ini lebih mementingkan hasil akhir karakteristik itu sendiri. Meskipun beberapa ahli teori sifat berasumsi bahwa sifat ditentukan secara biologis, sedangkan yang lain tidak membuat asumsi seperti itu.
Psychodynamic Perspective
Sigmund Freud and The Psychodynamic Perspective
Freud merupakan seorang ahli besar pada abad ke 19 yang memiliki pengaruh pada proses perkembangan ilmiah yang berorientasi pada bagaimana cara manusia memandang dunia dan dirinya sendiri. Freud percaya bahwa mind (pikiran) terdiri dari tiga bagian, yaitu preconscious, conscious, unconscious minds. Unconscious minds (pikiran tak sadar) yang menjadi pusat perhatian freud.Klasifikasi
kehidupan alam mental yang dibagi oleh Sigmund freud :
1. Id
Id merupakan satu-satunya komponen yang dimiliki seseorang sejak lahir yang sepenuhnya merupakan aspek kepribadian tak sadar. Termasuk perilaku naluriah dan primitive . Menurut Freud, id merupakan komponen utama kepribadian karena merupakan sumber utama dari segala energi psikis. Id didorong oleh prinsip kenikmatan (pleasure principle). Dimana id menuntut sebuah kepuasan yang disegerakan dari kebutuhan dan keinginan. Jika tidak terpenuhi akan dapat menimbulkan kecemasan dan ketegangan. Contohnya bayi yang sedang lapar atau haus akan terus menangis apabila tuntutan id tak segera dipenuhi. Untuk mencegah terjadinya ketegangan , id dapat diredakan melalui tindakan refleks dan proses primer. Apabila ketegangan tak berhasil tereduksi, maka struktur kepribadian kedua akan terbentuk.
2. Ego
Ego merupakan komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk memenuhi keinginan id secara realitas objektif dan tepat secara sosial. Ketika tekanan kecemasan berkembang menjadi ketegangan yang berlebihan, maka ego dapat menempuh cara-cara yang ekstrem untuk mereduksi ketegangan. Proses ini disebut sebagai mekanisme pertahanan ego yang meliputi :
Superego merupakan komponen kepribadian terakhir yang dikembangkan. Superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standarisasi secara internal yang berupa moral value dan cita-cita yang diperoleh dari orang tua dan masyarakat. Superego mengusung idealism dan bukan realistisme. Perhatian utamanya adalah sebuah sikap pengambilan keputusan terhadap benar atau salahnya sesuatu. Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua dorongan yang tidak dapat diterima dari dan perjuangan untuk membuat ego bertindak berdasarkan standar dari idealis lebih karena prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, pra sadar dan tidak sadar
- Alam tak sadar (unconscious) tempat terbentuknya atau timbulnya dorongan nafsu, ide yang tanpa disadari berimplikasi terhadap perkataan, perbuatan dan perasaan manusia
- Alam bawah sadar (preconscious) tempat berkumpulnya semua elemen yang tak disadari namun dapat muncul sebagai kesadaran dengan cepat atau agak sukar
- Alam sadar (conscious) yang didefinisikan sebagai elemen mental yang selalu berada dalam kesadaran.
Struktur Kepribadian
Berdasarkan studi ilmiah dari berbagai eksperimen yang dilakukan dan teori yang telah dikemukakan oleh Freud, ia menyatakan teori kepribadian terdiri dari tiga bagian, yaitu:1. Id
Id merupakan satu-satunya komponen yang dimiliki seseorang sejak lahir yang sepenuhnya merupakan aspek kepribadian tak sadar. Termasuk perilaku naluriah dan primitive . Menurut Freud, id merupakan komponen utama kepribadian karena merupakan sumber utama dari segala energi psikis. Id didorong oleh prinsip kenikmatan (pleasure principle). Dimana id menuntut sebuah kepuasan yang disegerakan dari kebutuhan dan keinginan. Jika tidak terpenuhi akan dapat menimbulkan kecemasan dan ketegangan. Contohnya bayi yang sedang lapar atau haus akan terus menangis apabila tuntutan id tak segera dipenuhi. Untuk mencegah terjadinya ketegangan , id dapat diredakan melalui tindakan refleks dan proses primer. Apabila ketegangan tak berhasil tereduksi, maka struktur kepribadian kedua akan terbentuk.
2. Ego
Ego merupakan komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk memenuhi keinginan id secara realitas objektif dan tepat secara sosial. Ketika tekanan kecemasan berkembang menjadi ketegangan yang berlebihan, maka ego dapat menempuh cara-cara yang ekstrem untuk mereduksi ketegangan. Proses ini disebut sebagai mekanisme pertahanan ego yang meliputi :
- Represi, mekanisme ego untuk meredakan kecemasan dengan cara mengubur perasaan yang menyakitkan dari kesadaran meskipun suatu saat dapat muncul dalam bentuk simbolis.
- Proyeksi, mengalihkan rasa kecemasan terhadap orang lain atau sesuatu yang lain.
- Pembentukan reaksi, perilaku defensive yang berupa pernyataan yang kontra terhadap apa yang dirasakan.
- Regresi, perilaku defensive dengan cara kembali kepada masa di mana ia merasa ter fiksasi sebelumnya dan bertingkah laku tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Superego merupakan komponen kepribadian terakhir yang dikembangkan. Superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standarisasi secara internal yang berupa moral value dan cita-cita yang diperoleh dari orang tua dan masyarakat. Superego mengusung idealism dan bukan realistisme. Perhatian utamanya adalah sebuah sikap pengambilan keputusan terhadap benar atau salahnya sesuatu. Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua dorongan yang tidak dapat diterima dari dan perjuangan untuk membuat ego bertindak berdasarkan standar dari idealis lebih karena prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, pra sadar dan tidak sadar
Dengan
begitu banyaknya persaingan, mudah untuk melihat bagaimana mengkategorikan
konflik yang timbul termasuk dalam id , ego dan superego. Freud menggunakan
kekuatan ego sebagai istilah untuk merujuk kepada kemampuan ego untuk berfungsi
meskipun dalam persaingan. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara
efektif mengelola tekanan ini, Sementara mereka dengan terlalu banyak atau
terlalu sedikit kekuatan ego dapat menjadi terlalu keras hati atau mengganggu.
Menurut freud, kunci dari kepribadian yang sehat adalah keseimbangan antara id,
ego dan superego.
Stages Of Personality Development
1.
Oral Stage (Lahir – 18 bulan), pada tahap ini sumber kenikmatan bayi yang
melibatkan aktivitas berorientasi dengan mulut, seperti menghisap, menelan.
2.
Anal Stage (12-18 bulan s/d 3 tahun), pada tahap ini anak mendapatkan kepuasan
seksual dengan menahan atau melepaskan feses. Zona kepuasan adalah daerah anal
dan toilet training.
3. Phalic Stage (3 tahun s/d 6 tahun), pada tahap ini anak menjadi lengket dengan orang tua dari jenis kelamin berlainan dan kemudian mengidentifikasi dengan orang tua berjeniskelamin sama. Pada tahap ini superego berkembang.
4. Latency Stage (6 tahun s/d pubertas), pada tahap ini anak-anak tumbuh dan berkembang secara intelektual, fisik dan social tetapi tidak secara seksual.
5. Genital Stage (Pubertas s/d kedewasaan), pada tahap ini kemunculan kembali dorongan seksual tahap phallic, disalurkan kepada kematangan seksualitas masa dewasa.
3. Phalic Stage (3 tahun s/d 6 tahun), pada tahap ini anak menjadi lengket dengan orang tua dari jenis kelamin berlainan dan kemudian mengidentifikasi dengan orang tua berjeniskelamin sama. Pada tahap ini superego berkembang.
4. Latency Stage (6 tahun s/d pubertas), pada tahap ini anak-anak tumbuh dan berkembang secara intelektual, fisik dan social tetapi tidak secara seksual.
5. Genital Stage (Pubertas s/d kedewasaan), pada tahap ini kemunculan kembali dorongan seksual tahap phallic, disalurkan kepada kematangan seksualitas masa dewasa.
Bagaimana neo-freudian memodifikasi teori freud dan bagaimana teori psikodinamik modern berbeda dari teori freud?
Sekelompok
murid dari Freud dan pengikut dari perspektif psikoanalisis, yang disebut
Neo-Freudians, memodifikasi teorinya dan mengubah focus analisa yaitu :
1.
Carl Gustav Jung, tidak setuju dengan freud tentang sifat dari pikiran bawah
sadar. Jung percaya bahwa alam bawah sadar menyimpan lebih dari sekedar
ketakutan, dorongan, dan ingatan pribadi. Jung percaya bahwa tidak hanya ada
ketidaksadaran pribadi seperti yang dijelaskan oleh freud, tetapi
ketidaksadaran kolektif juga.
2.
Alfred Adler, juga tidak setuju dengan freud tentang pentingnya seksualitas
dalam pengembangan kepribadian. Adler (1954) mengembangkan teori bahwa sebagai
anak-anak muda yang berdaya, semua orang mengembangkan perasaan rendah diri
ketika membandingkan diri orang dewasa yang lebih kuat dan unggul di dunia
mereka. Kekuatan pendorong di balik semua upaya manusia, emosi dan pikiran
bukanlah mencari kesenangan tetapi mencari keunggulan. Adler (1954) juga
mengembangkan teori bahwa urutan kelahiran seorang anak mempengaruhi
kepribadian.
3.
Karen Horney, tidak setuju dengan pandangan freud tentang perbedaan antara pria
dan wanita dan terutama dengan konsep kecemburuan pada penis. Alih-alih
berfokus pada kecemasan dasar yang diciptakan pada seorang anak yang lahir
kedunia yang jauh lebih besar dan lebih kuat dari pada anak itu.
4.
Erik Erikson, juga melepaskan diri dari penekanan freud pada seks, sebagai
gantinya menekankan hubungan sosial yang penting pada setiap tahap kehidupan.
Behaviorist And Social Cognitive Perspective
Tidak
seperti Freud, para ahli behaviorisme memiliki pandangan yang sangat berbeda
tentang kepribadian. Dimana ahli behavioris meneliti dengan berfokus pada
prinsip-prinsip tindakan dan reaksi (stimulus-respons) yang terjadi pada hewan
dan manusia. Dalam proses penelitiannya sendiri, mereka lebih banyak
menggunakan hewan sebagai subyek penelitian dan menggeneralisasikan tindakan
yang dilakukan hewan kepada manusia. Hal ini membuat mereka berpandangan bahwa
kepribadian tidak lebih dari sekedar reaksi atau respons yang ditimbulkan
stimulus sehingga terjadi proses pembiasaan. Para
behavioris mencontohkan dalam sikap pemalu, di mana sejak kecil ia sudah tumbuh
dengan melihat dan menerima perlakuan yang tegas dari orang tuanya. Dalam hal ini
sikap orang tua dijadikan sebagai stimulus, yang apabila anak melanggar akan
diberikan hukuman dan omelan. Hukuman dan omelan ini bisa saja diterima oleh
anak secara negatif, sehingga ia lebih memilih diam, bersembunyi agar tidak
terkena hukuman dan omelan. Dan apabila ini terus berlanjut, maka akan muncul
pembiasaan. Sehingga saat nanti ia bertemu orang yang sama dengan karakter
ibunya atau orang yang lebih dewasa darinya ia akan takut dan malu lalu
bersembunyi.
Bandura’s Reciprocal Determinism And Self-Efficacy
Bandura
(1989) percaya bahwa tiga faktor yang mempengaruhi satu sama lain dalam
menentukan pola perilaku yang membentuk kepribadian: lingkungan, perilaku itu
sendiri, dan faktor pribadi atau kognitif yang dibawa seseorang ke dalam
situasi dari pengalaman sebelumnya. Ketiga faktor ini masing-masing
mempengaruhi dua lainnya dalam hubungan timbal balik, atau memberi dan
menerima. Bandura menyebut hubungan ini determinisme timbal balik. Lingkungan
mencakup lingkungan fisik yang sebenarnya, orang lain yang mungkin hadir atau
tidak, dan potensi penguatan di lingkungan tersebut. Intensitas dan frekuensi
perilaku tidak hanya akan dipengaruhi oleh lingkungan tetapi juga akan
berdampak pada lingkungan tersebut. Orang tersebut membawa ke dalam situasi
respons yang sebelumnya diperkuat (kepribadian, dengan kata lain) dan proses
mental seperti berpikir dan mengantisipasi. Rasa
self-efficacy orang bisa tinggi atau rendah, tergantung pada apa yang telah
terjadi di keadaan di masa lalu (sukses atau gagal), apa yang dikatakan orang
lain tentang kompetensi mereka, dan penilaian mereka sendiri atas kemampuan
mereka. Misalnya, jika Fiona memiliki kesempatan untuk menulis makalah
ekstrakredit untuk meningkatkan nilainya dalam psikologi, dia akan lebih
cenderung melakukannya jika self-efficacy-nya tinggi: Dia mendapatkan nilai
bagus pada makalah semacam itu di masa lalu, gurunya telah memberitahunya bahwa
dia menulis dengan baik, dan dia tahu dia bisa menulis makalah yang bagus.
Menurut Bandura, orang yang self-efficacy tinggi lebih gigih dan berharap untuk
sukses, sedangkan orang yang rendah self-efficacy berharap gagal dan cenderung
menghindari tantangan.
Rotter’s Social Learning Theory: Expectancies
Julian
Rotter (1966, 1978, 1981, 1990) menyusun teori berdasarkan prinsip dasar
motivasi yang diturunkan dari hukum efek Thorndike: Orang termotivasi untuk
mencari penguatan dan menghindari hukuman. Dia memandang kepribadian sebagai
sekumpulan respons potensial yang relatif stabil terhadap berbagai situasi.
Jika di masa lalu, cara merespons tertentu mengarah pada konsekuensi yang
menguatkan atau menyenangkan, cara merespons itu akan menjadi pola respons,
atau bagian dari "kepribadian" seperti yang dilihat oleh ahli teori
pembelajaran. Seperti
Bandura, Rotter (1978, 1981) juga percaya bahwa interaksi faktor akan
menentukan pola perilaku yang menjadi kepribadian seseorang. Bagi Rotter, ada
dua faktor utama yang memengaruhi keputusan seseorang untuk bertindak dengan
cara tertentu dalam situasi tertentu: ekspektasi dan nilai penguatan. Harapan
cukup mirip dengan konsep efikasi diri Bandura yang mengacu pada perasaan
subjektif seseorang bahwa perilaku tertentu akan mengarah pada konsekuensi yang
menguatkan. Harapan yang tinggi untuk sukses mirip dengan rasa kemanjuran diri
yang tinggi dan juga didasarkan pada pengalaman masa lalu dengan kesuksesan dan
kegagalan. Nilai penguatan mengacu pada preferensi individu untuk penguatan
tertentu di atas semua kemungkinan konsekuensi penguatan lainnya. Hal atau
keadaan yang sangat menarik bagi kita memiliki nilai penguatan yang lebih
tinggi daripada penguat lain yang memungkinkan.
Current Thoughts On The Behaviorist And Social Cognitive Views
Behaviorisme
sebagai penjelasan pembentukan kepribadian memiliki keterbatasan. Teori klasik
tidak memperhitungkan proses mental saat menjelaskan perilaku, juga tidak
memberi bobot pada pengaruh sosial pada pembelajaran. Pandangan kognitif sosial
tentang kepribadian, tidak seperti behaviorisme tradisional, memang mencakup
proses sosial dan mental serta pengaruhnya terhadap perilaku. Tidak seperti
psikoanalisis, konsep dalam teori ini dapat dan telah diuji dalam kondisi
ilmiah (Backenstrass et al., 2008; Bandura, 1965; Catanzaro et al., 2000;
DeGrandpre, 2000; Domjan et al., 2000; Skinner, 1989) . Beberapa dari
penelitian ini telah menyelidiki bagaimana ekspektasi orang dapat memengaruhi
kendali mereka atas suasana hati negatif mereka sendiri. Meskipun beberapa
kritikus berpikir bahwa kepribadian dan perilaku manusia terlalu kompleks untuk
dijelaskan sebagai hasil dari kognisi dan rangsangan eksternal yang
berinteraksi, yang lain menunjukkan bahwa sudut pandang ini telah memungkinkan
pengembangan terapi berdasarkan teori pembelajaran yang telah menjadi efektif
dalam mengubah perilaku yang tidak diinginkan.
The Third Force: Humanism And Personality
Teori Person-centered
Teori
ini dikemukakan oleh Carl Rogers. Ia merupakan salah satu ahli psikologi yang
lahir Illionis pada tahun 1902. Ia merupakan salah satu tokoh psikologi aliran
humanistik. Menurut Rogers, konsep diri atau self concept merupakan kesadaran
batin tetap dalam pengenalan diri yang sebenarnya. Hubungan self concept dengan
individu dapat terjadi dalam dua kemungkinan, yaitu congruence dan
incongruence. Congruence adalah situasi individu merasa disayangi, dihargai,
dan merasa stabil antara diri dan lingkungan sekitarnya. Situasi congruence
dapat dirasakan oleh seorang individu apabila menerima sebuah positive regard.
Ada dua jenis positive regard yaitu conditional positive regard dan
unconditional positive regard. Conditional positive regard adalah situasi
dimana individu harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan psotive rgard
tersebut. Misalnya seorang anak yang harus slalu menjadi peringkat kelas agar
disayang oleh kedua orangtuanya. Jika hal ini terjadi terus-menerus, maka
individu akan merasakan incongruency pada dirinya, yaitu situasi dimana
individu tersebut merasa dirinya tidak worth it dengan lingkungan yang ada
disekitarnya. Sedangkan unconditional positive regard adalah situasi dimana
individu tidak perlu melakukan apa-apa untuk mendapatkan regard tersebut.
Teori Kepribadian Abraham Maslow
Abraham
Maslow merupakan tokoh aliran humanistik yang lahir pada 8 Juni 1970. Ia
terkenal dengan “the hierarchy of needs” yang telah ia 12 kemukakan. Pada
hirarki ini terdapat tingkatan-tingkatan yang harus terpenuhi dalam diri
seorang individu. Terdapat lima tingkatan yang di kemukakan oleh Maslow,
diantaranya adalah :
a)
Kebutuhan fisiologis (physiological needs), yaitu kebutuhan yang paling dasar
bagi seorang individu untuk bertahan hidup secara fisik. Contoh dari kebutuhan
fisiologis dalam makan, minum, tidur, tempat tinggal, sex, dan sebagainya.
b)
Kebutuhan akan rasa aman (safety needs), setelah kebutuhan fisiologis
terpenuhi, maka akan muncul keinginan akan rasa aman. Contohnya seperti
terhindar dari rasa cemas, sakit, takut, mendapatkan kehidupan yang tenteram dan
sebagainya.
c)
Kebutuhan sosial (social needs), yaitu di mana individu mulai merasakan
keinginan untuk dicintai, disayangi dan sebagainya.
d)
Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), ketika tiga kebutuhan sebelumnya
sudah terpenuhi, akan muncul rasa ingin mendapatkan penghargaan seperti
berprestasi, dihormati, dihargai, dan sebagainya.
e)
Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization needs), pada level terakhir
terdapat kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Setelah keempat kebutuhan
lainnya terpenuhi, manusia cenderung berusaha untuk menjadi yang lebih baik lagi,
membuktikan dan menunjukkan serta mengembangkan potensi diri yang kita miliki
Teori kepribadian kognitif George A. Kelly
George
A. Kelly merupakan psikolog klinis aliran humanistic yang lahir pada tanggal 28
april 1955 di Perth, Kansas. Teori kepribadian Kelly terikat pada kognitif
seorang individu. Ia menekankan pada cara seseorang mengkontruksi, mengontrol,
dan meramalkan peristiwa di sekitarnya. Konstruk adalah konsep yang digunakan
untuk menterjemahkan dan memetakan tingkah laku. Menurutnya, konstruk tersebut
tersusun atas dua kutub, diantaranya adalah :
- Core (inti), konstruk dasar dari fungsi individu
- Peripheral (pinggir, luar) konstruk yang dapat dirubah tanpa modifikasi mendasar, serius, dan konstruk inti
- Permeable (dapat ditembus), konstruk yang terbuka, dapat menerima element-element yang baru
- Impermeable (tak tembus/tertutup) konstruk ysng menolak element-element baru
- Verbal, konstruk yang mempunyai simbol kata yang konsisten/ajeg Pada proses memandang tingkah laku manusia Kelly tidak berpegangan pada teori motivasi tradisional tetapi berasumsi bahwa proses psikologis seseorang di bantu oleh cara dia mengantisipasi masalah tersebut.
Trait Theories
Bagaimana perspektif sifat mengonseptualisasikan kepribadian?
Teori sifat kurang mementingkan penjelasan untuk perkembangan kepribadian dan perubahan kepribadian dibandingkan dengan penjelasan tentang kepribadian dan memprediksi perilaku berdasarkan deskripsi itu. Trait adalah cara berpikir, merasakan, atau berperilaku yang konsisten dan bertahan lama, dan teori sifat berusaha menggambarkan kepribadian dalam kaitannya dengan ciri-ciri seseorang.Allport
Salah
satu upaya paling awal untuk membuat daftar dan mendeskripsikan sifat-sifat
yang membentuk kepribadian dapat ditemukan dalam karya Gordon Allport (Allport
& Odbert, 1936). Allport dan koleganya H. S. Odbert secara harfiah memindai
kamus untuk kata-kata yang mungkin merupakan sifat, menemukan sekitar 18.000,
kemudian memilahnya menjadi 200 sifat setelah menghilangkan sinonim. Allport
percaya (tanpa bukti ilmiah, bagaimanapun) bahwa ciri-ciri ini secara harfiah
terhubung ke dalam sistem saraf untuk memandu perilaku seseorang di berbagai
situasi yang berbeda dan bahwa "konstelasi" ciri-ciri setiap orang
adalah unik. (Terlepas dari kurangnya bukti Allport, ahli genetika perilaku
telah menemukan dukungan untuk heritabilitas ciri-ciri kepribadian, dan temuan
ini dibahas di bagian selanjutnya dari bab ini.)
Cattell Dan 16pf
Dua
ratus ciri masih merupakan jumlah yang sangat besar. Bagaimana pemberi kerja
dapat menilai kepribadian calon karyawan dengan melihat daftar 200 sifat?
Diperlukan cara yang lebih kompak untuk menggambarkan kepribadian. Raymond
Cattell (1990) mendefinisikan dua jenis sifat sebagai sifat permukaan dan sifat
sumber. Ciri-ciri permukaan seperti yang ditemukan oleh Allport, mewakili
ciri-ciri kepribadian yang mudah dilihat oleh orang lain. Sifat sumber adalah
sifat yang lebih mendasar yang mendasari sifat permukaan. Misalnya, sifat
pemalu, pendiam, dan tidak menyukai orang banyak mungkin semua merupakan sifat
permukaan yang terkait dengan sifat sumber introversi yang lebih mendasar,
kecenderungan untuk menarik diri dari rangsangan yang berlebihan.
The Big Five: Ocean, Or The Five-Factor Model Of Personality
Enam
belas faktor masih cukup banyak untuk dibicarakan ketika berbicara tentang
kepribadian seseorang. Peneliti selanjutnya berusaha untuk mengurangi jumlah
dimensi sifat ke jumlah yang lebih dapat dikelola, dengan beberapa kelompok
peneliti sampai pada kurang lebih lima dimensi sifat yang sama (Botwin &
Buss, 1989; Jang et al., 1998; McCrae & Costa, 1996 ). Kelima dimensi ini
telah dikenal sebagai the big five model dan mewakili deskripsi inti
kepribadian manusia dan satu[1]satunya dimensi yang
diperlukan untuk memahami apa yang membuat kita tergerak
Seperti
yang ditunjukkan pada tabel, kelima dimensi sifat ini dapat diingat dengan
menggunakan akronim OCEAN, di mana setiap huruf merupakan huruf pertama dari
salah satu dari lima dimensi kepribadian.
- Openness (O) Digambarkan sebagai kesediaan seseorang untuk mencoba hal-hal baru dan terbuka terhadap pengalaman baru. Orang yang mencoba mempertahankan status quo dan tidak suka mengubah sesuatu akan mendapat skor rendah pada keterbukaan.
- Conscientiousness (C) mengacu pada organisasi dan motivasi seseorang, dengan orang-orang yang mendapat skor tinggi dalam dimensi ini adalah mereka yang berhati[1]hati dalam menentukan tempat tepat waktu dan juga berhati-hati dengan harta benda. Seseorang yang mendapat nilai rendah pada dimensi ini, misalnya, mungkin selalu terlambat ke acara sosial penting atau meminjam barang dan gagal mengembalikannya atau mengembalikannya dalam kondisi buruk.
- Extraversion (E) adalah istilah yang pertama kali digunakan oleh Carl Jung (1933), yang percaya bahwa semua orang dapat dibagi menjadi dua tipe kepribadian: ekstravert dan introvert. Orang ekstrovert adalah orang yang supel dan mudah bergaul, sedangkan introvert lebih menyendiri dan tidak suka menjadi pusat perhatian.
- Agreeableness (A) mengacu pada gaya emosional dasar seseorang, yang mungkin santai, ramah, dan menyenangkan (pada skala yang paling tinggi) atau pemarah, pemarah, dan sulit untuk diajak bergaul (di kelas bawah).
- Neuroticism (N) mengacu pada ketidakstabilan atau stabilitas emosional. Orang yang terlalu cemas, cemas, dan murung akan mendapat skor tinggi pada dimensi ini, sedangkan mereka yang lebih tenang dan tenang akan mendapat skor rendah.
Robert
McCrae dan Paul Costa mengusulkan bahwa kelima sifat ini tidak saling
bergantung. Dengan kata lain, mengetahui skor seseorang pada ekstraversi tidak
akan memberikan informasi apa pun tentang skor pada empat dimensi lainnya, yang
memungkinkan adanya variasi yang sangat besar dalam deskripsi kepribadian.
Current Thoughts On The Trait Perspective
Beberapa
ahli teori telah memperingatkan bahwa ciri-ciri kepribadian tidak akan selalu
diekspresikan dengan cara yang sama di berbagai situasi. Walter Mischel,
seorang ahli teori kognitif sosial, telah menekankan bahwa ada interaksi
sifat-situasi di mana keadaan tertentu dari setiap situasi tertentu diasumsikan
mempengaruhi cara suatu sifat diekspresikan (Mischel & Shoda, 1995).
Ekstravert yang ramah, misalnya, mungkin tertawa, berbicara dengan orang asing,
dan menceritakan lelucon di sebuah pesta. Orang yang sama itu, jika di
pemakaman, akan tetap berbicara dan terbuka, tetapi lelucon dan tawa kecil
kemungkinannya terjadi. Namun, model lima faktor memberikan pendekatan
dimensional untuk mengklasifikasikan struktur kepribadian (sebagai lawan dari pendekatan
kategorikal), yang konsisten dengan kemungkinan pendekatan alternatif untuk
mendiagnosis gangguan kepribadian yang dibahas dalam edisi terbaru Manual
Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental.
The Biology Of Personality: Behavioral Genetics
Bidang
genetika perilaku dikhususkan untuk mempelajari seberapa banyak kepribadian
seseorang disebabkan oleh sifat-sifat yang diwariskan. Peternak hewan telah
lama mengetahui bahwa pemuliaan selektif hewan tertentu dengan sifat tertentu
yang diinginkan dapat menghasilkan perubahan tidak hanya dalam ukuran, warna
bulu, dan karakteristik fisik lainnya tetapi juga pada temperamen hewan
(Isabel, 2003; Trut, 1999) . Seperti yang dinyatakan sebelumnya dalam bab ini,
temperamen terdiri dari ciri-ciri yang dengannya setiap orang dilahirkan dan,
oleh karena itu, sangat ditentukan oleh biologi. Jika temperamen hewan dapat
dipengaruhi dengan memanipulasi pola pewarisan genetik, maka hanya satu langkah
kecil untuk berasumsi bahwa setidaknya karakteristik kepribadian yang terkait
dengan temperamen pada manusia juga dapat dipengaruhi oleh faktor keturunan.
Peternak
hewan memiliki keunggulan dibandingkan mereka yang mempelajari pengaruh gen
dalam perilaku manusia. Mereka yang membiakkan hewan dapat mengontrol
perkawinan hewan tertentu dan kondisi di mana hewan tersebut dibesarkan.
Penelitian manusia tidak dapat secara etis atau praktis mengembangkan tingkat
kendali itu dan karenanya harus kembali pada "eksperimen" alam dan
kesempatan yang tidak disengaja, studi tentang saudara kembar dan orang yang
diadopsi.
Studi Kembar
Kembar
identik berbagi 100 persen materi genetik mereka, berasal dari satu sel telur
yang telah dibuahi, sedangkan kembar fraternal hanya berbagi sekitar 50 persen
materi genetik mereka, seperti pasangan saudara kandung lainnya. Dengan
membandingkan kembar identik dengan kembar fraternal, terutama jika ditemukan
anak kembar yang tidak dibesarkan di lingkungan yang sama, peneliti dapat mulai
menemukan bukti kemungkinan pengaruh genetik pada berbagai sifat, termasuk
kepribadian. Hasil studi kembar Minnesota telah mengungkapkan bahwa kembar
identik lebih mirip daripada kembar fraternal atau orang yang tidak terkait
dalam kecerdasan, kemampuan kepemimpinan, kecenderungan untuk mengikuti aturan,
dan kecenderungan untuk menjunjung tinggi ekspektasi budaya tradisional
(Bouchard, 1997; Finkel & McGue, 1997). Mereka juga lebih mirip dalam hal
pengasuhan, empati, ketegasan (Neale et al., 1986); dan agresivitas (Miles
& Carey, 1997). Kesamaan ini berlaku bahkan jika si kembar dibesarkan di
lingkungan yang terpisah.
Studi Adopsi
Alat
lain dari ahli genetika perilaku adalah mempelajari anak-anak yang diadopsi dan
keluarga angkat mereka. Jika mempelajari kembar identik secara genetik yang
dibesarkan di lingkungan berbeda dapat membantu peneliti memahami pengaruh
genetik pada kepribadian, maka mempelajari orang-orang yang tidak terkait yang
dibesarkan di lingkungan yang sama akan membantu peneliti menemukan pengaruh
lingkungan. Dengan membandingkan anak adopsi dengan orang tua dan saudara
angkat mereka dan, jika mungkin, dengan orang tua kandung mereka yang belum
membesarkan mereka, para peneliti dapat mengungkap beberapa pengaruh lingkungan
dan genetik yang dibagikan dan tidak dibagikan pada kepribadian. Studi adopsi
telah mengkonfirmasi apa yang telah ditunjukkan oleh studi kembar: Pengaruh
genetik menjelaskan banyak perkembangan kepribadian, terlepas dari lingkungan
bersama atau tidak dibagikan (Hershberger et al., 1995; Loehlin et al., 1985;
Loehlin et al., 1998).
Current Findings
Salah
satu aspek penting dari studi genetik adalah konsep heritabilitas, atau
seberapa banyak suatu sifat dalam suatu populasi dapat dikaitkan dengan
pengaruh genetik, dan sejauh mana variasi genetik individu berdampak pada
perbedaan perilaku yang diamati. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa lima
faktor kepribadian dari model lima faktor memiliki hampir 50 persen tingkat
heritabilitas di beberapa budaya (Bouchard, 1994; Herbst et al., 2000; Jang et
al., 1996; Loehlin, 1992; Loehlin et al., 1998). Hubungan kepribadian dengan
psikopatologi juga sedang diselidiki melalui teknik genetik (Plomin &
Spinath, 2004). Bersama-sama dengan hasil studi kembar Minnesota dan penelitian
lain (Lubinski, 2000; Lykken & Tellegen, 1996; Plomin, 1994), studi genetika
dan kepribadian tampaknya menunjukkan bahwa variasi dalam ciri-ciri kepribadian
sekitar 25 sampai 50 persen diturunkan ( Jang et al., 1998). Ini juga berarti
bahwa pengaruh lingkungan tampaknya menyumbang sekitar setengah dari variasi
dalam ciri kepribadian juga.
Assessment Of Personality
Metode
untuk mengukur atau menilai kepribadian berbeda-beda menurut teori kepribadian
yang digunakan. Namun, psikologis profesional menilai kepribadian klien tidak
berdasarkan satu teoritis tapi lebih memilih untuk melihat eklektik dari
kepribadian. Eklektik tampilan adalah cara memilih bagian dari teori yang untuk
terbaik untuk sebuah tertentu situasi. Faktanya, melihat perilaku dari banyak perspektif
bisa memberikan wawasan tentang orang tersebut dibandingkan hanya dari satu
perspektif. Banyak profesional tidak hanya menggunakan beberapa perspektif
berbeda tetapi juga beberapa teknik penilaian teknik berbeda yang mengikuti.
1.
Interview (wawancara)
- Cenderung tidak terstruktur dan mengalir secara alami dari awal antara klien dan psikolog.
- Masalah dalam wawancara adalah klien dapat berbohong.
- Masalah lainnya yaitu halo efek
2.
Projective Tests (tes proyektif)
- Klien diminta untuk menjelaskan apa yang mereka lihat.
- Tes ini digunakan untuk mengeksplorasi kepribadian klien atau digunakan sebagai alat diagnostik untuk mengungkap masalah dalam kepribadian.
- Masalah tes prokyektif dapat bersifat subyektif, dan menafsirkan jawaban klien sebagai seni.
3.
Rorschach inkblots test
- Dikembangkan pada tahun 1921 oleh psikiater Swiss Hermann Rorschach (ROR-shok).
- Ada 10 noda tinta, 5 tinta hitam dengan latar belakang putih dan 5 tinta warna dengan latar belakang putih.
- Orang-orang yang diuji diminta untuk melihat setiap noda tinta dan hanya mengatakan apa pun yang tampak seperti bagi mereka.
- Digunakan untuk menggambarkan kepribadian, mendiagnosis gangguan mental, dan memprediksi perilaku.
4.
TAT (Thematic Appreciation Test)
- Dikembangkan pada tahun 1935 oleh psikolog Henry Murray dan rekannya.
- TAT terdiri dari 20 gambar, semuanya hitam dan putih, yang diperlihatkan kepada klien.
- Klien diminta untuk menceritakan kisah tentang orang atau orang-orang dalam gambar, yang semuanya dengan sengaja digambarkan dalam situasi yang ambigu
5.
Behavioral assessment (penilaian perilaku)
- Psikolog mengamati klien yang terlibat dalam perilaku sehari-hari.
- Metode yang digunakan adalah skala penilaian dan jumlah frekuensi.
- Masalah penilaian ini tergantung efek pengamat dan bias pengamat.
6.
Personality inventories (persediaan kepribadian)
- Kuesioner yang memiliki daftar pertanyaan standar dan hanya membutuhkan jawaban spesifik tertentu, seperti “ya,” “tidak,” dan “tidak dapat memutuskan”.
- Penilaian ini jauh lebih objektif dan dapat diandalkan daripada tes proyektif.
- Contohnya yaitu the Minnesota Multiphasic Personality Inventory, the Eysenck Personality Questionnaire, the Keirsey Temperament Sorter II, the California Psychological Inventory, the Sixteen Personality Factor Questionnaire.
Keuntungan
- Inventaris di standarisasi.
- Bias pengamat dan bias interpretasi sama sekali tidak mungkin.
- Validitas dan reliabilitas inventaris kepribadian secara umum diakui sangat unggul dibandingkan tes proyektif.
Kelemahan
- Beberapa orang masih dapat memalsukan jawaban mereka
- Sangat mungkin dikenakan pengaruh budaya
- Masalah lain berkaitan dengan sifat manusia itu sendiri.
Menggunakan
teknik statistik yang mencari pengelompokan dan kesamaan dalam data numerik
yang disebut analisis faktor, Cattell mengidentifikasi 16 sifat sumber, dan
meskipun ia kemudian menentukan bahwa mungkin ada 7 sifat sumber lainnya
sehingga total menjadi 23, dia mengembangkan kuesioner penilaiannya, The
Sixteen Personality Factor (16PF) Questionnaire, berdasarkan hanya 16 sifat sumber.
16 sifat sumber ini dilihat sebagai dimensi sifat, atau kontinum, di mana
terdapat dua sifat berlawanan di setiap ujung dengan kisaran derajat yang
mungkin untuk setiap sifat yang dapat diukur sepanjang dimensi. Misalnya,
seseorang yang mencetak skor di dekat ujung "pendiam" dari dimensi
"pendiam / keluar" akan lebih tertutup daripada seseorang yang
mencetak di tengah atau di ujung yang berlawanan.
Komentar
Posting Komentar