Langsung ke konten utama

#12 Teori Kepribadiaan

Semester 2

TEORI KEPRIBADIAN

Theories Of Personality

Kepribadian adalah sesuatu yang unik di mana individu berpikir, bertindak dan merasakan sepanjang hidup. Kepribadian tidaklah sama dengan karakter dan temperamen, namun hal ini merupakan bagian penting dari kepribadian. Adapun pengertian kepribadian yaitu suatu bidang psikologi yang masih relative muda di mana terdapat beberapa cara untuk menjelaskan sifat-sifat perilaku manusia. Hippocrates dan Galen menyatakan kepribadian itu terbagi menjadi blood, black bile, yellow bile and phlegm.
      Kepribadian ini masih sulit diukur secara tepat dan ilmiah, oleh karena itu belum ada penjelasan tunggal terkait kepribadian. Beberapa perspektif tradisional dalam teori kepribadiannya itu :
  • Perspektif Psikodinamik berawal dari karya Sigmund freud, yang berfokus pada penyebab biologis dari perbedaan kepribadian
  • Behaviorist Perspective, pendekatan ini berfokus pada pengaruh lingkungan terhadap perilaku, yang mencakup aspek teori kognitif social dimana interaksi dengan orang lain dan proses pemikiran pribadi juga mempengaruhi pembelajaran dan kepribadian.
  • Perspektif Humanistik, berfokus pada peran pengalaman hidup setiap orang yang secara sadar dan pilihan dalam pengembangan kepribadian
  • Trait Perspektif, Perspektif ini berbeda dengan yang di atas, karena 3 di atas lebih menjelaskan proses yang menyebabkan kepribadian terbentuk menjadi karakteristik yang unik, sedangkan pada perspektif ini lebih mementingkan hasil akhir karakteristik itu sendiri. Meskipun beberapa ahli teori sifat berasumsi bahwa sifat ditentukan secara biologis, sedangkan yang lain tidak membuat asumsi seperti itu.

Psychodynamic Perspective

Sigmund Freud and The Psychodynamic Perspective

Freud merupakan seorang ahli besar pada abad ke 19 yang memiliki pengaruh pada proses perkembangan ilmiah yang berorientasi pada bagaimana cara manusia memandang dunia dan dirinya sendiri. Freud percaya bahwa mind (pikiran) terdiri dari tiga bagian, yaitu preconscious, conscious, unconscious minds. Unconscious minds (pikiran tak sadar) yang menjadi pusat perhatian freud.
Klasifikasi kehidupan alam mental yang dibagi oleh Sigmund freud :
  • Alam tak sadar (unconscious) tempat terbentuknya atau timbulnya dorongan nafsu, ide yang tanpa disadari berimplikasi terhadap perkataan, perbuatan dan perasaan manusia
  • Alam bawah sadar (preconscious) tempat berkumpulnya semua elemen yang tak disadari namun dapat muncul sebagai kesadaran dengan cepat atau agak sukar
  • Alam sadar (conscious) yang didefinisikan sebagai elemen mental yang selalu berada dalam kesadaran.

Struktur Kepribadian

Berdasarkan studi ilmiah dari berbagai eksperimen yang dilakukan dan teori yang telah dikemukakan oleh Freud, ia menyatakan teori kepribadian terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1. Id
    Id merupakan satu-satunya komponen yang dimiliki seseorang sejak lahir yang sepenuhnya merupakan aspek kepribadian tak sadar. Termasuk perilaku naluriah dan primitive . Menurut Freud, id merupakan komponen utama kepribadian karena merupakan sumber utama dari segala energi psikis. Id didorong oleh prinsip kenikmatan (pleasure principle). Dimana id menuntut sebuah kepuasan yang disegerakan dari kebutuhan dan keinginan. Jika tidak terpenuhi akan dapat menimbulkan kecemasan dan ketegangan. Contohnya bayi yang sedang lapar atau haus akan terus menangis apabila tuntutan id tak segera dipenuhi. Untuk mencegah terjadinya ketegangan , id dapat diredakan melalui tindakan refleks dan proses primer. Apabila ketegangan tak berhasil tereduksi, maka struktur kepribadian kedua akan terbentuk.
2. Ego
    Ego merupakan komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk memenuhi keinginan id secara realitas objektif dan tepat secara sosial. Ketika tekanan kecemasan berkembang menjadi ketegangan yang berlebihan, maka ego dapat menempuh cara-cara yang ekstrem untuk mereduksi ketegangan. Proses ini disebut sebagai mekanisme pertahanan ego yang meliputi :
  • Represi, mekanisme ego untuk meredakan kecemasan dengan cara mengubur perasaan yang menyakitkan dari kesadaran meskipun suatu saat dapat muncul dalam bentuk simbolis.
  • Proyeksi, mengalihkan rasa kecemasan terhadap orang lain atau sesuatu yang lain.
  • Pembentukan reaksi, perilaku defensive yang berupa pernyataan yang kontra terhadap apa yang dirasakan.
  • Regresi, perilaku defensive dengan cara kembali kepada masa di mana ia merasa ter fiksasi sebelumnya dan bertingkah laku tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya.
3. Superego 
    Superego merupakan komponen kepribadian terakhir yang dikembangkan. Superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standarisasi secara internal yang berupa moral value dan cita-cita yang diperoleh dari orang tua dan masyarakat. Superego mengusung idealism dan bukan realistisme. Perhatian utamanya adalah sebuah sikap pengambilan keputusan terhadap benar atau salahnya sesuatu. Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua dorongan yang tidak dapat diterima dari dan perjuangan untuk membuat ego bertindak berdasarkan standar dari idealis lebih karena prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, pra sadar dan tidak sadar
    
    Dengan begitu banyaknya persaingan, mudah untuk melihat bagaimana mengkategorikan konflik yang timbul termasuk dalam id , ego dan superego. Freud menggunakan kekuatan ego sebagai istilah untuk merujuk kepada kemampuan ego untuk berfungsi meskipun dalam persaingan. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan ini, Sementara mereka dengan terlalu banyak atau terlalu sedikit kekuatan ego dapat menjadi terlalu keras hati atau mengganggu. Menurut freud, kunci dari kepribadian yang sehat adalah keseimbangan antara id, ego dan superego.

Stages Of Personality Development

1. Oral Stage (Lahir – 18 bulan), pada tahap ini sumber kenikmatan bayi yang melibatkan aktivitas berorientasi dengan mulut, seperti menghisap, menelan.
2. Anal Stage (12-18 bulan s/d 3 tahun), pada tahap ini anak mendapatkan kepuasan seksual dengan menahan atau melepaskan feses. Zona kepuasan adalah daerah anal dan toilet training.
3. Phalic Stage (3 tahun s/d 6 tahun), pada tahap ini anak menjadi lengket dengan orang tua dari jenis kelamin berlainan dan kemudian mengidentifikasi dengan orang tua berjeniskelamin sama. Pada tahap ini superego berkembang.
4. Latency Stage (6 tahun s/d pubertas), pada tahap ini anak-anak tumbuh dan berkembang secara intelektual, fisik dan social tetapi tidak secara seksual.
5. Genital Stage (Pubertas s/d kedewasaan), pada tahap ini kemunculan kembali dorongan seksual tahap phallic, disalurkan kepada kematangan seksualitas masa dewasa.

Bagaimana neo-freudian memodifikasi teori freud dan bagaimana teori psikodinamik modern berbeda dari teori freud?

Sekelompok murid dari Freud dan pengikut dari perspektif psikoanalisis, yang disebut Neo-Freudians, memodifikasi teorinya dan mengubah focus analisa yaitu :
1. Carl Gustav Jung, tidak setuju dengan freud tentang sifat dari pikiran bawah sadar. Jung percaya bahwa alam bawah sadar menyimpan lebih dari sekedar ketakutan, dorongan, dan ingatan pribadi. Jung percaya bahwa tidak hanya ada ketidaksadaran pribadi seperti yang dijelaskan oleh freud, tetapi ketidaksadaran kolektif juga.

2. Alfred Adler, juga tidak setuju dengan freud tentang pentingnya seksualitas dalam pengembangan kepribadian. Adler (1954) mengembangkan teori bahwa sebagai anak-anak muda yang berdaya, semua orang mengembangkan perasaan rendah diri ketika membandingkan diri orang dewasa yang lebih kuat dan unggul di dunia mereka. Kekuatan pendorong di balik semua upaya manusia, emosi dan pikiran bukanlah mencari kesenangan tetapi mencari keunggulan. Adler (1954) juga mengembangkan teori bahwa urutan kelahiran seorang anak mempengaruhi kepribadian.

3. Karen Horney, tidak setuju dengan pandangan freud tentang perbedaan antara pria dan wanita dan terutama dengan konsep kecemburuan pada penis. Alih-alih berfokus pada kecemasan dasar yang diciptakan pada seorang anak yang lahir kedunia yang jauh lebih besar dan lebih kuat dari pada anak itu.

4. Erik Erikson, juga melepaskan diri dari penekanan freud pada seks, sebagai gantinya menekankan hubungan sosial yang penting pada setiap tahap kehidupan.

Behaviorist And Social Cognitive Perspective

    Tidak seperti Freud, para ahli behaviorisme memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang kepribadian. Dimana ahli behavioris meneliti dengan berfokus pada prinsip-prinsip tindakan dan reaksi (stimulus-respons) yang terjadi pada hewan dan manusia. Dalam proses penelitiannya sendiri, mereka lebih banyak menggunakan hewan sebagai subyek penelitian dan menggeneralisasikan tindakan yang dilakukan hewan kepada manusia. Hal ini membuat mereka berpandangan bahwa kepribadian tidak lebih dari sekedar reaksi atau respons yang ditimbulkan stimulus sehingga terjadi proses pembiasaan. Para behavioris mencontohkan dalam sikap pemalu, di mana sejak kecil ia sudah tumbuh dengan melihat dan menerima perlakuan yang tegas dari orang tuanya. Dalam hal ini sikap orang tua dijadikan sebagai stimulus, yang apabila anak melanggar akan diberikan hukuman dan omelan. Hukuman dan omelan ini bisa saja diterima oleh anak secara negatif, sehingga ia lebih memilih diam, bersembunyi agar tidak terkena hukuman dan omelan. Dan apabila ini terus berlanjut, maka akan muncul pembiasaan. Sehingga saat nanti ia bertemu orang yang sama dengan karakter ibunya atau orang yang lebih dewasa darinya ia akan takut dan malu lalu bersembunyi.   

Bandura’s Reciprocal Determinism And Self-Efficacy

    Bandura (1989) percaya bahwa tiga faktor yang mempengaruhi satu sama lain dalam menentukan pola perilaku yang membentuk kepribadian: lingkungan, perilaku itu sendiri, dan faktor pribadi atau kognitif yang dibawa seseorang ke dalam situasi dari pengalaman sebelumnya. Ketiga faktor ini masing-masing mempengaruhi dua lainnya dalam hubungan timbal balik, atau memberi dan menerima. Bandura menyebut hubungan ini determinisme timbal balik. Lingkungan mencakup lingkungan fisik yang sebenarnya, orang lain yang mungkin hadir atau tidak, dan potensi penguatan di lingkungan tersebut. Intensitas dan frekuensi perilaku tidak hanya akan dipengaruhi oleh lingkungan tetapi juga akan berdampak pada lingkungan tersebut. Orang tersebut membawa ke dalam situasi respons yang sebelumnya diperkuat (kepribadian, dengan kata lain) dan proses mental seperti berpikir dan mengantisipasi. Rasa self-efficacy orang bisa tinggi atau rendah, tergantung pada apa yang telah terjadi di keadaan di masa lalu (sukses atau gagal), apa yang dikatakan orang lain tentang kompetensi mereka, dan penilaian mereka sendiri atas kemampuan mereka. Misalnya, jika Fiona memiliki kesempatan untuk menulis makalah ekstrakredit untuk meningkatkan nilainya dalam psikologi, dia akan lebih cenderung melakukannya jika self-efficacy-nya tinggi: Dia mendapatkan nilai bagus pada makalah semacam itu di masa lalu, gurunya telah memberitahunya bahwa dia menulis dengan baik, dan dia tahu dia bisa menulis makalah yang bagus. Menurut Bandura, orang yang self-efficacy tinggi lebih gigih dan berharap untuk sukses, sedangkan orang yang rendah self-efficacy berharap gagal dan cenderung menghindari tantangan.

Rotter’s Social Learning Theory: Expectancies

    Julian Rotter (1966, 1978, 1981, 1990) menyusun teori berdasarkan prinsip dasar motivasi yang diturunkan dari hukum efek Thorndike: Orang termotivasi untuk mencari penguatan dan menghindari hukuman. Dia memandang kepribadian sebagai sekumpulan respons potensial yang relatif stabil terhadap berbagai situasi. Jika di masa lalu, cara merespons tertentu mengarah pada konsekuensi yang menguatkan atau menyenangkan, cara merespons itu akan menjadi pola respons, atau bagian dari "kepribadian" seperti yang dilihat oleh ahli teori pembelajaran. Seperti Bandura, Rotter (1978, 1981) juga percaya bahwa interaksi faktor akan menentukan pola perilaku yang menjadi kepribadian seseorang. Bagi Rotter, ada dua faktor utama yang memengaruhi keputusan seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu dalam situasi tertentu: ekspektasi dan nilai penguatan. Harapan cukup mirip dengan konsep efikasi diri Bandura yang mengacu pada perasaan subjektif seseorang bahwa perilaku tertentu akan mengarah pada konsekuensi yang menguatkan. Harapan yang tinggi untuk sukses mirip dengan rasa kemanjuran diri yang tinggi dan juga didasarkan pada pengalaman masa lalu dengan kesuksesan dan kegagalan. Nilai penguatan mengacu pada preferensi individu untuk penguatan tertentu di atas semua kemungkinan konsekuensi penguatan lainnya. Hal atau keadaan yang sangat menarik bagi kita memiliki nilai penguatan yang lebih tinggi daripada penguat lain yang memungkinkan.

Current Thoughts On The Behaviorist And Social Cognitive Views

Behaviorisme sebagai penjelasan pembentukan kepribadian memiliki keterbatasan. Teori klasik tidak memperhitungkan proses mental saat menjelaskan perilaku, juga tidak memberi bobot pada pengaruh sosial pada pembelajaran. Pandangan kognitif sosial tentang kepribadian, tidak seperti behaviorisme tradisional, memang mencakup proses sosial dan mental serta pengaruhnya terhadap perilaku. Tidak seperti psikoanalisis, konsep dalam teori ini dapat dan telah diuji dalam kondisi ilmiah (Backenstrass et al., 2008; Bandura, 1965; Catanzaro et al., 2000; DeGrandpre, 2000; Domjan et al., 2000; Skinner, 1989) . Beberapa dari penelitian ini telah menyelidiki bagaimana ekspektasi orang dapat memengaruhi kendali mereka atas suasana hati negatif mereka sendiri. Meskipun beberapa kritikus berpikir bahwa kepribadian dan perilaku manusia terlalu kompleks untuk dijelaskan sebagai hasil dari kognisi dan rangsangan eksternal yang berinteraksi, yang lain menunjukkan bahwa sudut pandang ini telah memungkinkan pengembangan terapi berdasarkan teori pembelajaran yang telah menjadi efektif dalam mengubah perilaku yang tidak diinginkan.

The Third Force: Humanism And Personality

Teori Person-centered

    Teori ini dikemukakan oleh Carl Rogers. Ia merupakan salah satu ahli psikologi yang lahir Illionis pada tahun 1902. Ia merupakan salah satu tokoh psikologi aliran humanistik. Menurut Rogers, konsep diri atau self concept merupakan kesadaran batin tetap dalam pengenalan diri yang sebenarnya. Hubungan self concept dengan individu dapat terjadi dalam dua kemungkinan, yaitu congruence dan incongruence. Congruence adalah situasi individu merasa disayangi, dihargai, dan merasa stabil antara diri dan lingkungan sekitarnya. Situasi congruence dapat dirasakan oleh seorang individu apabila menerima sebuah positive regard. Ada dua jenis positive regard yaitu conditional positive regard dan unconditional positive regard. Conditional positive regard adalah situasi dimana individu harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan psotive rgard tersebut. Misalnya seorang anak yang harus slalu menjadi peringkat kelas agar disayang oleh kedua orangtuanya. Jika hal ini terjadi terus-menerus, maka individu akan merasakan incongruency pada dirinya, yaitu situasi dimana individu tersebut merasa dirinya tidak worth it dengan lingkungan yang ada disekitarnya. Sedangkan unconditional positive regard adalah situasi dimana individu tidak perlu melakukan apa-apa untuk mendapatkan regard tersebut.

Teori Kepribadian Abraham Maslow

Abraham Maslow merupakan tokoh aliran humanistik yang lahir pada 8 Juni 1970. Ia terkenal dengan “the hierarchy of needs” yang telah ia 12 kemukakan. Pada hirarki ini terdapat tingkatan-tingkatan yang harus terpenuhi dalam diri seorang individu. Terdapat lima tingkatan yang di kemukakan oleh Maslow, diantaranya adalah :
a) Kebutuhan fisiologis (physiological needs), yaitu kebutuhan yang paling dasar bagi seorang individu untuk bertahan hidup secara fisik. Contoh dari kebutuhan fisiologis dalam makan, minum, tidur, tempat tinggal, sex, dan sebagainya.
b) Kebutuhan akan rasa aman (safety needs), setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi, maka akan muncul keinginan akan rasa aman. Contohnya seperti terhindar dari rasa cemas, sakit, takut, mendapatkan kehidupan yang tenteram dan sebagainya.
c) Kebutuhan sosial (social needs), yaitu di mana individu mulai merasakan keinginan untuk dicintai, disayangi dan sebagainya.
d) Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), ketika tiga kebutuhan sebelumnya sudah terpenuhi, akan muncul rasa ingin mendapatkan penghargaan seperti berprestasi, dihormati, dihargai, dan sebagainya.
e) Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization needs), pada level terakhir terdapat kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Setelah keempat kebutuhan lainnya terpenuhi, manusia cenderung berusaha untuk menjadi yang lebih baik lagi, membuktikan dan menunjukkan serta mengembangkan potensi diri yang kita miliki

Teori kepribadian kognitif George A. Kelly

    George A. Kelly merupakan psikolog klinis aliran humanistic yang lahir pada tanggal 28 april 1955 di Perth, Kansas. Teori kepribadian Kelly terikat pada kognitif seorang individu. Ia menekankan pada cara seseorang mengkontruksi, mengontrol, dan meramalkan peristiwa di sekitarnya. Konstruk adalah konsep yang digunakan untuk menterjemahkan dan memetakan tingkah laku. Menurutnya, konstruk tersebut tersusun atas dua kutub, diantaranya adalah :
  • Core (inti), konstruk dasar dari fungsi individu
  • Peripheral (pinggir, luar) konstruk yang dapat dirubah tanpa modifikasi mendasar, serius, dan konstruk inti
  • Permeable (dapat ditembus), konstruk yang terbuka, dapat menerima element-element yang baru
  • Impermeable (tak tembus/tertutup) konstruk ysng menolak element-element baru
  • Verbal, konstruk yang mempunyai simbol kata yang konsisten/ajeg Pada proses memandang tingkah laku manusia Kelly tidak berpegangan pada teori motivasi tradisional tetapi berasumsi bahwa proses psikologis seseorang di bantu oleh cara dia mengantisipasi masalah tersebut.

Trait Theories

Bagaimana perspektif sifat mengonseptualisasikan kepribadian?

    Teori sifat kurang mementingkan penjelasan untuk perkembangan kepribadian dan perubahan kepribadian dibandingkan dengan penjelasan tentang kepribadian dan memprediksi perilaku berdasarkan deskripsi itu. Trait adalah cara berpikir, merasakan, atau berperilaku yang konsisten dan bertahan lama, dan teori sifat berusaha menggambarkan kepribadian dalam kaitannya dengan ciri-ciri seseorang.

Allport

    Salah satu upaya paling awal untuk membuat daftar dan mendeskripsikan sifat-sifat yang membentuk kepribadian dapat ditemukan dalam karya Gordon Allport (Allport & Odbert, 1936). Allport dan koleganya H. S. Odbert secara harfiah memindai kamus untuk kata-kata yang mungkin merupakan sifat, menemukan sekitar 18.000, kemudian memilahnya menjadi 200 sifat setelah menghilangkan sinonim. Allport percaya (tanpa bukti ilmiah, bagaimanapun) bahwa ciri-ciri ini secara harfiah terhubung ke dalam sistem saraf untuk memandu perilaku seseorang di berbagai situasi yang berbeda dan bahwa "konstelasi" ciri-ciri setiap orang adalah unik. (Terlepas dari kurangnya bukti Allport, ahli genetika perilaku telah menemukan dukungan untuk heritabilitas ciri-ciri kepribadian, dan temuan ini dibahas di bagian selanjutnya dari bab ini.)

Cattell Dan 16pf

    Dua ratus ciri masih merupakan jumlah yang sangat besar. Bagaimana pemberi kerja dapat menilai kepribadian calon karyawan dengan melihat daftar 200 sifat? Diperlukan cara yang lebih kompak untuk menggambarkan kepribadian. Raymond Cattell (1990) mendefinisikan dua jenis sifat sebagai sifat permukaan dan sifat sumber. Ciri-ciri permukaan seperti yang ditemukan oleh Allport, mewakili ciri-ciri kepribadian yang mudah dilihat oleh orang lain. Sifat sumber adalah sifat yang lebih mendasar yang mendasari sifat permukaan. Misalnya, sifat pemalu, pendiam, dan tidak menyukai orang banyak mungkin semua merupakan sifat permukaan yang terkait dengan sifat sumber introversi yang lebih mendasar, kecenderungan untuk menarik diri dari rangsangan yang berlebihan.

The Big Five: Ocean, Or The Five-Factor Model Of Personality

    Enam belas faktor masih cukup banyak untuk dibicarakan ketika berbicara tentang kepribadian seseorang. Peneliti selanjutnya berusaha untuk mengurangi jumlah dimensi sifat ke jumlah yang lebih dapat dikelola, dengan beberapa kelompok peneliti sampai pada kurang lebih lima dimensi sifat yang sama (Botwin & Buss, 1989; Jang et al., 1998; McCrae & Costa, 1996 ). Kelima dimensi ini telah dikenal sebagai the big five model dan mewakili deskripsi inti kepribadian manusia dan satu[1]satunya dimensi yang diperlukan untuk memahami apa yang membuat kita tergerak
Seperti yang ditunjukkan pada tabel, kelima dimensi sifat ini dapat diingat dengan menggunakan akronim OCEAN, di mana setiap huruf merupakan huruf pertama dari salah satu dari lima dimensi kepribadian.
  • Openness (O) Digambarkan sebagai kesediaan seseorang untuk mencoba hal-hal baru dan terbuka terhadap pengalaman baru. Orang yang mencoba mempertahankan status quo dan tidak suka mengubah sesuatu akan mendapat skor rendah pada keterbukaan.
  • Conscientiousness (C) mengacu pada organisasi dan motivasi seseorang, dengan orang-orang yang mendapat skor tinggi dalam dimensi ini adalah mereka yang berhati[1]hati dalam menentukan tempat tepat waktu dan juga berhati-hati dengan harta benda. Seseorang yang mendapat nilai rendah pada dimensi ini, misalnya, mungkin selalu terlambat ke acara sosial penting atau meminjam barang dan gagal mengembalikannya atau mengembalikannya dalam kondisi buruk.
  • Extraversion (E) adalah istilah yang pertama kali digunakan oleh Carl Jung (1933), yang percaya bahwa semua orang dapat dibagi menjadi dua tipe kepribadian: ekstravert dan introvert. Orang ekstrovert adalah orang yang supel dan mudah bergaul, sedangkan introvert lebih menyendiri dan tidak suka menjadi pusat perhatian.
  • Agreeableness (A) mengacu pada gaya emosional dasar seseorang, yang mungkin santai, ramah, dan menyenangkan (pada skala yang paling tinggi) atau pemarah, pemarah, dan sulit untuk diajak bergaul (di kelas bawah).
  • Neuroticism (N) mengacu pada ketidakstabilan atau stabilitas emosional. Orang yang terlalu cemas, cemas, dan murung akan mendapat skor tinggi pada dimensi ini, sedangkan mereka yang lebih tenang dan tenang akan mendapat skor rendah.

    Robert McCrae dan Paul Costa mengusulkan bahwa kelima sifat ini tidak saling bergantung. Dengan kata lain, mengetahui skor seseorang pada ekstraversi tidak akan memberikan informasi apa pun tentang skor pada empat dimensi lainnya, yang memungkinkan adanya variasi yang sangat besar dalam deskripsi kepribadian.

Current Thoughts On The Trait Perspective

Beberapa ahli teori telah memperingatkan bahwa ciri-ciri kepribadian tidak akan selalu diekspresikan dengan cara yang sama di berbagai situasi. Walter Mischel, seorang ahli teori kognitif sosial, telah menekankan bahwa ada interaksi sifat-situasi di mana keadaan tertentu dari setiap situasi tertentu diasumsikan mempengaruhi cara suatu sifat diekspresikan (Mischel & Shoda, 1995). Ekstravert yang ramah, misalnya, mungkin tertawa, berbicara dengan orang asing, dan menceritakan lelucon di sebuah pesta. Orang yang sama itu, jika di pemakaman, akan tetap berbicara dan terbuka, tetapi lelucon dan tawa kecil kemungkinannya terjadi. Namun, model lima faktor memberikan pendekatan dimensional untuk mengklasifikasikan struktur kepribadian (sebagai lawan dari pendekatan kategorikal), yang konsisten dengan kemungkinan pendekatan alternatif untuk mendiagnosis gangguan kepribadian yang dibahas dalam edisi terbaru Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental.

The Biology Of Personality: Behavioral Genetics 

        Bidang genetika perilaku dikhususkan untuk mempelajari seberapa banyak kepribadian seseorang disebabkan oleh sifat-sifat yang diwariskan. Peternak hewan telah lama mengetahui bahwa pemuliaan selektif hewan tertentu dengan sifat tertentu yang diinginkan dapat menghasilkan perubahan tidak hanya dalam ukuran, warna bulu, dan karakteristik fisik lainnya tetapi juga pada temperamen hewan (Isabel, 2003; Trut, 1999) . Seperti yang dinyatakan sebelumnya dalam bab ini, temperamen terdiri dari ciri-ciri yang dengannya setiap orang dilahirkan dan, oleh karena itu, sangat ditentukan oleh biologi. Jika temperamen hewan dapat dipengaruhi dengan memanipulasi pola pewarisan genetik, maka hanya satu langkah kecil untuk berasumsi bahwa setidaknya karakteristik kepribadian yang terkait dengan temperamen pada manusia juga dapat dipengaruhi oleh faktor keturunan.
    Peternak hewan memiliki keunggulan dibandingkan mereka yang mempelajari pengaruh gen dalam perilaku manusia. Mereka yang membiakkan hewan dapat mengontrol perkawinan hewan tertentu dan kondisi di mana hewan tersebut dibesarkan. Penelitian manusia tidak dapat secara etis atau praktis mengembangkan tingkat kendali itu dan karenanya harus kembali pada "eksperimen" alam dan kesempatan yang tidak disengaja, studi tentang saudara kembar dan orang yang diadopsi.

Studi Kembar

    Kembar identik berbagi 100 persen materi genetik mereka, berasal dari satu sel telur yang telah dibuahi, sedangkan kembar fraternal hanya berbagi sekitar 50 persen materi genetik mereka, seperti pasangan saudara kandung lainnya. Dengan membandingkan kembar identik dengan kembar fraternal, terutama jika ditemukan anak kembar yang tidak dibesarkan di lingkungan yang sama, peneliti dapat mulai menemukan bukti kemungkinan pengaruh genetik pada berbagai sifat, termasuk kepribadian. Hasil studi kembar Minnesota telah mengungkapkan bahwa kembar identik lebih mirip daripada kembar fraternal atau orang yang tidak terkait dalam kecerdasan, kemampuan kepemimpinan, kecenderungan untuk mengikuti aturan, dan kecenderungan untuk menjunjung tinggi ekspektasi budaya tradisional (Bouchard, 1997; Finkel & McGue, 1997). Mereka juga lebih mirip dalam hal pengasuhan, empati, ketegasan (Neale et al., 1986); dan agresivitas (Miles & Carey, 1997). Kesamaan ini berlaku bahkan jika si kembar dibesarkan di lingkungan yang terpisah.

Studi Adopsi

    Alat lain dari ahli genetika perilaku adalah mempelajari anak-anak yang diadopsi dan keluarga angkat mereka. Jika mempelajari kembar identik secara genetik yang dibesarkan di lingkungan berbeda dapat membantu peneliti memahami pengaruh genetik pada kepribadian, maka mempelajari orang-orang yang tidak terkait yang dibesarkan di lingkungan yang sama akan membantu peneliti menemukan pengaruh lingkungan. Dengan membandingkan anak adopsi dengan orang tua dan saudara angkat mereka dan, jika mungkin, dengan orang tua kandung mereka yang belum membesarkan mereka, para peneliti dapat mengungkap beberapa pengaruh lingkungan dan genetik yang dibagikan dan tidak dibagikan pada kepribadian. Studi adopsi telah mengkonfirmasi apa yang telah ditunjukkan oleh studi kembar: Pengaruh genetik menjelaskan banyak perkembangan kepribadian, terlepas dari lingkungan bersama atau tidak dibagikan (Hershberger et al., 1995; Loehlin et al., 1985; Loehlin et al., 1998).

Current Findings

Salah satu aspek penting dari studi genetik adalah konsep heritabilitas, atau seberapa banyak suatu sifat dalam suatu populasi dapat dikaitkan dengan pengaruh genetik, dan sejauh mana variasi genetik individu berdampak pada perbedaan perilaku yang diamati. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa lima faktor kepribadian dari model lima faktor memiliki hampir 50 persen tingkat heritabilitas di beberapa budaya (Bouchard, 1994; Herbst et al., 2000; Jang et al., 1996; Loehlin, 1992; Loehlin et al., 1998). Hubungan kepribadian dengan psikopatologi juga sedang diselidiki melalui teknik genetik (Plomin & Spinath, 2004). Bersama-sama dengan hasil studi kembar Minnesota dan penelitian lain (Lubinski, 2000; Lykken & Tellegen, 1996; Plomin, 1994), studi genetika dan kepribadian tampaknya menunjukkan bahwa variasi dalam ciri-ciri kepribadian sekitar 25 sampai 50 persen diturunkan ( Jang et al., 1998). Ini juga berarti bahwa pengaruh lingkungan tampaknya menyumbang sekitar setengah dari variasi dalam ciri kepribadian juga.

Assessment Of Personality 

    Metode untuk mengukur atau menilai kepribadian berbeda-beda menurut teori kepribadian yang digunakan. Namun, psikologis profesional menilai kepribadian klien tidak berdasarkan satu teoritis tapi lebih memilih untuk melihat eklektik dari kepribadian. Eklektik tampilan adalah cara memilih bagian dari teori yang untuk terbaik untuk sebuah tertentu situasi. Faktanya, melihat perilaku dari banyak perspektif bisa memberikan wawasan tentang orang tersebut dibandingkan hanya dari satu perspektif. Banyak profesional tidak hanya menggunakan beberapa perspektif berbeda tetapi juga beberapa teknik penilaian teknik berbeda yang mengikuti.

1. Interview (wawancara) 
  • Cenderung tidak terstruktur dan mengalir secara alami dari awal antara klien dan psikolog.
  • Masalah dalam wawancara adalah klien dapat berbohong.
  • Masalah lainnya yaitu halo efek
2. Projective Tests (tes proyektif)
  • Klien diminta untuk menjelaskan apa yang mereka lihat. 
  • Tes ini digunakan untuk mengeksplorasi kepribadian klien atau digunakan sebagai alat diagnostik untuk mengungkap masalah dalam kepribadian.
  • Masalah tes prokyektif dapat bersifat subyektif, dan menafsirkan jawaban klien sebagai seni.
3. Rorschach inkblots test
  • Dikembangkan pada tahun 1921 oleh psikiater Swiss Hermann Rorschach (ROR-shok).
  • Ada 10 noda tinta, 5 tinta hitam dengan latar belakang putih dan 5 tinta warna dengan latar belakang putih.
  • Orang-orang yang diuji diminta untuk melihat setiap noda tinta dan hanya mengatakan apa pun yang tampak seperti bagi mereka.
  • Digunakan untuk menggambarkan kepribadian, mendiagnosis gangguan mental, dan memprediksi perilaku.
4. TAT (Thematic Appreciation Test)
  • Dikembangkan pada tahun 1935 oleh psikolog Henry Murray dan rekannya. 
  • TAT terdiri dari 20 gambar, semuanya hitam dan putih, yang diperlihatkan kepada klien. 
  • Klien diminta untuk menceritakan kisah tentang orang atau orang-orang dalam gambar, yang semuanya dengan sengaja digambarkan dalam situasi yang ambigu
5. Behavioral assessment (penilaian perilaku)
  • Psikolog mengamati klien yang terlibat dalam perilaku sehari-hari.
  • Metode yang digunakan adalah skala penilaian dan jumlah frekuensi.
  • Masalah penilaian ini tergantung efek pengamat dan bias pengamat.
6. Personality inventories (persediaan kepribadian)
  • Kuesioner yang memiliki daftar pertanyaan standar dan hanya membutuhkan jawaban spesifik tertentu, seperti “ya,” “tidak,” dan “tidak dapat memutuskan”.
  • Penilaian ini jauh lebih objektif dan dapat diandalkan daripada tes proyektif.
  • Contohnya yaitu the Minnesota Multiphasic Personality Inventory, the Eysenck Personality Questionnaire, the Keirsey Temperament Sorter II, the California Psychological Inventory, the Sixteen Personality Factor Questionnaire.
Adapun kelebihan dan kelemahan personality inventories antara lain. 
Keuntungan
  • Inventaris di standarisasi.
  • Bias pengamat dan bias interpretasi sama sekali tidak mungkin.
  • Validitas dan reliabilitas inventaris kepribadian secara umum diakui sangat unggul dibandingkan tes proyektif.
Kelemahan
  • Beberapa orang masih dapat memalsukan jawaban mereka
  • Sangat mungkin dikenakan pengaruh budaya
  • Masalah lain berkaitan dengan sifat manusia itu sendiri. 

    Menggunakan teknik statistik yang mencari pengelompokan dan kesamaan dalam data numerik yang disebut analisis faktor, Cattell mengidentifikasi 16 sifat sumber, dan meskipun ia kemudian menentukan bahwa mungkin ada 7 sifat sumber lainnya sehingga total menjadi 23, dia mengembangkan kuesioner penilaiannya, The Sixteen Personality Factor (16PF) Questionnaire, berdasarkan hanya 16 sifat sumber. 16 sifat sumber ini dilihat sebagai dimensi sifat, atau kontinum, di mana terdapat dua sifat berlawanan di setiap ujung dengan kisaran derajat yang mungkin untuk setiap sifat yang dapat diukur sepanjang dimensi. Misalnya, seseorang yang mencetak skor di dekat ujung "pendiam" dari dimensi "pendiam / keluar" akan lebih tertutup daripada seseorang yang mencetak di tengah atau di ujung yang berlawanan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

#10 Psikologi Sosial

Semester 2   SOCIAL PSYCHOLOGY Psikologi sosial adalah ilmu tentang proses perkembangan intelektual atau mental manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, psikologi sosial mempelajari topik yang mencakup perilaku manusia dalam konteks sosial. Kemudian kondisi interaksi sosial tidak hanya dipengaruhi oleh proses psikologis tetapi juga oleh kondisi lingkungan.  SOCIAL INFLUENCE Conformity (Konformitas)           Konformitas adalah perubahan pilihan, perilaku, ataupun tindakan karena mengikuti pilihan atau perilaku orang lain ataupun standar yang berlaku. Menurut David O'sear dan Peplau (1985), konformitas adalah sikap dari suatu individu yang dipengaruhi oleh individu yang lainnya. Penelitian tentang konformitas dilakukan oleh Solomon Asch pada tahun 1951. Ia melakukan penelitian dengan meminta peserta berkumpul dalam satu ruangan dan mereka diberitahu bahwa penelitian dilakukan dengan visual. Disediakan sebuah garis standar dan tig...

#4 Learning

Semester 2  LEARNING A. Definisi Learning               Belajar adalah ketika kita mempelajari sesuatu, ketika belajar bagaimana melakukan sesuatu. Belajar adalah setiap perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya membaca, menulis dan sebagainya serta belajar itu akan lebih baik jika subjek mengalami dan melakukannya (Sardiman, 2008). Belajar sebenarnya adalah proses mengingat, karena tanpa kemampuan mengingat, orang tidak dapat mempelajari apa pun.               Tidak semua perubahan di raih dengan pembelajaran. Perubahan seperti bertambahnya tinggi badan atau ukuran otak adalah jenis perubahan lainnya yang dikendalikan oleh cetak biru genetik. Perubahan ini disebut pematangan yang disebabkan oleh biologi, bukan pengalaman. Misalnya, seorang anak yang belajar berjalan tidak h...